GENERASI MUDA DAN PANCASILA

Akhir-akhir ini mulai banyak dibicarakan atau dipertanyakan wawasan kebangsaan generasi muda.  Banyak momentum mengangkat hal tersebut.  Saat peringatan hari Pancasila 1 Juni 2011, ada kebutuhan untuk mengaktulisasikan, merevitalisasi, dan memantapkan nilai-nilai Pancasila.  Salah satu rumusan hasil kongres Pancasila ke III di Surabaya 31 Mei – 1 Juni 2011 adalah dengan melibatkan generasi muda sebagai subyek pengembang nilai-nilai Pancasila.  Generasi muda diharapkan memberikan peran dan kontribusinya yang kelak juga akan menjadi aktor pembangunan nasional di masanya.

Terhitung sejak reformasi, Pancasila tidak terdengung seperti saat pemerintahan orde baru berkuasa.  Saat ini, Pancasila mulai didengungkan kembali sejalan dengan ‘hilangnya’ nilai-nilai perekat kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.  Saat orde baru, nilai-nilai perekat itu berfungsi mengendalikan kehidupan.  Kalaupun ada tatanan yang tidak berfungsi, maka mekanisme mengembalikannya segera berjalan dan tatanan kembali berfungsi.  Saat ini, mekanisme pengembalian agak kesulitan berjalan, kecenderungannya merubah tatanan dan mencari keseimbangan baru yang belum teruji.  Itulah mengapa sebagian orang menyebut reformasi masih belum selesai, masa transisi belum usai, perubahan masih terus terjadi.

Ada tiga faktor penting mengapa tatanan baru tidak segera stabil.  Pertama globalisasi.  Globalisasi ekonomi (termasuk politik, IT, modernisasi) sangat mempengaruhi kehidupan ekonomi nasional dan menciptakan ketergantungan.  Kepentingan politik ekonomi global mempengaruhi dan mempercepat dinamika kebijakan ekonomi nasional.  Celakanya, modal iptek nasional belum kuat sehingga ekonomi nasional hanya menjadi manut ekonomi dunia (transaksi berjalan mengarah defisit).  Pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan ekonomi lebih berorientasi pasar.  Kedua demokratisasi.  Demokratisasi telah memberi ruang yang lebar bagi saluran aspirasi.  Ironisnya hal ini dimanfaatkan secara bebas tanpa melihat kepentingan nasional yang lebih besar.  Munculah fenomena kecenderungan disintegrasi, primordialisme berlatar agama, sekedar berbeda, atau mismanajemen konflik di DPR.  Ketiga hak asasi manusia (HAM). Isyu HAM telah berkembang dan dimanfaatkan melebihi kewajiban asasi manusia (KAM).  Peran media massa sangat bebas dan melanggar nilai-nilai luhur bangsa.  Atas nama HAM, muncul organisasi-organisasi baru untuk melawan institusi masyarakat dan negara.  Tiga faktor tersebut secara bersama-sama mempengaruhi tatanan kehidupan nasional.

Yang diperlukan saat ini adalah lahirnya manusia Indonesia yang berkualitas.  Mereka ini yang akan mengawal berfungsinya tatanan sesuai dengan nilai-nilai kebangsaan sekaligus mengendalikan tiga faktor di atas.  Mampukah ini terjadi?  Tentu saja mampu dan bisa.  Menurut Hasibuan (2003), manusia Indonesia memiliki potensi ²illahiyah². Potensi itu mendasari manusia untuk mengalami pembelajaran, yang disertai kearifan untuk mengelola isi dan potensi geografi, demografi dan sumber kekayaan alam (SKA).  Pembelajaran ini yang akan menghasilkan ketahanan nasional sekaligus menghasilkan manusia Indonesia yang berkualitas.

Nilai-nilai Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa telah membudaya di dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia.  Nilai-nilai itu tertanam dalam hati, tercermin dalam sikap dan perilaku serta kegiatan lembaga-lembaga masyarakat (Poespowardojo dan Hardjatno, 2010).  Dalam kehidupannya, manusia Indonesia membina hubungan secara harmonis antar manusia, dengan lingkungan dan Tuhan.

Pancasila sebagai landasan ideologi negara diangkat  dari nilai-nilai luhur adat istiadat, budaya dan religi kehidupan bangsa Indonesia.  Nilai-nilai itu tumbuh dan berkembang serta diyakini kebenarannya.  Pancasila sebagai dasar negara merupakan sumber dari segala sumber hukum yang melandasi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.  Seluruh pelaksanaan penyelenggaraan negara dilandasi dan menggunakan sumber nilai,  norma dan hukum yang tertulis maupun  tidak tertulis dari Pancasila.

Generasi muda adalah tumpuan upaya implementasi dan pemantapan nilai-nilai Pancasila, pembinaan nasionalisme atau wawasan kebangsaan.  Generasi muda mampu menyerap proses transformasi nasionalisme sesuai perkembangan jiwa dan idealisme (Pokja Padnas, 2010).  Menurut Rajasa (2007), generasi muda mengembangkan karakter nasionalisme melalui tiga proses.  Pertama, pembangun karakter (character builder).  Generasi muda berperan membangun karakter positif bangsa melalui kemauan keras, untuk menjunjung nilai-nilai moral serta menginternalisasikannya pada kehidupan nyata.  Kedua,  pemberdaya karakter (character enabler).  Generasi muda menjadi role model dari pengembangan karakter bangsa yang positif, dengan berinisiatif membangun kesadaran kolektif dengan kohesivitas tinggi, misalnya menyerukan penyelesaian  konflik.  Ketiga, perekayasa karakter (character engineer).  Generasi muda berperan dan berprestasi dalam ilmu pengetahuan dan kebudayaan, serta terlibat dalam proses pembelajaran dalam pengembangan karakter positif bangsa sesuai perkembangan jaman.

Generasi muda adalah juga andalan bagi tumbuhnya nasionalisme melalui entrepreneurhip.  Generasi muda berperan dalam ilmu pengetahuan dan kebudayaan (Rajasa, 2007), dan proses pembelajaran kompetensi kewirausahaan. Menurut Ciputra, kompetensi kewirausahaan bukanlah ilmu magic.  Generasi muda dapat mempelajarinya, dengan memberi kesempatan (opportunity creator), menciptakan ide-ide baru (inovator) dan berani mengambil resiko (calculated risk taker).  Peran lembaga perguruan tinggi adalah: (i) internalisasi nilai-nilai kewirausahaan, (ii) peningkatan ketrampilan (transfer knowledge) dalam aspek pemasaran, finansial, dan teknologi; dan (iii) dukungan berwirausaha (business setup) (Vallini and Simoni, 2007).  Nasionalisme generasi muda Cina berhasil tumbuh dan menggerakkan perekonomian (MLSS-ILO, 2006; Byham, 2010) sehingga membawa Cina menjadi kekuatan ekonomi dunia baru (Garnaut, 2009) dan menciptakan konstelasi geopolitik regional (Bosworth, 2006).   Generasi muda Singapura bahkan telah menunjukkan nasionalisme ‘berkarakter global’ sehingga  dapat berperan dalam ekonomi global (Kluver and  Weber, 2003).

Secara umum, meningkatnya nasionalisme melalui peran entrepreneur dari generasi muda sangat diharapkan untuk membangun perekonomian nasional.  Peran mereka dalam lingkungan masyarakat madani akan menjadi penggerak utama prime mover pembangunan ekonomi di daerah. Hal ini pada gilirannya menghasilkan akselerasi peningkatan pembangunan, daya saing daerah, sekaligus memperkokoh ketahanan nasional dalam seluruh gatra.  Generasi muda yang berkualitas akan menjadi pengawal berjalannya fungsi-fungsi tatanan kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara.

Vila Bukit Sengkaling, 21 Juli 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: