Ekonomi optimis

Konsepsi lahirnya perdagangan antar negara berasal dari Teori Heckser Ohlin (Nugroho dan Dahuri, 2004).  Teori dasar ini menyatakan aliran komoditi disebabkan adanya perbedaan rasio harga (relative price) antara dua negara yang memproduksi dua komoditi yang sama, misalnya pangan dan pakaian (two countries and two commodity model).   Teori tersebut berharap bahwa setiap orang dapat menikmati harga komoditi yang terjangkau sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan seoptimal mungkin.

Saat sekarang, implementasi konsepsi perdagangan internasional telah berkembang dalam sekuan yang sangat progresif.  Setiap negara makin menyadari kepentingan menghilangkan berbagai hambatan-hambatan perdagangan.  Hal ini dimulai dari General Agreement in Tarrif and Trade (GATT) tahun 1947 untuk menyederhanakan tarif, Putaran Uruguay tahun 1986 hingga 1994 dengan fokus yang lebih realistis untuk mengurangi hambatan tarif maupun non tarif secara luas, World Trade Organization (WTO) termasuk Dooha Round dengan mengkaji kebutuhan-kebutuhan spesifik perihal pertanian, HAKI, lingkungan, fasilitasi perdagangan, termasuk penyelesaian sengketa.

Dalam forum WTO tersebut, Indonesia berperan aktif memperjuangkan kepentingannya dalam rangka melindungi kepentingan ekonomi nasional, sekaligus menjadi strategi politik untuk mengembangan perekonomian nasional untuk memanfaatkan peluang-peluang dalam perdagangan internasional.  Komitmen tersebut telah dinyatakan dengan ratifikasi WTO melalui UU no 7 tahun 1994.  Dalam dinamika tersebut, Indonesia pernah digugat oleh negara-negara Jepang, Uni Eropa dan Amerika Serikat (AS) berkaitan dengan kebijakan mobil nasional.  Indonesia bersama-sama negara lain juga pernah menggugat AS terkait dumping dan subsidi.

Memang harus diakui, tidak semua masalah perdagangan internasional bisa diselesaikan oleh WTO. Dalam memandang hal tersebut, Indonesia tetap memanfaatkan hubungan bilateral, multilateral dan regional untuk mengembangkan kerjasama perdagangan internasional.  Dalam kerjasama terakhir ini, lebih banyak manfaat diperoleh karena kerjasama dilandasi rasa saling percaya, kedekatan, dan kesepahaman.  Kerjasama menjadi lebih fleksibel, luas dan intensif diperkuat oleh pengalaman dan faktor-faktor budaya lain.  Konsepsi kerjasama regional telah berkembang cepat, yakni melalui konsep Free Trade Area (FTA) atau Economic Partnership Agreement (EPA).  Bagaimanapun Asean bagi Indonesia adalah forum FTA yang sangat tepat untuk mengembangkan kerjasama; dan bahkan sasarannya semakin dipercepat untuk mendorong terbentuk Asean Economic Community 2015.  Deklarasi ASEAN Economic Community (AEC) Blueprint, terdiri empat kunci: (i) creating a single market and production base; (ii) enhancing competitive economic environment; (iii) promoting equitable economic development; and (iv) integrating ASEAN into the global economy (Asean, 2008)

Kinerja perdagangan luar negeri Indonesia dapat diamati dalam neraca pembayaran (balance of payment, BOP).  Tabel 1 menunjukkan bahwa perkembangan ekspor dan impor (termasuk data triwulanan) senantiasa menunjukkan surplus.  Pada tahun 2009 data neraca transaksi berjalan (current account) menghasilkan surplus 10.7 miliar dolar.  Hingga tahun triwulan ke dua tahun 2010, jumlah cadangan devisa nasional mencapai 76.3 miliar dolar.  Kondisi optimis tersebut juga terlihat dari neraca modal (capital account), dimana sudah recovery sesudah mengalami krisis pada tahun 2008, ditunjukkan dengan angka negatif sejak triwulan ke empat 2008 hingga triwulan ke dua tahun 2009.  Meskipun demikian, fenomena krisis tersebut masih mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang positif, sementara negara-negara lain menunjukkan pertumbuhan negatif (Tabel 2).

Hubungan kerjasama perdagangan Indonesia dengan negara lain ditunjukkan dalam Tabel 3.  Secara keseluruhan, Indonesia menunjukkan defisit terhadap kawasan ASEAN dan Australia Oceania.  Defisit dalam jumlah signifikan ditunjukkan dengan negara Singapura, Cina, Australia dan Selandia Baru masing-masing 5288, 2503, 171 dan 207 juta dolar.  Secara umum komoditi ekspor masih didominasi oleh komoditi primer atau manufactured product.

Selama ini banyak kritikan ditujukan kepada kinerja ekonomi nasional.  Hal ini disebabkan kinerja positif ekonomi makro tidak sejalan dengan kinerja mikro.  Bahkan kinerja mikro telah menunjukkan tanda-tanda deindustrialisasi.  Para pakar mengatakan pertumbuhan ekonomi nasional lebih banyak diakibatkan oleh faktor konsumsi rumah tangga dan pemerintah. Tabel 4 menyatakan deindustrialisasi ditunjukkan dengan menurunnya pertumbuhan industri pengolahan yang jauh di bawah rata-rata nasional.  Adapun peningkatan konsumsi rumah tangga dan pemerintah secara tidak langsung ditunjukkan dengan pertumbuhan jasa-jasa, keuangan, persewaan, dan jasa; bangunan, transportasi, listrik, gas dan air minum.  Tentu saja hal ini memberikan gambaran pertumbuhan ekonomi yang tidak sustainable, karena pertumbuhan industri pengolahan merupakan faktor penting bagi pemecahan masalah transformasi struktur ekonomi dan tenaga kerja; selain faktor transfer teknologi dan pengembangan usaha kecil dan menengah.

Kinerja mikro maupun makro ekonomi nasional merupakan modal penting bagi bagi upaya-upaya kerjasama dalam perdagangan internasional.  Kinerja tersebut dapat menjadi kekuatan tawar untuk meningkatkan peluang kerjasama.  Masuknya Indonesia dalam G20 menjadi momentum penting kerjasama karena Indonesia sudah masuk dalam 85 persen ekonomi dunia.  Beberapa negara sahabat juga memandang bahwa Indonesia, India dan China akan negara ekonomi yang kuat.  Seluruh potensi tersebut sangat penting untuk menumbuh kembangkan kemampuan ekonomi nasional, mengembangkan entrepreneurship (WEF, 2009) dan mengembangkan pasar-pasar luar negeri (RPJMN 2010-2014) dalam rangka mendukung pembangunan nasional.

DAFTAR PUSTAKA

Asean (Association of Southeast Asian Nations).  2008.  Implementing The Roadmap For an Asean Community 2015. Annual Report 2008-2009.  Asean Secretary Office, Jakarta
Bank Indonesia.  2010.  Laporan Neraca Pembayaran Indonesia.  Triwulan II.  Bank Indonesia, Jakarta.
BPS (Badan Pusat Statistik).  2010.  Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia.  Edisi Agustus 2010.  BPS Pusat, Jakarta
Nugroho, I. dan R. Dahuri.  2004.  Pembangunan Wilayah: Perspektif ekonomi, sosial dan lingkungan.   Penerbit Pustaka LP3ES Jakarta. Cetakan Pertama.
RPJMN 2010-2014.  2010.  Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional.  Peraturan Presiden No 5 tahun 2010.  Bappenas, Jakarta
WEF (World Economic Forum).  2009.   Educating the Next Wave of Entrepreneurs: Unlocking entrepreneurial capabilities to meet the global challenges of the 21st Century.   A Report o of the Global Education Initiativef the Global Education.  Switzerland, April 2009

2 Responses to Ekonomi optimis

  1. Dalam perspektif ekonomi optimistis, dikatakan Indonesia adalah negara yang terlalu kuat untuk ambruk ekonominya. Dari sektor konsumsi saja, Indonesia telah menjadi negara yang memiliki perputaran ekonomi yang luar biasa. Belum dari segi kekayaan sumber daya alam, yang oleh Lemhannas disebut gatra statis (padahal kenyataannya dinamis)….

    • iwan says:

      kita harus senantiasa optimis. Allah memberikan anugerah akal dan pikiran, yang kata da Vinci otak manusia lebih besar fungsinya dari yang kita bayangkan. Cara mensyukurinya adalah dengan terus berkreasi, berkarya, belajar … sampai akhir hayat seperti kata ustad. Terima kasih atas komentarnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: