Negeri yang damai

Bila banyak orang asing belum mengenal Indonesia, itu wajar.  Sama halnya tidak banyak orang Indonesia mengenal Ceko.  Namun, setelah datang sendiri melihat kota Praha dan sekelilingnya, dan pengalaman berinteraksi dengan orang-orang setempat, akhirnya mengalirlah banyak info-info yang menarik.  Penulis mencoba menyajikan hal-hal kecil tentang Ceko, dan mencoba menarik hal-hal positif untuk bahan pembelajaran.

Penduduk Ceko adalah orang yang menyukai perdamaian, itulah kesan yang muncul.  Mengapa? Karena saya melihat kota ini dipenuhi bangunan-bangunan tua, dan memiliki catatan sejarah ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang panjang.  Dalam periode yang panjang itu, tentu negara ini tidak mudah berinteraksi secara geopolitik dengan kawasan Eropa atau dunia; yang mengalami masa-masa damai, perang atau tertekan.  Pada posisi inilah, bangunan tua dan perkembangan ilmu pengetahuan di Ceko, khususnya di Praha menjadi saksi sejarah.  Warisan budaya itu tetap terpelihara di tengah dinamika politik regional dalam kurun waktu yang panjang.  Hal ini membuktikan bahwa penguasa dan orang-orang Ceko lebih mementingkan karya, budaya dan nilai-nilai kemanusiaan ketimbang kepentingan politik dan kekuasaan yang biasanya bermuara kekerasan dan perang.  Kekerasan atau perang biasanya menghasilkan beragam kerusakan sistematis terhadap bangunan, karya dan warisan budaya lainnya, selain bencana kemanusiaan.  Kalaupun ada kekerasan di Ceko, ini lebih bersifat terkontrol tanpa mengganggu karya budaya, misalnya terhadap tahanan politik atau kriminal.  Buktinya di Ceko ditemukan museum kekerasan dan penyiksaan (Prague Museum of Medieval Torture), yang berada di dekat jembatan Charles.

Bagaimana sesungguhnya perjalanan sejarah Ceko?  Berikut disajikan deskripsi sejarah singkat Ceko dan peradaban dunia khususnya Eropa, yang menunjukkan bagaimana orang-orang Ceko mementingkan karya, budaya dan nilai-nilai kemanusiaan serta menyukai perdamaian.

Suku bangsa asli Ceko adalah orang-orang Bohemia di sebelah utara dan barat, serta orang Moravia dan Silesia di selatan dan timur.  Mereka sejak lama berinteraksi dengan orang-orang Jerman yang mendominasi sejarah Eropa.  Pada abad 12 orang-orang Bohemia mencapai kejayaannya setelah rajanya, yakni Charles IV, diminta gereja (Paus Clemens VI) menjadi kaisar Romawi, untuk menghadapi kaisar Perancis Louis IV yang memusuhi gereja.  Sumbangsih nyata Charles IV terhadap kemajuan peradaban Ceko adalah membangun Praha sebagai ibukota kekaisaran Romawi (bukan di Roma), mendirikan Universitas Charles, serta  mengembangkan Praha sebagai pusat intelektual dan kebudayaan Eropa Tengah.  Kejayaan Bohemia berkembang dan meluas hingga daratan Luxemburg dan wilayah Eropa lainnya bukan karena kekuatan fisik militer tetapi melalui aspek kebudayaan.

Pasca kekuasaan Charles IV, kerajaan Bohemia mengalami pasang surut akibat pertentangan antar bangsawan.  Ceko sempat berada dibawah pemerintahan Islam Osmania/Turki pada tahun.  Pada tahun 1618 terjadi peperangan selama 30 tahun antara bangsawan berhaluan Nasional-Protestan dengan Katholik. Ceko juga takluk di bawah kekaisaran Austria-Wina, mengalami industrialisasi, serta terimbas dalam berbagai peristiwa  revolusi seperti halnya negara-negara Eropa lainnya.

Pada awal abad 1918, bangsa Ceko dan Slowakia membentuk negara Cekoslowakia.  Pembentukannya sangat alamiah sebagai jalan keluar perundingan pasca Perang Dunia untuk mengisolasi Jerman.  Sejak itu Cekoslowakia masuk dalam blok komunis di bawah kendali Rusia.  Saat perang dunia kedua, Cekoslowakia kembali terombang-ambing dan menyerah di bawah kekuasaan Hitler.  Saat Jerman menyerah, Cekoslowakia kembali masuk dalam pengaruh komunis dan terikat dalam blok Pakta Warsawa.

Pada tahun 1968 terjadi peristiwa bersejarah bagi lahirnya proses demokrasi di Cekoslowakia.  Keadaan ini bermula pada 5 Januari 1968, ketika sekjen partai komunis Cekoslowakia Alexander Dubček memegang kekuasaan, dan menjalankan perubahan (reformasi politik) ke arah demokrasi dan supremasi sipil.  Dubček melaksanakan liberalisasi partai, mengembalikan tentara ke barak dan menciptakan sosialisme humanis.  Hal ini tidak disukai oleh Moscow.  Pada tanggal 20 – 21 Agustus 1968, Uni Soviet dan empat sekutu Pakta Warsawa menginvasi Cekoslowakia dan  menahan Alexander Dubček, serta  menghentikan proses reformasi.  Dalam operasi pada musim semi yang diberi nama Danube, tentara pakta Wrsawa berjumlah 175.000 hingga 500.000 orang menyerbu Cekoslowakia; mengakibatkan 108 orang Cekoslowakia tewas dan 500 terluka sebagai akibat langsung invasi.

Pada 1989, Cekoslowakia mendapatkan kebebasan melalui Revolusi Beludru. Dipimpin oleh Vaclav Havel, gerakan reformasi menentang kekuasaan komunis kembali berulang.  Namun gerakan kali ini berjalan sangat baik, tanpa menghasilkan pertumpahan darah.  Tentara dan polisi rejim komunis dan gerakan reformis mampu mengendalikan diri memasuki dunia perubahan.  Vaclav Havel akhirnya terpilih sebagai presiden Cekoslowakia.  Pada 1 Januari 1993 negara ini secara damai pecah menjadi dua, menciptakan Republik Ceko dan Republik Slowakia yang merdeka.  Selanjutnya, pada tahun 1999 Ceko bergabung dengan pakta pertahanan Atlantik Utara (North Atlantic Treaty Organization, NATO), serta tahun 2004 diterima sebagai anggota masyarakat Eropa (European Community).

Deskripsi sejarah singkat tersebut memperlihatkan bahwa politik kekuasaan di Ceko berjalan tidak agresif, bukan agresor dan bukan inisiator.  Yang terjadi sesungguhnya, politik kekuasaan Ceko bersifat reaktif, jelasnya reaktif tanpa kekerasan untuk mengedepankan nilai-nilai kebudayaan dan kemanusian.  Kekaisaran Romawi di tangan Charles IV lebih merupakan hadiah dari gereja.  Justru hal ini dimanfaatkan untuk memperkuat dan membangun kebudayaan kota Praha, dengan membangun Universitas Charles.  Tradisi keilmuan dan kebudayaan menjadikan orang-orang Ceko sangat mandiri terhadap kepentingan politik.

Pembentukan negara Cekoslowakia pada tahun 1918 pun lebih merupakan hadiah setelah kalahnya Jerman dari sekutu.  Ceko juga ‘manut’ saja ketika dibawah tekanan rejim komunis Pakta Warsawa pasca perang dunia kedua.  Demikian pula, kaum reformis menyerah total saat serangan Danube tahun 1968.  Hal ini makin nyata dengan revolusi beludru tahun 1989 yang menjadikan Vaclav Havel sebagai presiden Cekoslowakia pertama yang lepas dari kekuasaan komunis.  Semuanya berjalan damai, bahkan saat pemisahan menjadi Ceko dan Slowakia pada tahun 1993.  Masuknya Ceko ke dalam EU dan NATO adalah dalam rangka mengembangkan perdamaian, kebudayaan dan kesejahteraan.

Sungguh luar biasa negara ini.

5 Responses to Negeri yang damai

  1. perimodesty says:

    salam kenal mas. saya boleh bertanya? sudah lama mas tinggal di CEKO, itu saja terima kasih.

    • iwan says:

      Kami hanya berkunjung seminggu di sana, menjalankan tugas memperdalam studi tentang Ceko. Terimakasih atas komentarnya.. semoga sukses

  2. saya juga bertanya nih,
    mengapa Ceko menjadi negeri yang damai ?
    itu saja pertanyaan saya

  3. iwan says:

    jawaban sy mungkin salah, .. jelas mereka lebih suka berkarya, bekerja, memperdalam ilmu dan seni. Itu semua lebih bermakna dibanding lainnya, sebagai warisan budaya. Pak Cah terimakasih atas komentarnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: