Berbagi kebahagiaan

Bill Gates, pasti banyak yang mengenalnya.  Ia adalah pendiri Microsoft pada dekade 1970an.  Seorang Bill Gates adalah sosok pendiam, lugu, cenderung pemalu dan santun, namun tidak kekurangan dalam hal ambisi.  Ambisi sebagai entrepreneur pada diri Bill Gates sangat menonjol.  Di dalam teamworknya, ia menunjukkan sebagai leader yang rendah hati sekaligus mengayomi.  Ia mau makan siang bersama dengan karyawan tanpa memperlihatkan ia sebagai seorang boss Microsoft.  Pada tahun 2000, ia mundur dari jabatan CEO Microsoft dan terjun dalam kegiatan sosial.  Ia dan istrinya melalui yayasan Bill & Melinda Gates Foundation, banyak memberikan bantuan dan beasiswa universitas kaum minoritas, penyandang AIDS dan kegiatan sosial lain di negara berkembang.    Ia merasa berbahagia ketika bisa membahagiakan orang lain dalam aksi sosialnya.

Aksi Gates tersebut cukup mengagetkan banyak orang.  Ia mundur saat Microsoft sedang berjaya.  Aksinya disebut dan diakui banyak orang melahirkan konsepsi kebahagiaan.  Bahagia yang selama dimaknai sebagai perasaan senang individual; maka oleh Gates di lengkapi dengan membahagiakan sesama.  Gates mendeskripsikan ia sangat bahagia setelah lepas dari Microsoft dan bisa membantu orang lain dan membahagiakan orang lain.

Apa yang dilakukan oleh Gates adalah sejalan dengan konsepsi kewirausahaan sosial.  Seorang wirausaha sosial senantiasa berupaya memberdayakan masyarakat yang kurang beruntung menjadi lebih berkesempatan untuk mencapai kesejahteraan.  Kewirausahaan sosial memuat tiga komponen: (i) mengidentifikasi sistem/keseimbangan yang menyebabkan kerugian atau berkurangnya kesejahteraan, (ii) mengidentifikasi peluang perbaikan keseimbangan, dengan mengembangkan tata nilai sosial baru untuk mempengaruhi tata nilai yang ada, dan (iii) menyusun keseimbangan baru, untuk mencegah kerugian dan menjamin kesejahteraan masyarakat luas.  Sebaliknya, kewirausahaan individu adalah mengantisipasi dan mengorganisasikan pasar agar berfungsi menghasilkan produk dan jasa sekaligus profit bagi individu yang bersangkutan.

Biasanya, seorang wirausaha sosial memang menguasai ilmu dan praktek wirausaha umumnya.  Dari sana ia kesampingkan kepentingan individu, bahkan ia korbankan kepentingan individu (waktu, tenaga dan harta) untuk kepentingan orang banyak.  Upaya menjadi wirausaha sosial memang tidak mudah.  Ia perlu dilatih pola pikir, sikap dan perilakunya.  Pola pikirnya adalah senantiasa menempatkan kepentingan untuk orang banyak.  Kebahagiaan lahir karena berhasil membahagiakan orang banyak.  Untuk itu, ia harus punya sikap memihak kepada orang banyak, membela masyarakat dan memperjuangkan kelompok masyarakat yang kurang beruntung.  Ia berperilaku mengorbankan apa yang dimiliki untuk membantu orang banyak.

Saat berkendaraan di jalan, penulis sering diingatkan oleh istri atau anak, untuk mendahulukan pengguna jalan yang mau menyeberang.  Seringkali tanpa sadar penulis memang tidak mau mengalah, bahkan terkadang sengaja menghalangi bila ada yang mau menyerobot.  Tapi jujur saja, saat-saat seperti itu memang terasa mendongkol di dalam hati.  Namun ketika penulis mengalah secara sadar, nampaknya tidak ada yang berkurang di dalam hati, tidak rugi, nyaman saja, biasa saja, dan justru senang dan bahagia ketika lalu lintas bertambah lancar setelah mendahulukan orang lain.

Penulis sangat bersyukur memperoleh bimbingan orang tua yang mendidik untuk senantiasa berbagi.  Bapak yang seorang guru SD pada tahun 60 hingga 90an, dan ibu yang hanya di rumah, menghidupi keluarga secara pas-pasan.  Kami bermukim di perkampungan kelas ekonomi lemah.  Mungkin karena kultur budaya jawa kampung (wong ndeso), kami hidup bertetangga dengan biasa saling berbagi, berkirim panganan, meminjam bacaan, bertukar peralatan dan hal lain untuk kebersamaan.  Budaya kampung memang contoh nyata dalam perilaku berbagi, membagi kelebihan dan membagi kebahagiaan.

Penulis sangat bersyukur, saat ini penulis kembali hidup dalam perumahan suasana kampung.  Di sekitar perumahan kami, kehidupan warganya juga menunjukkan suasana saling berbagi.  Keakraban ini lahir karena seluruh warga saling membutuhkan untuk bersilaturahim.  Keluarga kami memperoleh manfaat yang luar biasa dari harmoni ini.  Hal itu tidak hanya dalam event formal, namun juga forum masjid.  Forum masjid (Al Muhajirin) inilah yang mempertemukan dan memfasilitasi berbagi kebahagiaan dari warga.

Penulis sangat bersyukur masuk kedalam berbagai lingkungan yang memiliki pengalaman berbagi.  Pengalaman yang paling berkesan adalah ketika mengikuti pendidikan reguler (PPRA 45) Lemhannas tahun 2010.  Baru kali ini, penulis bertemu dengan orang-orang yang mampu dan terbiasa berbagi.  Semangat PPRA 45 memang luar biasa, ada yang berbagi joke, membagi hadiah, memberi oleh-oleh, menitipkan salam, menyebarkan semangat dan manfaat lainnya.  Ketika ada kawan yang sakit, kami berbagi perasaan; kami langsung berinisiatif membantu tugas yang menjadi tanggungjawabnya dan mendoakan kesembuhannya.  Ketika ada kawan yang berhalangan, selalu ada saja yang menggantikannya.  Ketika ada yang sedih, selalu ada yang menghibur.  Ketika ada yang sendiri, ada yang siap menemani.  Ketika ada yang panik, ada yang menenangkannya.  Ketika ada yang emosi, ada yang mendinginkannya.  Jelasnya, selalu ada saja inisiatif, ide, kreativitas dan inovasi untuk membantu kawan, membagi pengalaman, dan mengulurkan bantuan.  Pengalaman berbagi lain ketika studi doktor selama tujuh tahun.  Bahkan ada teman yang lulus hingga sepuluh tahun.  Berbagi kesabaran dan semangat menjadi kebiasaan kami untuk tetap on the track menyelesaikan studi.

Memang, pengalaman berbagi yang nyata ditemukan di dunia pendidikan.  Mengapa demikian, mungkin karena ada perasaan yang sama pada orang-orang yang sedang belajar.  Perasaan itu adalah perihal perjuangan, tidak berdaya, kerendahan hati dan kesabaran.  Pada majelis ilmu, ruang belajar, sekolah, pondok, peserta didik menyatukan pikiran, sikap dan perilakunya kepada adab, etika dan norma belajar.  Suasana mendengar, melihat, menyimak, dan menulis lebih mendominasi (dibanding kesenangan diri) dalam suasana saling takzim.  Pada suasana belajar itu, lahir rasa saling membutuhkan, saling membantu dengan ikhlas.  Karena, selain pertolongan Allah, maka hanya kekuatan/kebiasaan berbagi para peserta didik yang sanggup menahan beban perjuangan belajar.  Karena itu, orang-orang yang senantiasa belajar dalam hidupnya akan terlatih untuk berbagi.

Alhamdulillah, kebiasaan berbagi itu terus berlanjut hingga sekarang.  Penulis bersyukur dikaruniai profesi sebagai pendidik, yang dituntut untuk terus berbagi karena alasan tugas formal atau panggilan hati.  Tugas formal adalah menjalankan fungsi dosen sebagai pendidik dan peneliti.  Panggilan hati untuk membagi semangat dan manfaat dalam hal apapun, dimana pun dan kapan pun.  Penulis sangat bersyukur karena memperoleh manfaat yang luar biasa dari jalan ilmu dan kebiasaan berbagi.   Jalan ilmu telah memupuk kesabaran dan kerendahan hati.  Penulis memperoleh pengalaman dan kesempatan yang luar biasa dari jalan ilmu ini.  Pembaca, sungguh luar biasa manfaat dan hikmahnya.  Wahai para pendidik, sungguh nikmat karunia profesi ini.  Mari kita syukuri profesi ini.

Blog ini adalah salah satu media berbagi.   Blog Long Journey ini ingin berbagi kebahagiaan kepada pembaca.  Terimakasih atas tanggapan dan komentarnya.

Ya Allah berilah kekuatan kepada hambamu ini untuk dapat berbagi.  Jadikanlah istri, anak dan keturunan kami, orang-orang yang biasa berbagi.

Vila Bukit Sengkaling, 18 Juli 2011

2 Responses to Berbagi kebahagiaan

  1. anung umar says:

    amiin….trnyata kekayaan itu bukan segala-galanya..artikel yang inspiratif pak!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: