Pendidikan Kewirausahaan, Menuju Kemana?

Artikel ini terbit di website widyagama.

Pertumbuhan ekonomi dengan mengandalkan permintaan ekspor dan efisiensi industri telah banyak didiskusikan. Potensi yang belum tergarap adalah kekuatan internal kewirausahaan dan inovasi yang dilandasi iptek. Inovasi diibaratkan bahan bakar, sementara kewirausahaan adalah mesin. Keduanya menjadi sumber kesempatan kerja, pendapatan dan kesejahteraan.
Kewirausahaan akhir-akhir ini banyak dibicarakan. Semua bersumber dari fakta rendahnya jumlah entrepreneur dan kesulitan melahirkan entrepreneur. Kebutuhan pendidikan kewirausahaan makin relevan dengan perubahan lingkungan global yang menuntut adanya keunggulan, pemerataan, dan persaingan. Peranan perguruan tinggi dalam melaksanakan pembelajaran kewirausahaan menjadi sangat penting.
Dahulu, pola pembelajaran kewirausahaan tidak secara formal dilembagakan. Bekal motivasi dan sikap mental entrepreneur terbangun secara alamiah, lahir dari keterbatasan dan semangat survival disertai keteladanan kerja keras dari dosen atau model contoh. Mahasiswa yang terlatih tempaan secara fisik dan mental melalui pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari, akan menjadi tangguh untuk mengambil keputusan dan memecahkan masalah. Peribahasa berakit-rakit ke hulu berenang ke tepian, dijiwai benar. Mahasiswa menjadi terlatih melihat sisi positif suatu sumberdaya dan ditransformasikan menjadi manfaat yang nyata.
Namun, pola pengembangan kewirausahaan masa lalu itu dianggap tidak sistematik menghasilkan entrepreneur. Entrepreneur lebih ditentukan oleh bakat atau karakter individu, atau bawaan lahir, tidak atas proses yang direncanakan.
Fenomena sekarang menunjukkan bahwa kewirausahaan adalah suatu disiplin ilmu yang dapat dipelajari dan diajarkan. Menurut Ciputra, kompetensi kewirausahaan bukanlah ilmu magic. Pendidikan tinggi, perlu mengajarkan tiga kompetensi kepada mahasiswanya, yakni menciptakan kesempatan (opportunity creator), menciptakan ide-ide baru yang orisinil (inovator) dan berani mengambil resiko dan mampu menghitungnya (calculated risk taker). Peran yang dilakukan perguruan tinggi adalah: (i) internalisasi nilai-nilai kewirausahaan, (ii) peningkatan ketrampilan (transfer knowledge) dalam aspek pemasaran, finansial, dan teknologi; dan (iii) dukungan berwirausaha (business setup) (Vallini and Simoni, 2007).
Menurut ASHE Higher Education Report (2007), keberhasilan studi mahasiswa ditentukan oleh dua ukuran, yakni (i) jumlah waktu dan upaya mahasiswa terlibat dalam proses pembelajaran dan (ii) kemampuan perguruan tinggi menyediakan layanan sumberdaya, kurikulum, fasilitas dan program aktivitas yang menarik partisipasi mahasiswa untuk meningkatkan aktualisasi, kepuasan dan ketrampilan. Dalam konteks pendidikan kewirausahaan, nampaknya partisipasi mahasiswa dan kemampuan perguruan tinggi perlu disinergikan, agar menyediakan layanan sebaik-baiknya agar melahirkan student entrepreneur. Dengan demikian, melalui pendidikan dapat direncanakan kebutuhan jumlah maupun kualitas entrepreneur.
Karakter keilmuan kewirausahaan didisain untuk mengetahui (to know), melakukan (to do), dan menjadi (to be) entrepreneur. Tujuan pendidikan to know dan to do terintegrasi di dalam kurikulum program studi, terdistribusi di dalam mata-matakuliah keilmuan. Integrasi dimaksudkan untuk internalisasi nilai-nilai kewirausahaan. Dalam tahapan ini, perguruan tinggi menyediakan matakuliah kewirausahaan yang ditujukan untuk bekal motivasi dan pembentukan sikap mental entrepreneur. Sementara itu tujuan to be entrepreneur diberikan dalam pelatihan ketrampilan bisnis praktis. Mahasiswa dilatih merealisasikan inovasi teknologi ke dalam praktek bisnis.
Program penguatan untuk mendorong aktivitas berwirausaha dan percepatan pertumbuhan wirausaha baru telah dicanangkan pemerintah. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi telah mengembangkan beragam program kewirausahaan. Pada tahun 2009, telah dikenalkan Program Mahasiswa Wirausaha atau PMW (Student Entrepreneur Program) untuk menjembatani para mahasiswa memasuki dunia bisnis rill melalui fasilitasi start-up bussines.
Di lain sisi, aktivitas ekstra kurikuler mahasiswa yang sistematik juga dapat membangun motivasi dan sikap mental entrepreneur. Pembinaan mahasiswa dalam berbagai kegiatan minat dan bakat, keilmuan, kesejahteraan atau keorganisasian lainnya mampu memberikan ketrampilan untuk berwirausaha, dalam pengertian wirausaha bisnis, wirausaha sosial maupun wirausaha corporate (atau intrapreneur). Sebagian para tokoh politik, CEO atau komisaris perusahaan besar bukankah dulunya para aktivis mahasiswa. Mahasiswa yang aktif dalam unit pers (atau koran kampus) juga sukses menjadi wirausaha dalam industri penerbitan. Mahasiswa tim robotika
menjadi tim kreatif jasa industri permesinan. Mahasiswa teknik informatika menjadi wirausaha software house. Mahasiswa dalam forum kajian agama menjadi pendakwah. Mahasiswa pecinta alam menjadi wirausaha jasa outbound.
Pengembangan kewirausahaan di Universitas Widyagama Malang diorganisasikan oleh Pusat Pengembangan Kewirausahaan (P2K). Sejak tahun 2005, P2K memberikan program ekstra kurikuler kompetensi kewirausahaan kepada mahasiswa. Tujuan program kompetensi mencakup to know, to do, dan to be entrepreneur. Polanya sama dengan PMW, dimana mahasiswa memperoleh materi pelatihan, magang hingga penyediaan modal untuk praktek bisnis.
Aktvitas ekstra kurikuler mahasiswa yang sistematik juga dapat membangun motivasi dan sikap mental entrepreneur. Di Universitas Widyagama, pembinaan mahasiswa pecinta alam khususnya, yang tergabung dalam Wigapala, memuat karakter pendidikan kewirausahaan. Anggota mahasiswa pecinta alam mendapatkan standar pembinaan perihal pengetahuan umum alam bebas dan lingkungan, pengembangan kepribadian, dan penguatan mental ideologi. Mereka juga memperoleh materi pengalaman lapangan perihal manajemen perjalanan, kerjasama lapangan, kemandirian dan kesetiakawanan, navigasi, pendakian, jalan malam dan survival. Pembinaan tersebut mampu melahirkan kreativitas dan inovasi sebagai energi utama kewirausahaan.
Wigapala mampu memanfaatkan potensi organisasi dan anggota-anggotanya untuk berkembang. Mereka bekerjasama dengan dunia usaha, pemerintah daerah, atau komponen masyarakat lain untuk mensupport kegiatan organisasi. Wigapala mampu menunjukkan kerja keras dan kemandirian dengan mengembangkan kreativitas dan inovasi ke dalam kegiatan yang berorientasi bisnis atau praktek-praktek bisnis. Pengalaman dan manfaat ekonomi bisnis tersebut digunakan untuk mengembangkan organisasi.
Secara nasional, untuk mendukung kebijakan peningkatan akses dan pemerataan pada pendidikan tinggi, semakin bertambah program yang ditawarkan. Perguruan tinggi mendirikan program vokasional yang memberikan ketrampilan wirausaha, setara diploma atau kursus. Ada pula program ekstensi yang memberi peluang para wirausaha untuk kuliah. Yang terakhir ini adalah entrepreneur student, yang sudah masuk ranah psikomotorik kewirausahaan. Menurut Robinson, Huefner dan Hunt (1991), mereka ini memiliki karakter yang tinggi dalam inovasi, praktek bisnis, kepercayaan diri dan pengendalian. Mereka adalah pelaku bisnis, yang juga ingin meningkatkan kemampuan berwirausaha.
Demikianlah, perguruan tinggi memiliki pilihan dalam mengembangkan pembelajaran kewirausahaan.

2 Responses to Pendidikan Kewirausahaan, Menuju Kemana?

  1. Devis says:

    teman2 wirausaha muda hari selasa tanggal 8 desember 2009 di UNIKA ATMAJAYA, gedung pascasarjana lantai 8, akan diadakan seminar kewirausahaan, bagi yang tertarik silakan hubungi saya di e-mail saya, deviscarel@gmail.com
    buruan yah… tempat terbatas loh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: