Pengendalian Diri dan Kemakmuran

Seorang tetangga menyatakan bahwa potensi usia manusia saat ini (khususnya manusia Indonesia) bisa mencapai 100 tahun.   Namun tidak banyak orang bisa mencapai usia tersebut.  Orang yang berusia sekitar 70 tahun sudah merasakan hal yang luar biasa, terlebih dalam keadaan sehat lahir dan batin.  Orang tersebut tentu memiliki hal yang istimewa, yang patut diteladani dalam hal cara berpikir, bersikap dan berperilaku.  Terlebih, dalam dunia modern saat ini banyak sekali tuntutan ‘duniawi’ yang sering membuat lengah seseorang sehingga menghasilkan penderitaan lahir maupun batin.

Perihal potesi usia tersebut, ada ilustrasi agak mirip.  Dalam dunia tanaman, para ahli mengenalkan istilah potensi produksi.  Sebagai misal, potensi produksi padi mencapai angka 10 ton per hektar.  Kenyataannya, produksi aktualnya hanya berkisar 5 ton per hektar.  Diperlukan teknologi budidaya padi tertentu agar produksi padi menuju kapasitasnya.  Teknologi itu telah banyak dikenal sebagai pengendalian, antara lain pengendalian hama, pupuk berimbang, benih unggul, pengolahan tanah optimum, pengairan, atau dapat berupa budidaya rumah kaca.

Kembali ke uraian di atas, manusia dapat mencapai potensi usia apabila melaksanakan pengendalian.  Orang-orang Jepang terkenal berusia panjang karena berbudaya mengendalikan diri.  Orang Jepang diketahui sangat umum memiliki sikap dan perilaku antara lain tidak banyak bicara, fokus, konsisten, menghargai orang lain (arigato), patuh kepada orang tua atau yang lebih tua, patuh kepada raja, loyal kepada tempat kerja, pekerja keras serta rendah hati (tidak mau menonjolkan diri).  Karakter seperti itu adalah ‘seimbang terkendali’ antara rasio dan hati, berbicara dan bekerja, hasrat dan pasrah, kompetensi dan intregritas, pribadi dan sosial.

Manusia yang mampu melaksanakan pengendalian diri, pada dasarnya adalah yang mampu menempatkan dirinya di hadapan Allah dan di dalam masyarakatnya.  Mengapa demikian?  Karena dalam upaya mengendalikan diri tersebut sesungguhnya dia telah mampu mengukur kemampuan dirinya, sebarapa jauh teknologi yang dikuasai, sampai mana ilmu yang dimiliki, seberapa banyak sumberdaya (modal, manajemen) yang dimilikinya.  Ia sangat simpel dalam berpikir.  Keterbatasannya mudah dijelaskan.  Karenanya bila ia ingin melampaui keterbatasannya, maka ia akan memohon bantuan kepada orang lain dan pertolongan kepada Allah.  Mekanisme ini tentu saja berjalan otomatis tidak berdasarkan rasio semata.  Sikap ini telah tertanam dalam hati dan pikiran sebagai pencerminan illahiyah dan sekaligus menjadi motivasi dalam kehidupannya.  Orang-orang demikian dalam kesehariannya senantiasa memohon doa kepada Allah (Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu, Al Mukmin:60).

Pengendalian diri dalam konteks manajemen modern telah berhasil mengantarkan, membentuk dan mengembangkan bisnis perusahaan global yang terkemuka.  Aspek pengendalian diri tersebut diadopsi ke dalam standar mutu lingkungan kerja yang berorientasi kepada terciptanya produktifitas tinggi.  Dalam lingkungan bisnis tersebut, SDMnya telah masuk (memenuhi) tiga (persyaratan) standar.

Pertama, kompetensi.  Pemenuhan kompetensi SDM adalah wujud mengendalikan diri untuk memenuhi standar kerja yang dibutuhkan.  SDM menggunakan kecerdasan intelektualnya (Inteligent quotient, IQ) sebagai landasan bekerja, menemukan, menyimpan dan mengolah informasi; serta mengambil keputusan untuk menginformasikan kembali, dan mengeksekusi aktivitas.   Proses menerima, menyimpan, dan mengolah kembali informasi (melalui pendengaran, penglihatan atau penciuman) disebut sebagai “berfikir”. Berfikir adalah media untuk menambah perbendaharaan/khazanah otak manusia.

Kompetensi adalah elemen dasar berfungsinya standar kerja.  Kompetensi membutuhkan seperangkan ilmu yang mendukung lahirnya kompetensi dan ketrampilan.  Orang yang berkompeten menjadi syarat dasar untuk melaksanakan tugas di bidangnya masing-masing.  Tanpa kompetensi suatu bagian tidak dapat menghasilkan produk sesuai standar kerja; sehingga secara keseluruhan bisnis tidak berjalan optimal.  Sebagaimana hadist yang menyatakan: ‘Apabila perkara (urusan) diserahkan kepada selain ahlinya, maka nantikanlah kiamat. Tercapainya standar kompetensi merupakan wujud pengendalian yang sistematis dalam siklus pekerjaan.  Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al-Mujaadilah:11).

Kedua, kerjasama.  Kompetesi SDM belum cukup untuk melahirkan produktivitas sesuai standar kerja.  Kompetensi perlu diorganisasikan ke dalam kerjasama yang sistematis untuk mendujung tujuan organisasi.  Bekerjasama membutuhkan  kemampuan dan pemahaman bersikap dan berperilaku sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan lingkungannya.  Kerjasama membutuhkan kecerdasan emosional (emotional quotient, EQ) dari SDM organisasi untuk dapat memahami perasaan orang lain, membaca yang tersurat dan yang tersirat, bahasa verbal dan non verbal; sehingga  dapat merespon tuntutan lingkungannya dengan tepat.  Pada posisi ini SDM mampu mewujudkan pengendalian diri (dari egonya) untuk senantiasa memberi manfaat kepada orang lain, membantu dan mendukung bagian lain untuk memenuhi standar kerja.  Terbangun suasana saling kerjasama untuk menghasilkan sesuatu yang lebih bermanfaat, lebih produktif, lebih aman dan lebih kondusif.  ” Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain ” (HR. Bukhari).  Dan tolong menolonglah engkau semua atas kebajikan dan ketaqwaan.” (Al-Maidah:2).

Kecerdasan emosional mensyaratkan kemampuan softskill SDM organisasi.  Perusahaan modern secara sistematis membangun softskill melalui program pelatihan membangun jati diri (self motivation and regulation) dan kemampuan interpersonal seperti empathy dan social skill termasuk mengelola konflik secara baik. Dalam bahasa agama, kecerdasan emosional adalah kemampuan mengelola “hablun min al-naas” yang berpusat pada“qalbu”.

Ketiga, kepasrahan total.  Pengendalian diri tertinggi adalah mampu menunjukkan kepasrahan total yang memerlukan kecerdasan spiritual (spiritual quotient, SQ). Kecerdasan spiritual adalah upaya memaknai atau memberi nilai kehidupan, apakah tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibanding dengan yang lain. Dengan kata lain, kecerdasan spiritual adalah memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan yang dimotivasi suara hati Ilahiyah seseorang.  SQ berpusat pada hati nurani (Fuad/dhamir).   Allah SWT menyatakan Fuad/ al-Af’idah adalah komponen utama penciptaan manusia saat masih dalam rahim ibu (Al-Sajadah:9).  Fuad  adalah fitrah sejati manusia  yang harus dipelihara untuk dekat Allah dan senantiasa pasrah terhadap hukum-hukum Allah.  SQ sangat penting untuk menggerakan manajemen bisnis berada dalam rambu-rambu hukum Allah, sehingga perusahaan senantiasa memberi manfaat kepada karyawannya, lingkungan sosial, dan lingkungan alam secara berkelanjutan.   Pimpinan perusahaan dengan kemampuan SQ akan mementingkan kesejahteraan dan lingkungannya sebagai bagian untuk memberi nilai dalam kehidupan dunia, sekaligus akherat.

Mengendalikan diri, sangat disadari, merupakan upaya yang tidak mudah.  Latihan mengendalikan diri sebagaimana diajarkan dalam program-program pelatihan ESQ adalah salah satu alternatif.  Ada orang yang merasakan hasilnya, namun banyak juga yang merasa tidak berpengaruh sama sekali.  Menurut penulis, berlatih mengendalikan diri tidak dapat diukur dalam satuan waktu tertentu.  Seseorang perlu berlajar sepanjang waktu untuk ‘berubah’ mengikuti ajaran Quran dan hadist agar hati nuraninya terasah untuk memberikan nilai bagi kehidupan.  Dalam proses belajar berubah tersebut, seseorang memerlukan bekal ilmu dunia/agama dan keteladanan.

Bulan puasa adalah momentum untuk berlatih pengendalian diri.  Suasana ini sangat berbeda dengan bulan-bulan lainnya.  Dalam bulan ini, setiap muslim mengharap rahmat, ampunan dan surga Allah.  Mereka berlomba-lomba untuk beribadah secara khusyuk, melaksanakan amalan-amalan mengkaji Quran, menyimak ceramah, bersodaqoh, introspeksi diri, bersilaturahim, dan amalan lainnya.   Mereka menunjukkan kepedulian dan kesalehan sosial.  Penulis sangat gembira, perkembangan kualitas umat Islam di Indonesia menuju ke arah yang baik sejalan membaiknya perekonomian nasional.

Ya Allah… Pujian terhadap-Mu amatlah agung, perlindungan-Mu amatlah besar, Maha suci nama-Mu dan tiada Tuhan yang berhak disembah selain diri-Mu.  Berikanlah kebaikan kepada bangsa Indonesia.  Berikanlah kemakmuran kepada bangsaku ini.  Berikanlah kekuatan pengendalian diri agar supaya semakin banyak amalan-amalan yang kami kerjakan.

Sumber bacaan:
http://blogriki.wordpress.com/2009/10/06/10-sifat-kerja-orang-jepang/
http://mariskaayu.wordpress.com/2010/02/09/mengapa-orang-jepang-tidak-suka-menjadi-anggota-facebook/#comment-2176
http://www.badilag.net/data/ARTIKEL/WACANA%20HUKUM%20ISLAM/keseimbangan%20IQ.pdf
http://eronces.wordpress.com/2007/11/24/peran-iqeqsqesq-dan-aq/

Vila Bukit Sengkaling, 8 Agustus 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: