Pesona Ekowisata Candirejo, Borobudur

Harapan itu akhirnya terpenuhi.  Tepatnya tanggal 21 Juni 2011, penulis berhasil tiba di Desa Candirejo, Kecamatan Borobudur, kabupaten Magelang.  Penulis merasa sangat bersyukur karena ada kemudahan yang membawa penulis bisa mengunjungi desa yang populer ini.  Sungguh surprised, kegiatan yang tujuan utamanya untuk finalisasi penerbitan buku (berjudul Ekowisata dan Pembangunan Berkelanjutan) di penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta itu; berbuah manfaat luar biasa.

Saat selesai dari kantor penerbit, penulis akhirnya dapat berkomunikasi langsung dengan Prof Irwan Abdullah (UGM Yogya).  Beliau mengundang penulis untuk bertemu di Gedung Plengkung Program Pascasarjana (UGM) lantai V.  Ternyata di sana sudah ada Mayjen Toni Husodo (Direktur Pendidikan Lemhannas) dan ibu Tris (juga staf Lemhannas).  Kami bersilaturahim dalam nuansa kehangatan dan memori kebersamaan PPRA 45.  Hari itu, mereka berdua sedang menjalankan ujian komprehensif studi Doktor.  Singkat cerita, Prof Irwan ternyata sudah menyediakan supir untuk mendampingi penulis menuju desa Candirejo dan “kemana saja penulis mau”.  Luar biasa kawan satu ini.

Driver Pak Rokim sudah siap menunggu penulis di lantai dasar gedung.  Beliau ternyata juga tidak banyak tahu tentang desa Candirejo.  Perjalanan diarahkan langsung menuju kota Muntilan dan berbelok ke kiri menuju kawasan Borobudur.  Kami sempat berhenti dua kali untuk bertanya kepada penduduk tentang posisi desa Candirejo.  Singkat cerita, membutuhkan waktu tidak lebih 60 menit dari kampus UGM ke desa Candirejo menggunakan mobil pribadi.  Desa Candirejo berada di wilayah kecamatan Borobudur, kabupaten Magelang, terletak pada posisi geografi 7o 37’ 35’’ lintang selatan (LS) dan 110o 13’ 34’’ Bujur Timur (BT); pada ketinggian 250 hingga 350 m diatas permukaan laut.

Memasuki desa Candirejo kita disambut jalan aspal halus dan cukup untuk berpapasan mobil.  Kiri kanan jalan merupakan lahan pekarangan penduduk sebagaimana desa di Jawa umumnya.  Berbagai memori perihal Candirejo sudah cukup banyak penulis baca.  Itu cukup menjadi modal ketika masuk memahami dan mengenal desa ini.

Kami berhenti di kantor Desa di suatu pertigaan di tepi kanan jalan.  Mata penulis tertuju pada suatu kantor koperasi di sebelah kantor desa.  Penulis masuk dan ditemui perempuan muda dan pemuda usia belasan tahun.  Sesudah saling berkenalan.  Mereka berdua menanyakan maksud kedatangan penulis. Langsung penulis katakan bahwa ingin menginab semalam.  Mereka kaget dan saling pandang, penulis sendiri juga heran dengan keadaan ini.  Akhirnya mereka menyampaikan layanan-layanan ekowisata yang ditawarkan, pengorganisasian, dan hal-hal teknis lainnya.

Pemuda itu bernama Ersi (lengkapnya Ersidik), menjelaskan secara singkat dan jelas sambil menyelami pemahaman penulis.  Katanya:”Semua layanan berawal dan berakhir dari kantor koperasi.  Permintaan pengunjung diorganisasikan dan difasilitas oleh koperasi, dan menghubungkan dengan pelaku jasa homestay, transportasi dokar, atraksi seni, penyediaan guide dan hal lain sesuai permintaan pengunjung.  Begitu mengakhiri kegiatannya pengunjung juga melaksanakan pembayaran di kantor koperasi”.  .. Sungguh luar biasa.  Akhirnya penulis memilih jasa homestay, konsumsi dan dokar village tour (DVT), sekaligus difasilitasi untuk pulang menuju terminal bis esok harinya.  Setelah itu penulis di menuju homestay yang berjarak 100 m dari kantor koperasi.

Begitu sampai di homestay penulis disambut pemiliknya, yakni bapak dan ibu Dono. Pasangan berusia lebih  enampuluhan itu mempersilakan penulis menunggu untuk menyiapkan kamar.  Pada saat yang sama penulis menurunkan tas dari mobil dan  menyampaikan terimakasih kepada pak Rokim atas jasa baiknya mengantar penulis.

Homestay merupakan rumah biasa yang dianggap layak untuk menerima tamu dan berbagai hospitality lainnya.  Ersi yang merupakan sekretaris koperasi, menyampaikan bahwa koperasi sedang mengembangkan standar untuk homestay, dan secara bertahap akan diterapkan, misalnya punya kamar memiliki dua bed, kamar mandi di dalam rumah, punya ruang tamu.  Konsep pengembangan homestay tidak harus membangun baru, tetapi memanfaatkan rumah yang memiliki kelebihan kamar.  Sambil menunggu, Penulis minta kepada Ersi untuk dipertemukan dengan pejabat desa malam ini.  Ersi menjanjikan untuk bertemu dengan ketua koperasi, yang akan segera diberi kepastiannya.  Setelah itu Ersi meninggalkan penulis untuk kembali ke kantor koperasi.

Homestay milik pak Dono ini merupakan rumah yang berukuran besar.  Rumah berbentuk L dengan ukuran rumah utama sekitar 8×16 meter persegi, yang terdiri lebih dari empat kamar.  Rumah ini cukup megah, berdinding tembok, ada listrik, berlantai keramik, berplafon, dengan ruang keluarga dan ruang tamu cukup luas.   Saat itu sekitar jam 15.00, dan sinar matahari cukup terang masuk ke dalam rumah.  Penulis disilakan masuk kamar yang berukuran kurang lebih 3×4 meter persegi, di dalamnya terdiri satu bed kasur besar, satu meja dan satu kursi.  Penulis segera membuka tas dan mengeluarkan beberapa perlengkapan.  Penulis mengecek sinyal handphone, serta men-charge laptop dan kamera.  Penulis sempat cek sinyal internet IM2, ternyata kuat, namun tidak connect.  Di Candirejo ini hampir semua operator seluler besar beroperasi, antara lain Kartu Halo, Simpati, Xl dan IM3.

Dari dalam kamar penulis mendengar ibu Dono sedang sibuk di dapur.  Pak Dono sedang berada di ruang keluarga atau tengah.  Segera setelah ganti baju, penulis menemui pak Dono.  Kami saling berkenalan lebih jauh, serta berbincang hal-hal ringan ditemani snak ala desa, yani peyek, kacang, roti kering dan pisang buah; serta teh panas manis.  Mantan tukang kayu bangunan tersebut menceritakan tentang dampak-dampak letusan Merapi, yang juga berakibat kepada menurunnya jumlah tamu wisatawan.  Tanaman rambutan manis (khas Candirejo) juga rusak, pepohonan roboh, dan debu-debu beterbangan yang membuat lingkungan menjadi kotor.

Pak Dono juga menunjukkan buku tamu sambil menceritakan siap-siapa yang pernah menginab di rumahnya.  Penulis mengamati testimoni pengunjung satu per satu.  Di buku itu, kunjungan (testimoni) awal tertulis sejak tahun 2007.  Yang terbaru (tanggal 18 Juni 2011) adalah rombongan mahasiswa S2 dari Universitas Udayana Bali.  Dari luar negeri ada yang berasal dari Laos, Amerika dan Australia.  Buku tamu dalam wujud buku tulis itu cukup bermakna.  Pak Dono juga bercerita tentang adanya kelompok jasa ekowisata di desanya, lokasi-lokasi yang menarik untuk dikunjungi, dan tanaman pertanian.  Penulis mencatat dan sesekali mengaktifkan kamera untuk mengambil gambar di ruang tengah itu.  Penulis sempat terbatuk-batuk karena asyik dengan camilan peyek. Kesan penulis, Pak Dono cukup trampil dan memuaskan untuk menjelaskan seluk-beluk ekowisata di desanya; pada keadaan usianya.  Tutur katanya pelan, mantap, mengalir dan mudah dimengerti (juga tidak ada kesan memaksa diri).  Hal ini mengingatkan penulis kepada pak Mulyadi Bromoputro di desa Ngadas.  Sudah seharusnya penduduk lokal bersikap demikian, ada sikap ngemong dan menemani, sebaliknya tidak terlalu ramai, tidak terlalu diam, juga tidak menghindar.

Sore itu penulis sempat tertidur sebentar saat membaringkan badan di kamar.  Penulis mandi sore sekitar jam 17.00.  Air tidak benar-benar dingin, malah lebih dingin air mandi di Malang.  Kamar mandi berlantai dan berdinding keramik warna biru.  Ada bak air berukuran panjang berlapis keramik yang juga berwarna biru.  Cukup membuat badan segar kembali.  Selesai sholat maghrib, penulis kembali ke ruang tengah.  Pak Dono sudah berada disana dengan tersenyum menawarkan makan malam.  Penulis menyambut antusias tawaran itu dengan harapan segera bersiap menemui ketua Koperasi, yang sebelumnya sudah dipastikan oleh Ersi.  Di meja makan, ada tambahan snak pisang goreng.  Makan malam dengan menu sayur gori (sejenis lodeh nangka muda), tempe dan ada gule kambing.  Penulis makan dengan lahap ditemani oleh peyek kacang yang gurih.

Selesai makan, penulis kembali ke kamar untuk mempersiapkan alat tulis, kamera, dan jaket.  Setelah itu, penulis kembali duduk ke ruang tengah.  Pak Dono memanggil mengajak duduk di teras depan.  Ternyata, di teras sudah duduk Pak Dono di atas tikar pandan.  Penulis kaget dan senang bisa duduk menikmati alam Candirejo dalam keremangan malam.  Dalam udara dingin itu kami berbincang kembali, banyak sekali diceritakan hal-hal terkait ekowisata, jenis produknya, sumber pencaharian penduduk, tokoh masyarakat, dan desa Candirejo itu sendiri.  Desa ini terdiri lima belas dusun antara lain Mangun Dadi, Kaliduren, Palihan, Brangkal, Pucungan, Cikal, Wonosari, Patran, Ngalih, Sangen dan Butuh.

Jarak kami duduk dengan jalan (desa) tidak lebih sepuluh meter.  Kami menyaksikan sepeda (atau pit) dan sepeda motor berlalu lalang.  Rumah ini hanya berpagar tanaman tanpa pintu penutup.   Sesekali mobil juga lewat dengan menyisakan debu putih tersapu dari tanah.  Sesekali penulis menutup hidung. Tiba-tiba penulis tertarik dengan sepeda dengan boncengan dua keranjang tidak jauh dari kami duduk.  Penulis bertanya ke pak Dono: “Apakah sepeda itu dimasukkan ke dalam rumah pada malam hari”.  Mboten, teng mriki aman, jawabnya sambil tertawa.  Di desa telah disusun jadwal ronda, penduduk saling bergantian bertugas ronda.

Tepat jam 19.30 Ersi datang.  Ia menawarkan naik sepeda motor, tapi penulis ingin berjalan kaki saja untuk menuju rumah ketua koperasi yang bernama Tatak Sariawan. Tidak sampai sepuluh menit, kami tiba di sebuah rumah khas Jawa.  Ternyata ini bukan rumah pak Tatak.  Rumah pak Tatak ada di sebelahnya. Penulis masuk ruang tamu yang di dalamnya ada seperangkat gamelan, kursi berjejer dan hiasan wayang kulit.  Kata Ersi, di rumah ini adalah tempat berakhirnya DVT.  Disini pengunjung dapat menikmati snak dan teh hangat diiringi alunan gamelan atau tarian anak-anak.  Pengunjung juga dapat bimbingan bila ingin memainkan gamelan.

Tidak lama kemudian, Pak Tatak masuk menemui kami.  Nama lengkapnya adalah Tatak Sariawan, berusia sekitar empat puluh tahun.  Kami berkenalan dan berbincang.  Penulis menyampaikan maksud kedatangan dan keinginan untuk belajar ekowisata.  Sejak awal memang penulis bisa membaca raut keheranan di wajahnya.  Aneh memang, ada profesor datang sendirian, menginab di desa, hanya untuk belajar.  Keheranan itu kemudian larut dalam kesepahaman untuk membangun ekowisata.  Kami memang sepaham karena berada dalam jaringan ekowisata yang memiliki komitmen yang sama.

Pak Tatak mengawali cerita, bahwa desa Candirejo merupakan desa miskin sekalipun berdekatan dengan Candi Borobudur (peringkat ke 17 dari 22 Desa di kecamatan Borobudur).  Penduduk desa Candirejo berjumlah sekitar 4000 jiwa atau 1200 kepala keluarga.  Luas desa sekitar 350 ha, terdiri pemukiman 100 ha dan lahan pertanian 250 ha

Popularitas Borobudur tidak menetes dalam bentuk kesejahteraan di Candirejo.  Karenanya perlu dikembangkan suatu pendekatan baru untuk memberikan kesejahteraan kepada masyarakat.  Proses panjang ini dimulai sejak tahun 1990an, dan menemukan modelnya pada tahun 2003.  Tepatnya 19 April 2003, desa Candirejo diresmikan Menbudpar I Gde Ardika sebagai desa wisata.  Desa Candirejo dikatakan sebagai mirip Ubud, yang sama-sama memililki suasana alam yang sejuk, hijau, ladang subur, dan pemandangan indah, dipandu keramah-tamahan penduduknya. Di kedua desa juga ada paket wisata rafting.

Sejak tahun 2003, model tersebut diaplikasi, dibina, dikembangkan dan disempurnakan hingga menemukan bentuknya seperti sekarang.   Pak Tatak mengatakan bahwa menjadi pemimpin koperasi ekowisata memerlukan banyak pengorbanan.  Ia lebih mengutamakan kepentingan orang banyak.  Tentu saja pernyataan itu penulis benarkan. Mengapa? Karena leadership dalam ekowisata harus menjalankan visi dan misi konservasi.  Bila tidak, segera saja timbul masalah salah kelola yang berakibat kerusakan lingkungan dan kemiskinan.  Pak Tatak menjelaskan banyak hal, mulai perihal filosofi, pengelolaan hingga hal praktis. Penulis menarik benang merah narasi ekowisata Pak Tatak sebagai berikut.

Ekowisata Candirejo diorganisasikan sedemikian rupa agar memenuhi berbagai aspek secara komprehensif.  Pertama, pengendalian.  Candirejo belajar banyak dari pengalaman di tempat lain.  Candirejo lebih mementingkan stabilitas jumlah pengunjung.  Lebih baik berkembang pelan-pelan secara terkendali dibanding sporadis dan tidak dapat diperkirakan.  Karena itu, kedudukan koperasi sebagai pusat layanan, pencatatan, koordinator, dan pengendalian sangat penting.  Karena itu, setiap wisatawan di Candirejo pasti tercatat di koperasi; dengan kata lain tidak ada wisatawan ilegal.  Koperasi sebagai badan usaha juga harus mempertanggungjawabkan kepada anggotanya.  Dengan demikian salah kelola dapat dideteksi secepatnya, pengendalian dilakukan secara cermat.

Kedua, perlindungan warisan budaya.  Candirejo adalah simbol budaya Jawa.  Desa ini menyimpan situs-situs budaya, mengembangkan seni tradisionil, dan menghormati tata nilai Jawa.  Itu semua menyatu dalam pola pikir, sikap dan tindakan dalam keseharian kehidupan masyarakat.  Stabilitas tata nilai tersebut tercermin dalam wujud kedamaian, rasa aman, keramah-tamahan dan toleransi menerima budaya lain dari setiap pengunjung.  Model ekowisata bersinergi dengan tata nilai Jawa, sekaligus untuk mengembangkan seni tradisional untuk disajikan kepada wisatawan.  Atraksi kesenian meliputi jathilan, gatuloco, dayakan, kubrosiswo, wayangan dan karawitan.  Desa ini juga mengadakan tradisi pengajian karena sebagian besar penduduknya adalah muslim.  Umumnya, pengunjung asing sangat menikmati tradisi budaya Jawa dibanding wisatawan domestik.  Pada tahun 2010, jumlah wisatawan asing (1872 orang) lebih tinggi dibanding domestik (1077 orang).  Keadaan ini menjadi trend dalam lima tahun terakhir.

Ketiga, partisipasi masyarakat.  Posisi koperasi hanya mengkoordinasi dan memfasilitasi layanan ekowisata.  Pelakunya adalah masyarakat yang meliputi kelompok-kelompok homestay  (20 anggota), katering, pemanduan, transportasi dokar (14, dari sekitar 60 dokar di seluruh Borobudur)), seni tradisionil (8), dan rafting.  Koperasi mendistribusikan secara adil dan merata manfaat ekonomi bukan hanya kepada pelaku ekowisata, tetapi juga mendonasikan sebagian keuntungan kepada dusun yang memiliki obyek ekowisata.  Pada akhir tahun, Dusun yang tidak terlewati jalur ekowisata juga mendapatkan donasi dari sisa hasil usaha (SHU) koperasi.

Keempat, harmoni.  Pak Tatak memastikan bahwa harmoni di Candirejo adalah lebih utama diatas segala-galanya.  Karena itu kehadiran ekowisata harus seiring dengan terpeliharanya harmoni di dalam masyarakat maupun dengan komponen ekonomi, sosial dan lingkungan.  Hanya dengan pengendalian yang ketat, maka harmoni dapat dimonitor dan dipelihara.   Ekowisata Candirejo telah berusia lebih dari tujuh tahun.  Menurut pengalaman, tidak mudah mempertahankan dalam periode tersebut.  Dengan memelihara harmoni dan pengendalian yang kuat, pengunjung akan memperoleh tambahan pengalaman yang konsisten.  Layanan ekowisata penuh dengan unsur-unsur pendidikan dan tidak membosankan.

Kelima, konservasi lingkungan.  Candirejo berada di hulu kali Progo dan Pabelan, bahkan juga mengalir kali Sileng di desa ini.  Desa ini berada di dataran (sebelah utara dan timur) yang dilingkupi oleh bukit Menoreh yang terkenal itu, dengan fisiografi datar dan bergelombang.  Sebagian besar wilayah Candirejo merupakan tegalan dengan tanaman palawija.  Dahulu masih ditemukan banyak tanah berwujud sawah, tetapi ini berubah karena pembangunan pemukiman dan tidak beroperasinya infrastruktur irigasi.  Dalam posisi ini,  potensi erosi sangat tinggi terlebih tekstur tanahnya berdebu (termasuk letusan Merapi tahun 2010).  Dalam musim kemarau debu itu mudah tersapu angin, di musim penghujan mudah terbawa aliran permukaan (surface runoff).   Oleh karena itu, diyakini daya dukung lingkungan desa Candirejo cenderung lemah.   Keberadaan ekowisata memberikan alternatif mata pencaharian tidak hanya dari pertanian, sekalgus mengurangi tekanan ancaman konservasi pada lahan pertanian.

Tidak terasa, waktu menunjukkan jam 21.15.  Penulis ingin segera pamit namun nampaknya Pak Tatak masih ingin lebih jauh berdiskusi.  Namun sebagai orang Jawa, ia mengerti dan menghormati tamu.  Ia berpesan, supaya penulis mengabarkan ekowisata Candirejo ke siapa sana.  “Kami juga ingin diberi masukan agar ekowisata Candirejo berkembang lebih baik”, katanya.  Penulis kembali ke homestay dengan menembus kegelapan malam dalam keremangan suasana desa.

Menjelang Shubuh 22 Juni 2011, penulis terbangun.  Di dekat homestay, terdengar jelas dua pengeras suara dari masjid terdekat.  Setelah sholat, penulis berbenah untuk mempersiapkan aktivitas hari itu.  Sekitar jam 5.30 penulis kembali mengobrol dengan pak dono di ruang tengah.  Kami sarapan pagi bersama dengan berbincang ringan.  Kemudian kami berpindah duduk di teras depan beralaskan tikar sebagaimana malam sebelumnya.  Namun penulis buru-buru masuk ke kamar mengambil jaket karena suhu cukup dingin dan berangin pada pagi itu.  Cuaca pagi itu cerah dan kering.  Penulis berkali-kali menggigil ketika udara dingin menusuk.  Dalam kesempatan itu pak Dono menuraikan beberapa situs yang banyak dikunjungi wisatawan, antara lain watu kendil, toyo asin, watu tumbak, tempuran kali Progo dan Pabelan.

Tepat jam jam 6.30, Ersi menjembut penulis untuk DVT.  Dokar untuk tour berukuran kecil, dapat memuat empat orang termasuk sais dan pemandu.  Saisnya adalah pak Margiat, berpakaian beskap Jawa dan berblangkon.  Usianya sekitar empat puluhan.  Ersi yang berpakaian kasual lengan panjang, akan memandu langsung tour ini.  Kunjungan pertama adalah ke arah utara Balai Desa.  Dokar memasuki jalanan desa yang rapi, rata, bersih dan teratur.  Di setiap pemukiman selalu ada sapa ramah penduduk.  Ersi menjawab dengan wajar, sambil menjawab sopan.  Penulis tersenyum karena beberapa kali Ersi menjawab sapaan penduduk dengan: “Nggih, tamune piyambakan mawon”.  Penulis juga merasakan hal ganjil hanya mengantar seorang wisatawan.  Pembangunan infrastruktur jalan adalah bagian dari awal pengembangan ekowisata.  Jalanan demikian sangat nyaman bagi penumpang dokar.  Sesekali dokar bergoyang atau berayun lembut ketika jalan menurun, naik atau berbelok. Kami berhenti di suatu tempat dengan jalanan tanah berdebu.  Ersi menyebut ini sebagai tempat bersejarah.  Disini ditemukan banyak puing-puing berupa batu bata, batu simbol dewa Syiwa dan batuan lain.  Ersi mengajak ke tempat agak tinggi yang ternyata adalah bibir kali (sungai) Progo.  Di googleearth, kali Progo meliuk membelah desa Candirejo.  Posisi penulis berdiri terhadap permukaan air sungai sekitar 20 meter vertikal ke bawah.  Lebar sungai ini sekitar 75 meter.  Air mengalir relatif tenang sehingga cocok untuk rafting bambu.   Ersi juga menunjukkan ketinggian air kali Progo saat terjadi aliran lahar dingin letusan Merapi.

Ersi kemudian mengajak berjalan ke tempat lebih tinggi, mengunjungi sendang kapit kuburan (danau di antara dua makam).  Sendang berdiameter 4 m tersebut merupakan sumber air.  Kami turun melewati makam dan lahan dengan kerapatan tanaman yang tinggi, terutama bambu.  Banyak bambu yang patah karena hempasan material letusan Merapi.  Herannya, bambu-bambu tersebut dibiarkan saja.  Hal ini justru positif untuk memelihara tata air.  Sendang nampaknya berair jernih dan dangkal, di dasarnya terlihat batuan seperti dinding candi.  Menurut Ersi, danau ini tidak dimanfaatkan penduduk dan dikeramatkan.  Pada hari-hari tertentu di datangi orang untuk bersemedi atau menjalankan ritual tertentu.

Tujuan berikutnya adalah mengunjungi home industri singkong.  Disini singkong di olah dengan mesin parut, pastanya kemudian disaring, dijemur, dan dijadikan kripik dengan aneka rasa.  Home industri ini disajikan kepada pengunjung untuk memahami proses pengolahan atau sebagai buah tangan.  Bahan baku singkong diperoleh dari lahan di sekitar  desa.

Dokar kemudian beranjak menuju Tuk Banyu Asin (sumber air bergaram).  Jalanan menuju tempat ini menurun ke arah sungai Sileng.  Memang agak aneh, sumber air garam bertempat di sisi atas sungai.  Disitu ada kubangan berdiameter 60 cm dengan kedalaman 30 cm, dari bawahnya keluar gelembung air bergaram.  Airnya memang tidak terlalu asin.  Ini merupakan proses geologis alami, dimana sumber air mengalir melalui batuan atau massa tanah bergaram.

Dokar selanjutnya beranjak lagi.  Di jalan penulis sempat berhenti untuk berfoto mengabadikan Bukit Menoreh.  Bukit tersebut benar-benar kokoh di tempatnya.  Di beberapa bagian, nampak permukaan tanahnya terbuka menandakan erosi.   Bukit Menoreh menjadi saksi sejarah berbagai generasi di wilayah Mataram dan sekitarnya. Dokar selanjutnya menuju rumah tempat diskusi dengan pak Tatak semalam.  Penulis tidak lama disini, namun sempat memainkan gamelan sejenak.  Kami kemudian segera pergi.  Dokar memasuki jalanan desa di sisi selatan.  Dokar kadang berhenti atau berjalan pelan karena mendahulukan sepeda, pejalan kaki, atau saat menyapa petani.  Sesudah beberapa kali berbelok, kami melewati jalanan aspal halus.  Ini merupakan jalan alternatif Magelang Ketika jalanan mau menurun, dokar menepi.  Ersi mengajak berjalan kaki melewati ladang dan pekarangan.  Kami berhenti di suatu hamparan terbuka dengan pemandangan menakjubkan.  Di hadapan kami adalah Tempuran ( bisa berarti pertemuan atau pertempuran), atau tempat bertemunya tiga sungai yakni Progo, Sileng dan Pabelan.  Sungguh luar biasa pemandangan ini.  Kata Ersi, sebelum Merapi meletus, di sekitar dataran aliran sungai biasa ditempati warung lesehan.

Saat itu waktu menunjukkan jam 8.50.  Tour nampaknya berakhir Tempuran ini.  Dokar kemudian kembali mengantar Penulis ke homestay melalui jalan aspal halus.  Arah jalan ini adalah ke utara menuju candi Borobudur, sebaliknya adalah ke Yogyakarta.  Dalam perjalanan penulis mengamati tanaman jagung, pepaya, salak.  Seperti cerita pak Dono, disini dapat tumbuh tanaman kacang tanah, jeruk, ubi jalar.  Tampak rumah penduduk dalam jajaran rapi.  Kebanyakan rumah sudah bertembok, menandakan desa ini cukup makmur.  Hanya beberapa orang yang nampak di sekitar jalanan.   Suasananya memang sepi karena semua sedang menjalankan aktivitasnya masing-masing.  Benar-benar damai, nyaman, dan tenang.  Saat berbelok ke arah balai desa, penulis sempat berfoto dengan background kantor koperasi dan balai desa.  Di sana nampak ibu-ibu berpakaian olahraga sedang senam sehat. Setelah itu, kami naik dokar lagi, meneruskan perjalanan ke homestay.

Perjalanan ini rasanya sudah cukup, dua hari telah meninggalkan kantor untuk …sekali lagi berpetualang mengembangkan akademik.  Sungguh luar biasa dua hari ini, melaksanakan finalisasi penerbitan buku di Pustaka Pelajar di Yogya, bertemu Prof Irwan di UGM dan tentu menikmati Candirejo.

Tepat jam 9.30 Ersi kembali menjemput.  Penulis segera pamit ke bapak dan ibu Dono.  Sungguh haru momentum ini.  Penulis mengucapkan terimakasih dan permohonan maaf telah merepotkan.  Kami menuju kantor koperasi dulu untuk menyelesaikan pembayaran.  Disana kami disodori bon pembayaran, dengan rincian yang jelas termasuk untuk mengantar ke terminal Borobudur.  Penulis membayar biaya keseluruhan sebesar 235 ribu rupiah.  Tentu saja ini relatif murah dibanding pengalaman ekowisata yang penulis dapatkan.

Selesai disini, penulis minta ke Ersi supaya dipertemukan dengan kepala desa.  “Bisa pak, beliau ada di kantor sedang menerima tamu” kata Ersi.  Sambil menunggu, penulis ngobrol dengan pak Carik dan perangkat desa lainnya.  Kami berkenalan dan berbincang ringan. Penulis ceritakan pengalaman ekowisata Ngadas di taman nasional Bromo Tengger Semeru.  Mereka alhamdulillah respek dengan kehadiran penulis.  Tiba saatnya kami disilakan untuk bertemu Kepala Desa.  Usia beliau sekitar empat puluhan, agak kurus, dengan rambut tersisir rapi.  Kepala Desa nampaknya sudah mengetahui kehadiran penulis berdasarkan cerita Ersi atau pak Tatak.  Kepala Desa mengucapkan terimakasih atas kehadiran penulis dan meminta untuk menyambung silaturahim.  Kami berbincang tidak lama.  Saat pamit, kepala desa bilang: “ Prof naik apa? Dijemput atau pakai travel?  Penulis tersenyum: “Saya naik bis, sendirian saja.  Saya ini mau naik ojek diantar Ersi ke terminal Borobudur”.  Assalamu’alaikum.

Hanya sepuluh menit naik ojek, tibalah kami di parkiran candi Borobudur.  Penulis turun disini dan berpisah dengan Ersi.  Penulis ingin melihat-lihat Borobudur dan sedikit beristirahat sebelum perjalanan panjang menuju Malang.  Penulis jabat tangannya sebelum berpisah.  Luar biasa anak muda ini.  Di balik kesederhanaannya, ia menjadi ujung layanan ekowisata.  Sangat pantas ia diberi predikat wirausaha ekowisata yang tangguh.

Vila Bukit Sengkaling, 25 Juni 2011

4 Responses to Pesona Ekowisata Candirejo, Borobudur

  1. I Wayan Susanto says:

    Semoga cepat terbit bukunya pak dan tidak ada sesuatu halangan yang menyulitkan, sehingga menambah bahan bacaan di bidang ekowisata dan Pembangunan berkelanjutan…selamat berkarya…

  2. Erna Anastasia says:

    Selamat Pak Iwan atas karya-karyanya sukses selalu. Aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: