Opera Carmen

Tulisan ini telah terbit di blog kompasiana

National Theatre, PragueTidak terbayang sebelumnya, akhirnya keinginan nonton opera menjadi terwujud.  Hal itu terjadi di kota Praha.  Memang sejak rencana kepergian ke Ceko, sudah ada bayang-bayang keinginan itu.  Dan harapan itu terwujud semakin nyata ketika tiket konser terpegang hanya satu jam sebelum pertunjukan konser.  Konser diselenggarakan di  gedung national theatre, atau Narodni Divaldo. Disebut demikian karena gedung teater ini terletak di jalan Narodni.

Perjalanan dari hotel ke pertunjukan konser tidaklah jauh, hanya sekitar 250 meter, atau hanya sekitar lima menit jalan kaki.  Kami berangkat dengan kawan-kawan dalam posisi yang mepet waktu, karena jam 18.15 kami baru sampai ke hotel setelah kepadatan acara hari itu.  Sehari sebelumnya, saya sempat memotret wajah gedung opera dari sisi jembatan.  Di depan gedung opera ini ada kafe Cavarna Slavia yang sangat terkenal, dimana menurut cerita tempat berkumpulnya aktivis dan politisi saat transisi lepas dari kekuasaan komunis.  Kami berjalan tergesa-gesa dengan memegang tiket masing-masing.  Tiket konser (tertanggal 27 Oktober 2010) seharga 900 coruna (sekitar 500 ribu rupiah) dengan pertunjukan dimulai jam 19.00, dengan menggelar penampilan Carmen.  Tiket menunjukkan bahwa posisi tempat duduk di balkon 1, baris ke 3 dan no seat 24.

Kami masuk ruangan teater disambut petugas yang dengan sopan menjelaskan posisi balkon.  Kami diminta naik tangga dengan karpet merah sesuai arah balkon.  Di lantai berikutnya, kembali kami menemui petugas wanita yang pada saat yang sama terdengar suara riuh.  Dia dengan bahasa yang sopan menyatakan bahwa kita tidak diperkenankan masuk karena opera sudah dimulai.  Karenanya kami diminta naik ke lantai paling atas dengan menunjukkan arah tangga.  Saya dan pak Khoirul berjalan terus naik tangga kira-kira hingga lantai lima, sementara rombongan lain terlepas entah kemana.  Sampailah kami di ruangan gelap tempat pertunjukkan opera.  Disana sudah ada beberapa pengunjung berdiri dekat pintu yang juga terlambat seperti kami.  Dalam kegelapan, kami mencoba mencari posisi agar bisa bergeser mencari tempat duduk.  Akhirnya kami bisa duduk dalam posisi baris paling tinggi.

Suasana tempat duduk pengunjung sangat gelap.  Kami harus memandang ke bawah untuk melihat suasana dan pernik pertunjukkan opera.  Ada pengunjung, orkestra, ada panggung, dan latar beserta isinya.  Posisi pengunjung adalah melingkari orkestra, mulai dari balkon bawah (no 1) hingga balkon teratas tempat kami duduk. Terlihat sekitar 25 hingga 35 pemain orkestra yang memainkan alat musik mengiringi suara lengkingan vokal pmeran opera.  Posisi orkestra berada di bawah panggung dengan sinar lampu yang terang.  Sedangkan panggung opera merupakan pusat perhatian semua orang.  Keuntungan posisi kami adalah bisa melihat.. bahkan hingga di belakang latar panggung.  Sedangkan posisi balkon bawah hanya bisa melihat apa yang terjadi di bel  belakang mulai panggung dan uang opera gelap.

Perlu adaptasi agak lama memahami jalan cerita opera.  Lengkingan suara artis sulit untuk dicerna.  Mereka menggunakan bahasa ceko yang saya sama sekali tidak mengerti.  Beruntung ada layar yang menyajikan skrip cerita, dalam bahasa ceko dan Inggris.  Sekilas ceritanya mendeskripsikan cinta sejati seorang carmen kepada seseorang.  Ia ingin menambatkan hatinya kepada seorang perwira atau tentara biasa.  Ia sempat bimbang.  Cerita didramatisir dalam background suatu penjara wanita, dimana Carmen ada di dalamnya.  Terkadang suatu scene berjalan lambat bahkan lambat sekali.  Namun alur global cerita dapat ditangkap.  Yang saya amati, opera Carmen ini melibatkan paling banyak sekitar 40 orang dalam suatu scene.  Itu terjadi ketika scene konflik fisik antara narapidana wanita dengan sipir.  Scene lainnya lebih banyak didominasi pemeran Carmen, yang memang menunjukkan kemampuan penguasaan panggung, dengan berlari kesana kemari, melompat ke obyek-obyek panggung (sempat juga bermain billiar), menari dengan nuansa basic balerina, menggelayut ke pemeran lainnya, dan tentu saja bernyanyi khas opera.  Bisa dibayangkan, hanya orang yang sehat, kuat, dan stamina tinggi mampu menjaga endurance selama kurang lebih 90 menit kali dua pertunjukan diselingi jeda istirahat.  Setiap durasi tertentu sesuai alur cerita, panggung opera berhenti, dimana penonton menunjukkan apresiasi dengan bertepuk tangan atau berteriak keras.  Disini penonton bisa berbincang atau melepas penat dan konsentrasi.  Hal ini tidak berlangsung lama, mungkin hanya 30 detik tanpa ada perubahan konfigurasi di panggung kecuali lampu panggung sengaja diredupkan.  Mungkin ini sama dengan selingan iklan di acara TV.

Hal lain yang menakjubkan adalah tata cahaya opera.  Cahaya dalam beragam konfigurasi warna, arah dan gerakan mampu mendinamisasikan skenario cerita dan aktivitas Carmen.  Terkadang suatu wahana yang memuat lampu warna-warni bergerak turun mendekat ke arah pemeran yang sedang berdialog atau ketika tekanan musik meninggi.  Perpaduan cahaya dan kostum begitu memukau sehingga karakter pemeran opera menjadi menonjol atau dipentingkan.

Sebelum berangkat ke gedung. kami diberitahu kawan agar memperhatikan etika nonton opera.  Hal ini penting agar pengunjung secara tertib berperilaku tanpa mengganggu kenyamanan pengunjung lain menikmati opera.  Dengan kata lain, menonton memang memerlukan kesantunan dan intelegensi.  Etika tersebut antara lain berperilaku diam, artinya diam betul atau bila perlu hati-hati memindahkan posisi tubuh saat duduk.  Diam mungkin juga diartikan menahan diri .. misal ke kamar kecil.  Mengapa demikian karena setiap bunyi yang dihasilkan penonton akan terdengar dan dapat mengganggu penonton lain menikmati opera.  Tata suara di dalam gedung memang sangat baik dan efisien.  Setiap suara akan terdengar di semua arah.  Itu sebabnya mengapa di dalam gedung teater atau pertunjukan opera tidak perlu menggunakan electronic sound system.  Jadi, suara pemeran opera benar-benar jernih, dan tentu dihasilkan dari kualitas, power, dan tekanan suara yang sangat baik.  Akan tetapi, di dalam ruangan ternyata tidak semua pengunjung mematuhi etika tersebut.  Beberapa pengunjung juga berisik, termasuk kawan-kawan dari Indonesia.  Ini terjadi terutama di balkon paling atas.  Bila demikian segera saja ada pengunjung yang protes.

Melengkapi informasi di atas, setiap pengunjung dapat menikmati jadwal pertunjukan dan tema cerita jauh-jauh hari.  Informasi lebih jauh dapat ditelusur di http://www.narodni-divadlo.cz/Default.aspx?jz=en.  Pihak gedung opera menyajikan leaflet, booklet (berisi jadwal dalam periode dua bulan) dan majalah secara cuma-cuma kepada pengunjung.  Saat jeda, pengunjung juga dapat dapat menikmati hidangan minuman dan kue-kue ringan.  Tentu saja seluruh suasana opera, pengunjungnya dan layanan opera sangat formal dan berkelas.  Sejarahnya, orkestra atau opera ini memang hanya untuk orang-orang kalangan atas.

Hotel EuroStar Thalia, Praha, 28 Oktober 2010

4 Responses to Opera Carmen

  1. yass arlina says:

    jd kepengen…..tp susah nahan bersin….hehehe……

  2. Karma Suta says:

    * Telat membaca posting blog ini Prof….kebetulan saya dan sebagian teman2 yg lain duduk di kursi baris belakang lantai bawah, shg yg terlihat hanya suasana panggung….
    * Aneh bangsa kita Prof (termasuk saya lho)yang masih suka melanggar aturan di negeri sendiri, tetapi bisa menjadi masyarakat yg tertib aturan ketika harus diam selama menonton Opera di negeri orang.
    * Bersyukur juga bisa ke Ceko dan nonton Opera.

    • iwan says:

      pak Karma, silakan dilaporkan pandangan mata opera Carmen dari lantai bawah,.. pasti lebih menarik. apa lebih bising? Wah.. Bisa kenalan sama si Carmen!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: