Ngadas-Bromo-Tengger, never-ending journey

Desa Ngadas termasuk dalam wilayah kecamatan Poncokusumo, kabupaten Malang.  Desa ini berada dalam wilayah teritori Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN BTS), pada posisi 7o59’01’’ LS dan 112o54’17’’, dengan ketinggian 7000 kaki (sektar 2150 m) di atas permukaan laut.  Ngadas adalah desa tertinggi di Jawa.  Topografi desa Ngadas adalah pegunungan dengan iklim montana.  Suhu di sekitar desa Ngadas berkisar 0 hingga 20oC.  Desa ini hanya berjarak satu kilometer dari lautan pasir gunung Bromo (lihat googleearth)

Ngadas and Bromo mount areaDesa Ngadas berpenduduk sekitar 1500 jiwa atau sekitar 440 kepala keluarga.  Penduduk desa hampir keseluruhannya merupakan petani, dengan bercocok tanam sayur dan hortikultura, antara lain kentang, wortel, bawang merah, kol dan tomeo. Komoditi-komoditi tersebut dipasarkan ke pasar Mantung, Batu dan Nongkojajar. Dalam beberapa tahun ini penduduk menanam Tomeo (menurut bahasa orang Ngadas).  Tomeo adalah komoditi kacang-kacangan yang berorientasi ekspor.  Sudah ada pengepul yang siap menerima tomeo untuk diekspor.bromo & semeru mount scenery from penanjakan

kebun ngadasDiantara para petani tersebut, tidak lebih 10 KK berusaha jasa ekowisata sebagai pengemudi ojek, menyewakan mobil jip, dan home stay.  Jumlah homestay hanya satu dimiliki oleh Mulyadi Bromo Putro sekaligus menyewakan mobil jip  (Iwan Nugroho, 2008).  Mulyadi Mulyadi Bromo Putro adalah mantan kepala desa Ngadas.  Ia punya pandangan yang terbuka dan mampu berinteraksi dengan penduduk luar wilayah.  Ia menjadi pelopor usaha jasa ekowisata di desa Ngadas.

Perjalanan panjang

Hari sabtu, 22 Mei 2010,  untuk kesekian kalinya aku pergi ke Ngadas.  Sesuai catatanku, Ini adalah perjalanan yang ke lima.  Sungguh luar biasa.  Tidak kusangka.

Perjalanan pertama kali ke Ngadas pada tanggal 10 Juni 2005 ketika ikut kegiatan field trip mahasiswa Fakultas Pertanian (FP) Universitas Widyagama (UWG) Malang.  Perjalanan ini diselesaikan dengan penjelajahan di lautan pasir dan pendakian ke puncak Bromo.  Ini sekaligus pendakian ke Bromo pertama kali.  Hingga saat itu, aku sudah mendaki tiga puncak gunung, sebelumnya di gunung Welirang tahun 1979, dan gunung Penanggungan tahun 1980.  Pengalaman ini memberikan kesan mendalam untuk menanam benih-benih keilmuan ekonomi lingkungan dan kemasyarakatan.

Ke Ngadas kali kedua, pada tanggal 16 Agustus 2005, ketika ikut meramaikan kegiatan Jejak Petualang TV7 (waktu itu belum menjadi Trans7) dalam program Peringatan 17 Agustus di Puncak Semeru.  Dalam perjalanan ini, aku mengikuti kunjungan Wakil Rektor UWG untuk mensupport mahasiswa Widyagama Pencinta Alam (WIGAPALA) yang menjadi mitra TV7 untuk menghimpun para pecinta alam dalam acara TV tersebut.

Perjalanan ke Ngadas kali ketiga, 26 Juli 2008 untuk melaksanakan survei Penelitian Fundamental yang dibiayai Direktorat Penelitian dan Pengabdian masyarakat (DP2M) Dikti-Depdiknas 2008.  Penelitian mengambil tema tentang uji kewirausahaan dalam jasa ekowisata di sekitar wilayah TN BTS.  Hasil penelitian ini kelak memberikan temuan dan pengalaman akademis yang tiada tara nilainya.

Perjalanan ke Ngadas keempat terjadi pada tahun 2009 saat liburan semester sekolah.  Ini perjalanan pribadi.  Kami sekeluarga, istri dan dua anakku, beserta keponakan dari Padang, total 10 orang menikmati liburan ke seputaran Bromo.  Perjalanan ini juga semacam menebus janji ke keluarga karena sebelumnya mereka hanya mendengar cerita dan melihat gambar dari foto.  Perjalanan diselesaikan hingga ke Penanjakan, puncak Bromo, dan ke danau Ranu Pane.  Anak dan keponakan menyatakan kesan yang sangat mendalam.

Dalam perjalanan ke lima ini, kembali  melakukan survei penelitian dalam skim Hibah Bersaing DP2M-Dikti 2010.  Perjalanan ini agak khusus dan Plus karena beberapa alasan.  Pertama,  rombongan diikuti oleh Dekan FP UWG, semua kajur dan para dosen yang selama ini belum mengenal Ngadas.  Kedua, rombongan membawa misi benih keilmuan.  Mereka nampaknya sudah bersiap diri dengan bahan untuk persiapan penelitian dan pengabdian masyarakat untuk skim tahun 2011.  Ketiga, rombongan ini ingin refreshing setelah lembur hampir tiga bulan mengerjakan dokumen akreditas program studi FP UWG.  Perjalanan dilengkapi dengan pendakian ke puncak Bromo.  Selesai pendakian, kami dan rombongan melakukan wawancara untuk menggali informasi untuk bahan penelitian.  Virus keilmuan ’Ngadas’ nampaknya mulai menjalar di kawan-kawan dosen FP.

lautan pasir bromoDalam kunjungan kali ini, aku sempat naik ke puncak Bromo dengan membawa kekuatiran akan keadaan tubuhku, sesudah operasi empedu (27 Februari 2010).  Benar juga, aku akhirnya kena demam ringan selama dua hari.  Kata kawan yang punya pengalaman sejenis .. memang tidak boleh bekerja fisik berat.  Saat kutulis naskah ini keadaanku sudah baikan.

Renungan

Sudah lima kali aku pergi ke Ngadas.  Banyak hal yang kualami dan kuperoleh khususnya dalam hal pengalaman akademik.  Berikut kusampaikan.

Pertama, sosok Mulyadi Bromo Putro dan keluarganya.  Pak Mul begitu panggilannya, adalah penduduk desa Ngadas, seorang petani Tengger, warga negara biasa yang ingin mengangkat kehidupannya menjadi lebih baik.  Pak Mul memang punya kelebihan, ia mampu berinteraksi dengan kebanyakan orang, sehingga orang lain menggunakan jasanya untuk memandu dan menikmati eksotisnya keindahan alam Bromo atau sekitar wilayah TN BTS.  Pak Mul sekarang adalah sosok pelaku jasa ekowisata.  Pak Mul memberikan banyak pengalaman dan benih keilmuan ekowisata.

purnawan dnKedua, sosok Purnawan Dwikora Negara (Purnawan DN).   Pak Pur biasa ia dipanggil, adalah dosen Fakultas Hukum UWG yang mendalami bidang lingkungan hidup.  Pak Pur lah yang membawa dan mengenalkan Ngadas dan pak Mul.  Pak Pur, Ngadas dan pak Mul adalah kesatuan utuh (sebagai laboratorium) yang memperkaya keilmuan ekowisata dan kemasyarakatan.  Hingga perjalanan ke Ngadas yang ketiga, pak Pur menyertaiku dengan semangat dan keikhlasannya.  Perjalanan ke empat dan kelima, pak Pur tidak mengikuti karena sedang studi S3 di Universitas Diponegoro Semarang. Semoga sukses pak Pur.

Ketiga, Ngadas itu sendiri.  Lima kali perjalanan ke Ngadas senantiasa menarik sekalipun secara fisik meletihkan.  Pemandangan menuju kesana memang luar biasa indah dengan melalui  jalanan makadam berhutan.  Aku sangat mengerti pak Pur bisa setiap minggu kesana menikmati eksotisnya kawasan Bromo dan TN BTS.  Senantiasa ada’greget’ untuk mengabarkan Ngadas ke orang lain.  Wahai kawan, Ngadas itu indah dan eksotik,… datanglah kesana.  Aku sendiri belum tahu … akankah kesana lagi??

8 Responses to Ngadas-Bromo-Tengger, never-ending journey

  1. Ali Akbar says:

    Salam kenal pak Iwan, saya Ali mahasiswa dari Univ. Gadjah Mada. Bulan Juli-Agustus tahun ini saya dan teman2 rencananya akan melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN_PPM) di desa Ngadas & Gubuklakah. Tema program kami awalnya adalah mengenai wisata alam agro dan budaya di Ngadas & Gubuklakah, termasuk pengembangan homestay disana. Saya tertarik dengan artikel d website bapak dan apabila boleh saya minta saran dan rekomendasi bapak untuk kegiatan kami nanti. Terimakasih atas perhatiannya pak🙂

    • Iwan Nugroho says:

      terimakasih mampir ke blog saya. desa tersebut punya karakter budaya tengger sangat kuat. yang penting pendekatan sosial dilakukan dulu. ada beberapa tokoh yang bisa ditemui. salah satunya pak Mulyadi Bromoputro 085646479409 (kecuali no sdh berubah). Banyak-2 konsultasi ke beliau. Anda juga bisa konsultasi ke pak Purnawan (email purnawan_dn@yahoo.co.id, kandidat doktor hukum lingkungan UNDIP). Beliau dosen univ widyagama malang yang aktif ke Ngadas. silakan baca tulisan http://www.scribd.com/doc/18794363/Iwan-ekowisata-Ngadas. Semoga sukses

  2. helvy says:

    tertarik sekali sya membaca artikel anda pak.. terimakasih sebelumnya..sya helvy mahasiswi univ.brawijaya, skarang sdang mngerjakan skripsi tentang “etnobotani upacara kasodo masyarakat tengger”. kemarin sya jga kkn di ds.ngadas.. mas ali yg comment diatas itu temen kkn sya jga… hehe
    sya mau tanya pak, kalo mau nyari literatur tentang budaya tengger dmn ya pak? sya sdikit mengalami kesulitan.. terimakasih

    • Iwan Nugroho says:

      terimakasih telah akses ke blog saya. referensi perihal budaya tengger sy pikir sangat banyak dari internet. bila ada di blog ini, silakan download. smg sukses

  3. Nurul says:

    Pak sambel pedes dari lombok terong + trasi yang ditambah irisan daun bawang itu namanya apa Ya? Ini kuliner kesukaan suami saya waktu ikut KKN di ngadas. Saya sering bikinkan buat suami saya tapi dia lupa namanya.Penasaran.Dibalas ke email saya ya Pak,tengkyu.

  4. reska says:

    pak menuju ke ngadas naik matic boncengan kira kira bisa ndak

  5. ke Bromo lewat ngadas memang akan jauh lebih berkesan dari biasanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: