Belajar dari Schummy

Artikel ini telah terbit di blog kompasiana

Michael Schumacher (Schummy) mengejutkan penggemar F1 dan dunia balap otomotif.  Sejak memutuskan bersedia menggantikan Felipe Massa dalam tim Ferrari, yang celaka dalam kualifikasi GP Hongaria, 25 Juli 2009, semua orang punya harapan besar terhadap Schummy dan F1. Maklum, musim F1 tahun ini cukup banyak kejutan yang sedikit menurunkan gengsi gelaran olahraga super mahal itu.  Pertama adalah policy hambatan biaya yang digagas FIA yang sempat menimbulkan perpecahan diantara peserta.  Kedua, munculnya fenomena tim Brawn, yang bukan pabrikan otomotif, yang sementara mengungguli klasemen konstruktor.
Kesediaan Schummy tampil untuk Ferrari dalam lomba di Valencia, 22 Agustus ini, membuat iklim persaingan memanas.  Jenson Button dan Hamillton menyambut comeback si juara dunia tujuh kali dengan antusias.  Pengamat otomotif yakin, sekalipun sudah berusia 40 tahun, Schummy masih bisa bersaing dengan pembalap muda.  Ia dianggap masih punya rasa ‘lapar’ untuk meraih kemenangan.
Schummy adalah sosok hero dalam olah raga.  Selain piawai membalap, ia trampil main bola, berkuda dan balap motor. Schummy melakukan serangkaian persiapan untuk tampil di Valencia. Ia sudah berlatih dengan mobil Ferrari 2007, dengan hasil raihan waktu lap yang meyakinkan.
Namun, bagai petir di siang hari.  Schummy tiba-tiba membatalkan rencana comeback-nya.  Setelah berlatih sekian kali dengan mobil Ferrari, ia merasa kesakitan pada lehernya akibat cedera yang diderita saat kecelakaan balap motor Desember tahun 2008.
Ada tiga hal yang dapat dipetik dari fenomena itu.  Pertama, kedalaman pemahaman.  Schummy memahami bahwa balapan F1 adalah sistem yang terdiri beragam sub-subsistem sport, pembalap, teknologi otomotif/pabrikan, hiburan/entertainment, TV, sponsor, penggemar, safety,  manajemen, dan jasa-jasa pendukungnya.  Schummy merasa dibesarkan oleh sistem itu.  Semasa membalap, ia juga dipercaya sebagai ketua yang mewakili kepentingan para pembalap.  Ia telah memperoleh penghargaan, rasa hormat, dan berbagai fasilitas dari sistem itu, atas semua kerja kerasnya.
Dengan batal comeback, Schummy nampaknya ingin menempatkan dirinya sebaik-baiknya di dalam sistem itu. Ia mementingkan sistem di atas ego pribadinya. Ia tidak membuka ruang spekulasi dengan egonya sendiri.
Ia mementahkan nafsu membalapnya, sekalipun telah mendapat dukungan penuh dari para mantan sejawat juara dunia lainnya.  Oleh sejawatnya itu, Schummy bahkan dianggap merampok hasrat para penggemar F1 dan membenamkan pamor F1.  Karena penggemar F1 sudah kadung kepincut dengan hadirnya kembali.
Schummy mengajarkan kepada kita untuk memahami dan menghormati sistem.  Sistem dibangun untuk menciptakan manfaat dan memelihara aliran manfaat itu kepada sub-sub sistem di dalamnya.  Dalam pandangan Dasgupta (2007), kejeniusan Schummy melekat atau membumi dalam kerangka sistem industri F1.  Itulah sebabnya kehadiran F1 sejak tahun 1950 berlanjut hingga saat ini, dengan sistem semakin baik dan modern.  Dalam ceramah di Bank Pembangunan Asia, Manila, 3 Oktober 2007, Dasgupta (2007) menyatakan sumberdaya manusia cerdik bukan jaminan bagi pertumbuhan ekonomi. SDM yang cerdik perlu meletakkan dirinya dalam kerangka institusi. Institusi inilah yang membawa dan menjamin keberlanjutan pertumbuhan.
Kedua, konsistensi.  Membalap adalah interaksi dari ranah kognitif, afektif dan psikomotorik yang konsisten.  Schummy membalap sejak usia belasan tahun, artinya ia mengalami pembelajaran yang intensif, sistematik dan konsisten sejak usia muda.  Ditambah semangat, bakat, dan keberanian, ia terbentuk menjadi pembalap yang trampil dan tepat mengambil keputusan.
Tampilan Schummy tidak ubahnya sebagai suatu metodologi.  Ia mengajarkan kepada kita berpikir, bersikap dan bertindak yang teratur, jelas dan pasti; sekaligus mempermudah dan menjadi sederhana.  Di kalangan akademisi, dalam mempelajari metodologi senantiasa dikenalkan model.  Model didefinisikan sebagai abstraksi dari dunia nyata, atau bentuk sederhana dari dunia nyata yang sering komplek dan multi faset.  Keputusan batal comeback adalah mekanisme sederhana.  Ia menggunakan bahasa yang sederhana, bahwa ia merasa cedera (suatu analisis) dan tidak mampu membalap.  Maka ia memutuskan (kesimpulan) batal membalap.  Sederhana dan gamblang sekali.
Schummy mengajarkan perlunya metodologi dalam menelaah kehidupan.  Penguasaan metodologi memerlukan (konsistensi) kesabaran, budaya membaca, ketelitian, obyektivitas, dan berpikir komprehensif  dan jangka panjang.  Mohon maaf, kita tidak terbiasa dengan ini.  Sehingga sering kita temui hal-hal yang tidak efisien, yang ditunjukkan oleh perorangan maupun kelembagaan.
Ketiga, keikhlasan.  Segera sesudah pernyataannya mundur, Schummy langsung tawaduk ke Ferrari, dan mendukung sepenuhnya penunjukan pembalap pengganti.  Pengganti itu adalah Luca Badoer, test driver Ferrari.  Saat ini Badoer  sedang magang ke Schummy agar menurunkan ilmu dan kemampuannya.
Sekali lagi, Schummy mengajarkan kepada kita untuk ikhlas dan berpikir ke depan.  Dalam ilmu kesehatan, ikhlas  merupakan bagian dari konsep sehat secara holistik yakni keselerasan dan keseimbangan yang terdiri tiga unsur yakni tubuh (body), pikiran (mind) dan jiwa (mood).  Dengan hati yang ikhlas, energi tubuh digunakan kembali untuk hal-hal produktif di masa depan.
Kita baru saja menyelesaikan pemilihan anggota legislatif dan presiden.  Hasilnya segera akan ditetapkan.  Tidak ada gunanya memikirkan hal yang sudah terjadi.  Yang lalu sudah selesai,  lebih arif lagi mengucapkan permohonan maaf atas ketidaknyamanan atas masa lalu.  Selanjutnya adalah bekerja keras bersama untuk memperbaiki keadaan masa depan.

2 Responses to Belajar dari Schummy

  1. Dono says:

    dan kemudian tulisan ini ga berarti karena schummy tetap balik.
    it’s not about want or not want but it’s all about passion to drive someone to pursue what they are really really want.

    • iwan says:

      Anda benar, seperti kita yang saat sehat mau masuk kantor, kalau sakit istirahat dulu. thanks for your comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: