Ujian …. (lagi)

Baru saja penulis mengikuti ujian.  Ujian ini sejenis ujian tesis S2 atau disertasi S3, yang diselenggarakan oleh Lemhannas sebagai bagian akhir Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) 45 tahun 2010.  Ada seratus peserta yang mengikuti ujian ini.  Yang diujikan adalah perihal penguasaan kertas karya perorangan (Taskap) yang sudah kami tulis sebelumnya.  Hasilnya, Alhamdulillah..  kami lulus semua.  Tulisan ini menguraikan makna seputar ujian yang senantiasa dihadapi oleh umat manusia.

Setiap tahun, ujian sekolah, atau ujian nasional diikuti oleh semua siswa.  Mahasiswa pun memiliki momentum ujian di kampusnya masing-masing.  Pegawai, karyawan atau pejabat tertentu juga melaksanakan ujian sesuai peraturan di instansinya.  Para santri pun melakukan hal sama sesuai aturan di pondok.  Mereka semua menjalani ujian sesuai dengan kemampuan, penguasaan dan kompetensi yang dimiliki.  Dengan kata lain ada standar mutu tertentu yang melandasi materi ujian.  Harapannya, lulusannya juga memiliki standar lulusan tertentu dalam kemampuan, penguasaan dan kompetensi yang dimiliki.  Seseorang yang lulus ujian maka ia berhak naik kelas, jabatan, atau kedudukan.  Sebaliknya yang gagal, maka dipastikan akan mengulang atau tetap dalam posisi semula.

Ujian pada dasarnya adalah suatu tahapan yang harus dilewati oleh siapapun yang sudah menjalani proses (pendidikan atau kehidupan) tertentu.   Bila proses dilalui dengan benar, seseorang dipastikan (secara statistik) akan melalui ujian dengan hasil yang memuaskan.  Adapun buah dari lulus ujian, seseorang masuk tahapan (derajad) lebih tinggi dari sebelumnya.  Karenanya ketika seseorang secara sadar dan sabar, melewati berbagai proses dan ujian, dipastikan orang tersebut memiliki derajad yang tinggi dalam kehidupannya.  Orang tersebut menjadi arif memahami persoalan kehidupan dan mampu memberi pencerahan bagi manusia lainnya.

Fakta kehidupan menunjukkan tidak banyak orang memahami perihal ujian.  Penulis meyakini, andai saja bangsa Indonesia melewati proses dengan benar pasti lulus dengan hasil kejayaan Indonesia dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.  Bangsa Indonesia boleh berbangga bahwa ada ketangguhan dan proses yang kuat dalam hal ketahanan ideologi nasional, sehingga lolos dan lulus mempertahankan keutuhan NKRI dan dasar negara Pancasila.  Namun, sungguh pantas kuatir terhadap proses-proses penyelenggaraan negara.  Karena banyak proses-proses yang berjalan tidak semestinya dan ujiannya pun sekedarnya.

Fenomena penyalahgunaan wewenang dan KKN masih saja terjadi dalam bisnis penyelenggaraan pemerintahan.  Banyak orang memahami makna korupsi terbatas hanya perihal yang merugikan keuangan negara, tetapi pada saat yang sama mereka menerima gratifikasi.  Itu terjadi terutama di dalam instansi penegak hukum, kepabeanan, perpajakan atau instansi yang berhubungan dengan pihak swasta.  Padahal gratifikasi adalah saudara kandung KKN dan penyalahgunaan wewenang.

Mengapa mereka melakukan hal itu?  Bukankan gaji, tunjangan dan fasilitas negara sebenarnya relatif cukup.  Seorang Gayus sudah menerima setara 12 juta rupiah per bulan, namun masih menerima gratifikasi.  Apa yang terjadi?  Apakah Gayus terbawa dengan lingkungan kantornya yang ia lihat banyak orang melakukan hal yang sama?  Apakah Gayus aji mumpung?

Fenomena Gayus atau orang-orang lain dengan kasus sejenis memperlihatkan kegagalan menjalani proses kehidupan ini, dan tentunya tidak lulus.  Gayus kemungkinan tidak tahu, tidak mampu, atau tidak percaya diri kalau sedang menjalankan proses pembelajaran dalam kehidupan.  Dengan kata lain Gayus kurang sabar dan sadar bahwa di belakang proses kehidupan akan ada ujian dan jaminan kenaikan derajad kehidupan yang sesungguhnya. Derajad itu berupa kemuliaan hidup di dunia dan akherat, yang tentu saja tidak terukur dengan sekedar nilai-nilai duniawi semata.

Bagaimana kiat-kiat agar dapat melaksanakan proses kehidupan dan melewati ujian dengan memuaskan.  Pertama, banyak membaca.  Penguasaan terhadap bahan bacaan, atau sumber lain (internet, diskusi, travelling, atau multimedia) melatih dan memperluas kemampuan otak untuk mengambil keputusan secara lebih cermat.  Banyak membaca akan memperkuat kemampuan analisis sintesis di dalam menelaah kehidupan.  Ini juga akan melatih sikap sabar, cermat dan berpikir komprehensif.  Kebanyakan orang yang suka membaca, bersifat lebih tenang, percaya diri, dapat mengendalikan sikap dan perilakunya dari emosi atau hal-hal negatif.  Banyak membaca, tentu saja memperluas aspek kognitif dan afektif psikomotorik bila pengetahuan diimplementasikan secara nyata dalam kehidupan.

Kedua, bersosialisasi.  Usahakan berkumpul dengan orang-orang yang berilmu, para agamawan, atau orang-orang biasa (seperti karyawan rendahan).  Bersosialisasi demikian bukan saja mendapatkan tambahan pengalaman untuk menjalani proses kehidupan, tetapi juga melatih kepekaan terhadap kehidupan orang lain.  Mengapa demikian?  Karena kelompok mereka ini adalah orang-orang yang mudah terimbas (kerugian) akibat perubahan lingkungan atau kebijakan.   Karenanya, bersosialisasi secara inklusif dengan mereka juga dapat memberikan strategi untuk membantu kepentingan banyak orang.  Penulis sangat prihatin, banyak pejabat negara lebih suka bergaul dan mengikuti gaya hidup eksklusif kelas atas, bermewah-mewah, menggantungkan kehidupannya dari gratifikasi pengusaha, tanpa mengindahkan norma agama.  Mereka tidak menyadari harta gratifikasi yang diterima justru menjerumuskan diri dan keluarganya.  Penulis juga sangat sedih, banyak pejabat negara tidak bersosialisasi dengan tetangganya, tidak mau mendatangi mesjid atau forum-forum pengajian.

Ketiga, rendah hati.  Sudah saatnya kita semua berlatih rendah hati apapun pangkat dan kedudukannya.  Seorang Budiono, walaupun wapres bisa bersikap demikian.  Sikap ini perlu dilatih dengan mengingat bahwa atribut apapun tidak bermakna ketika menghadapi kematian.  Bagi pejabat, rendah hati adalah modal dasar bagi upaya-upaya peningkatan pelayanan publik.  Rendah hati akan membangun karakter egaliter bagi terbangunnya masyarakat madani dan terwujudnya good goverment.  Dengan rendah hati, dapat merasakan kehidupan atau melihat sudut pandang orang lain.  Sudah tidak saatnya lagi mengatakan: “Aku sempat mempertaruhkan nyawa berperang mempertahankan negera ini”.  “Aku yang menyusun Undang-undang itu”.   Secara tidak sadar mereka ini menunjukkan kesombongan dan mempersempit wawasannya sendiri.  Mereka tidak menyadari masih banyak penduduk di daerah terpencil yang harus dibantu.  Saat ini …he..he.. rasanya tidak pantas lagi ada pejabat yang egois seperti itu, feodal, ngebos, yang minta dilayani.  Itu sudah masa lalu bro….

Di sisi lain penulis kagum dengan dedikasi dan ketabahan dokter, bidan, perawat, guru atau LSM yang bekerja dengan penuh pengabdian di wilayah pelosok, yang berjuang untuk kepentingan masyarakat, yang bekerja tanpa pamrih dalam keterbatasan peran negara.  Sungguh.. mereka inilah para pejuang dan pahlawan sejati!!

Keempat, jujur dan ikhlas.  Bersikap jujur dan ikhlas sangatlah nyaman.  Bersikap jujur, terbuka dan ikhlas pada dasarnya berupaya meredam pikiran atau rasio dan melatih kesabaran untuk memahami fenomena yang sedang terjadi.  Bersikap jujur lebih simpel dan mudah untuk menelaah permasalahan kehidupan.  Bersikap ikhlas tidak berarti mengalah atau menyerah, namun lebih melihat sesuatu yang lebih bermakna dan bermanfaat dengan memperlajari fenomena kehidupan (hukum-hukum Allah).  Banyak pejabat negara bersikap mempertahankan jabatannya dan tidak ikhlas diganti, hidup berpura-pura mengejar gengsi, malu menerapkan (hidup) kesederhanaan, tersinggung bila diberi masukan, iri bila ada kawan yang naik jabatan, dan sebagainya.  Mereka ini ketakutan menghadapi kehidupan karena membiarkan pikiran-pikirannya melihat hal hal buruk dan negatif.  Mereka takut tidak mendapatkan rejeki.  Pikiran tersebut sesungguhnya sangatlah mengganggu dan mendatangkan stres.  Memang tidak mudah mengelola pikiran untuk bersikap jujur dan ikhlas, karena hal ini memerlukan penguasaan (kedalaman) ilmu agama dan kebiasaan mempraktekkannya.

Kiat-kiat di atas sebenarnya berupaya menempatkan otak dan pikiran berada dalam suasana pembelajaran, asah, asih dan asuh untuk memahami kehidupan orang lain dan lingkungan.  Fungsi otak diperluas dan diseimbangkan antara kehidupan individu dan sosial, rasio dan emosi, duniawi dan rohani, ilmu dan seni, maupun kepastian dan ketidakpastian.  Kiat-kiat tersebut menempatkan manusia untuk sabar dan tangguh, dan meyakini bahwa kekuatan Allah akan melindungi umatnya.  Kiat-kiat tersebut menjadikan manusia memiliki nilai, karakter dan integritas.

Hidup ini indah, nikmati prosesnya, lewati ujiannya.  Jangan biarkan pikiran membelenggu.  Jangan takut.   Saat ini sudah banyak saudara-saudara kita sudah melakukan hal ini, berada di jalan ini.  Berlomba-lomba menuju di jalan kemuliaan.

Selamat untuk peserta PPRA 45.  Mari bekerja keras untuk kejayaan bangsa.  Merdeka!

Pancagatra, Jakarta, 6 Desember 2010

6 Responses to Ujian …. (lagi)

  1. pak cah says:

    Terima kasih Ustadz Profesor Iwan Nugroho (UPIN)….
    Ujian itu adalah keniscayaan….
    Kita lulus ujian itu adalah sebuah ujian baru,
    tidak lulus ujian juga bentuk dari ujian….
    Lulus dengan Sangat Memuaskan adalah ujian, apakah kita bersyukur atau sombong…
    Lulus dengan Memuaskan adalah ujian, apakah kita marah atau introspeksi diri…
    Selamat menempuh ujian berikutnya, UPIN…
    Rekan-rekan sering bilang “Badai Pasti Berlalu”,
    dan saya selalu menambahkan “Dan Akan Datang Badai Baru”,
    karena begitulah hidup kita seterusnya….

  2. Karma Suta says:

    * “Ujian”–> Memang bagian dari kehendak`NYA, sebagaimana Firman`NYA yg telah disampaikan di atas…..

    * Menurut pendapat saya, “UJIAN” dalam skala yg kecil2 juga selalu dihadapi setiap saat dalam kehidupan kita (mulai bangun Tidur sampai beranjak Tidur kembali)….dan TINGKAH LAKU/UCAPAN kita merupakan jawaban dari setiap persoalan yg diujikan….ada yg mampu menjawab SEMPURNA, ada yang sekedar LULUS, bahkan tidak jarang yang mendapat nilai rendah…..JADI, kita harus pandai2 membaca setiap persoalan yg diujikan.

    * Kebersamaan yang INDAH, Bravo PPRA-45.

  3. iwan says:

    Saya belajar banyak dari pak Karma. Selama PPRA 45 ini, bapak sdh menunjukkan teladan tetang hal tersebut di atas. Terimakasih atas komentarnya

  4. riman says:

    Syukron banget atas tulisannya, semoga bermanfaat dan menjadi amal shaleh Prof. dalam menghadapi kehidupan di alam fana ini. Amiien. Sekalian saya ijin untuk saya sharing-kan ke teman lain. Semoga menjadi amal jariyah Prof.

    • iwan says:

      terimakasih mengunjungi blog saya. tentang ujian ini … pak riman adalah ahlinya. smg sukses, salam utk keluarga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: