Menunggu..

Setiap orang pernah, sering, terpaksa, atau terbiasa dengan aktivitas menunggu.  Menunggu adalah faktor waktu dan ruang yang diakibatkan oleh gap dari suatu kejadian yang tidak segera terselesaikan.  Dampak dari menunggu bisa berupa hal-hal negatif atau positif.  Hal yang negatif, yang kebanyakan dirasakan adalah frustasi, marah, sewot, atau hal-hal destruktif lain.  Dampak positifnya adalah seseorang mampu memanfaatkan (ruang) dengan kegiatan yang produktif, bahkan menjadi ide-ide yang luar biasa.  Tidak banyak orang yang melakukan atau menghasilkan hal-hal positif selama menunggu.

Menunggu terjadi dimana-mana, bisa di bandara, stasiun, pesawat, kereta, mobil, praktek dokter, pintu KA, mall/pasar dan tempat lain.  Bahkan menunggu bisa menjadi ‘pekerjaan’, misalnya mahasiswa menunggu dosen pembimbing; rekanan menunggu boss pemberi proyek; sopir menunggu majikan, atasan atau bos; pasien menunggu dokter; menunggu kemacetan Jakarta.

Bandara Soekarno Hatta (Soetta)  merupakan salah satu bandara sibuk di dunia dengan jumlah penumpang 34 juta orang pada tahun 2009, serta 40 juta penumpang pada tahun 2010.  Padahal kapasitas maksimum bandara hanya 22 juta penumpang per tahun. Itu semua berakibat mismanajemen kepada teknis keterlambatan berangkat dan kedatangan pesawat  (1,2).  Penumpang menumpuk di seluruh bagian bandara, di ticketing, check in, koridor pintu (gate), hingga di ruang tunggu (boarding).  Suatu saat penulis terjebak menunggu cukup lama di bandara Soetta.  Apa yang terjadi? Di dalam ruang tunggu, terlihat beberapa penumpang sedang marah, berteriak dan memaki petugas, karena pesawat terlambat dengan waktu yang relatif lama.

Di saat lain di bandara Soetta, di dalam ruang tunggu penulis melihat seorang penumpang memperagakan sulap.  Agaknya ia memang penghobby sulap yang sudah mempersiapkan travel kit sulap dalam berbagai kondisi.  Segera saja semua penumpang tertawa, tersenyum, bahkan ada anak kecil terpingkal-pingkal menikmati sajian dan atraksi gratis tersebut.  Saat lainnya penulis pernah melihat sekelompok orang seusia mahasiswa sedang duduk bersila .. ramai dan heboh mengisi waktunya dengan bermain kartu.

Di saat yang lain di bandara Soetta juga, penulis mengamati perilaku penumpang saat menunggu di suatu gate.  Penulis berjalan mengamati ruangan gate dan mencoba mengamati aktivitas mereka.  Saat itu jumlah penumpang berkisar 175 hingga 200 orang (ada yang keluar masuk gate, atau ke toilet).  Penulis melihat ada sekitar 12 hingga 15 orang memegang koran, majalah atau tabloid; lima orang memegang buku, dan lainnya mengobrol atau sedang asyik sendirian.  Dari mereka yang mengobrol dan sendirian itu, sekitar 90 hingga 100 orang sedang memegang handphone (HP).  Penulis mengamati ada tiga orang sedang bekerja dengan laptop.

Angka itu tentu bisa diperdebatkan.  Bagi penulis, tentu saja angka itu luar biasa dan sangat bermakna.  Pertama, HP merupakan pilihan utama saat menunggu.  Penulis sangat mengerti bahwa HP bermanfaat untuk banyak hal, misal untuk komunikasi oral, email, data transfer, office.  Tapi lucu.., diantara penumpang itu ada yang memegang HP sambil senyum-senyum, tersipu.. seolah-olah sedang bercanda, berdialog dengan kawan jauhnya.  Mungkin mereka sedang facebook, atau saling sms atau email untuk berbagi joke mengurangi kebosananan/kejenuhan.  Kedua, sangat sedikit penumpang yang membaca buku atau majalah.  Penulis meyakini bahwa membaca buku/hardcopy lebih tinggi memuat aspek serapan pengetahuan.  Karena membaca buku membutuhkan (niat) persiapan, perencanaan sehingga target serapan materi buku bisa diperoleh dengan baik.  Dan tentu saja membaca buku adalah pekerjaan yang serius dan bermanfaat.  Tentang hal ini, kita perlu mencontoh Singapore atau negara eropa.  Disana, khususnya di bandara, para penumpang mengisi waktu menunggu lebih banyak dengan membaca buku/majalah dibanding memegang HP.  Toko buku atau majalah (tabac) penuh sesak orang memilih bacaan.  Di Soetta, toko buku sangat sepi.. pi…

Saat memulai gagasan naskah ini, penulis juga sedang menunggu .. barang satu hingga dua jam di suatu masjid kecil di desa Plosokidul, kecamatan Brenggolo, kabupaten Kediri.  Ada sekitar enam orang yang sudah selesai sholat Dhuhur.  Bagaimana perilakunya? Empat orang sedang memegang HP (termasuk seorang sambil tiduran) dan dua orang duduk (termasuk penulis)

Fenomena HP dan menunggu di bangsa ini adalah fakta.  Tidak salah produsen, operator seluler, dan corporate berbasis bluechip asing ramai-ramai masuk ke Indonesia, mengandalkan Indonesia sebagai pasar utama.   Mereka mengeruk manfaat ekonomi domestik dalam jumlah luar biasa dari … aktivitas menunggu.  Dengan kata lain …. di saat kita sedang lengah .. membuang-buang waktu saat menunggu… justru mereka yang menikmati dan diuntungkan.

Tentu saja kerugian tersebut harus dicegah.  Waktu, termasuk waktu selama menunggu harus dioptimalkan untuk hal-hal yang bermanfaat.  Harus ada perencanaan atau persiapan yang matang dan cermat untuk memanfaatkan waktu sehingga menghasilkan produktivitas.  Kita yang harus mengendalikan waktu, bukan sebaliknya.  Berikut ini beberapa tip untuk mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan berhadapan dengan waktu menunggu.

  1. Mempersiapkan atau merencanakan materi pengetahuan yang akan diperoleh.  Di dalam otak harus senantiasa tersimpan kebutuhan-kebutuhan pengetahuan tambahan.  Jangan biarkan otak kosong seperti orang melamun.  Misalnya, seorang suami dapat saja memikirkan tugas kantor seminggu ke depan.  Karenanya ia perlu menyiapkan materi/alat tugas dan tertata rapi di dalam mobil.   Juga seorang mahasiswa perlu senantiasa menyimpan buku teks di dalam tas kuliah.  Sehingga ketika tiba-tiba harus menunggu, maka buku, alat atau bahan segera termanfaatkan.  Hal ini dikerjakan oleh pesulap seperti yang diuraikan sebelumnya.  Penulis sering melihat kaum ibu jaman dulu (tahun 1970an) membawa perlengkapan merajut dalam perjalanan.
  2. Mengenali tempat/ruang tujuan.  Kemampuan mengenali ruang sangat membantu untuk mengusir kebosanan saat menunggu.  Untuk keperluan membaca, seseorang sangat menikmati ruang yang tenang.  Terlebih bila ada stop kontak, maka ini dapat digunakan untuk bekerja dengan laptop.  Ada seorang kawan dosen yang tasnya berisi laptop, LCD, dan cable box.  Hal ini diperlukan sewaktu-waktu untuk melayani konsultasi dengan mahasiswa.  Sepasang suami istri yang masuk mall dapat saja terpisah di dua tempat, istri di bagian baju/kain, suami yang tidak tahan menunggu istrinya beralih ke alat-alat elektronik.
  3. Membiasakan menulis.  Saat menunggu, gunakan waktu dengan menulis, membuat coretan untuk mengungkapkan gagasan atau pikiran.  Jangan ragu untuk menggerakkan tangan menulis/menggambar di kertas. Hal ini untuk melatih otak merealisasikan potensinya.  Otak sebenarnya memiliki kemampuan yang besar, lebih dari yang dibayangkan orang.  Hanya saja tidak banyak orang menyadarinya.  Di saat menunggu itulah, karena tekanan atau keterpaksaan terkadang lahir ide brilian. Jangan membiasakan menulis/mencoret/menggambar gagasan di HP, laptop atau perangkat elektronik.  Penulis meyakini untuk mengembangkan ide sebaiknya melibatkan psikomotorik dengan menulis di kertas.  Perangkat elektronik berfungsi mengerjakan/mengoperasikan ide menjadi kenyataan.

Seiring dengan kemajuan pembangunan, sekalipun masih terbatas, di beberapa tempat publik dimana banyak orang menunggu, mulai tersedia alat, materi atau peraga yang kondusif mengurangi kebosanan. Di rumah makan disajikan permainan anak-anak, Di mall, mulai terlihat layanan pijat.  Di alun-alun atau tempat terbuka, ada toko kedai buku, koran dan majalah dinding.

Bintang Mulia Hotel, Jember, 21 Januari 2011

4 Responses to Menunggu..

  1. Karma Suta says:

    * Terimakasih pencerahan “hasil memanfaatkan waktu di Hotel Bintang Mulia”nya prof…..Rrruuaaarrr biasa memang, bukan sekedar basa-basi, sambil menunggu aktivitas selama di Jember, lahirlah karya….. Bravo`45.

    * Tidak sedikit yang kurang mampu memanfaatkan waktu selama menunggu dosen menyampaikan materi selama 2 jam pelajaran di depan kelas (acuh bahkan tertidur pulas)….mungkin ada persepsi yg berbeda bagi orang tersebut prof, itu dianggapkan sebagai optimalisasi “menunggu waktu sampai dosen selesai cerita”.

    * Sukses selalu, salam hormat untuk keluarga…

    • iwan says:

      terkadang susah memanfaatkan waktu.., kurang sabar. padahal kalau dimanfaatkan dengan membaca.. jadi tidak terasa.. bahkan bermanfaat. terimakasih commentnya pak karma.

  2. Memang tidak enak menunggu itu… Jadi, betapa luar biasa orang yang pekerjaannya MENUNGGU. Misalnya Penjaga Palang Pintu Kereta Api. Setiap hari dia menunggu kereta api lewat, padahal tidak untuk naik kereta api. Bagus kalau mereka bisa menulis ya Prof, sehingga tidak menganggur waktu menunggu kereta lewat…..

    • iwan says:

      menghargai waktu dan budaya membaca bisa menjadi cara memanfaatkan waktu. apakah penjaga pintu KA punya petunjuk praktis tentang hal ini. Ini menarik utk dilihat. Terimakasih pak cah atas komentarnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: