Bertemunya dua guru

Banyak kejadian yang penulis rekam dalam hidup ini.  Yang sangat khusus adalah silaturahim.  Silaturahim senantiasa memunculkan hal yang baru.  Ada yang gembira, sedih, haru dan lucu. Katakanlah bertemunya dua orang yang lama terpisah, pastilah menghasilkan potret kejujuran, obyektivitas dan alamiah.  Jujur yang penulis maksud adalah ungkapan yang dinyatakan apa adanya saat bertemu.  Obyektif menyangkut cerita yang terjadi sebenarnya.  Alamiah artinya terjadi begitu saja tanpa direkayasa.  Gambarannya mungkin seperti anak-anak yang saling berceloteh satu sama lain tanpa dibatasi belenggu jabatan atau posisi saat itu.

Berikut ini adalah kejadian bertemunya dua orang guru yang lima belas tahun saling terpisah.  Mereka sebelumnya mendapat tugas mengajar di tempat yang sama.  Namun kemudian terpisah karena masing-masing ditakdirkan bekerja di tempat lain.  Saat ini, yang seorang sudah pensiun, katakanlah pak Shihab.  Sementara koleganya bernama pak Ahim, masih aktif bekerja sebagai guru.  Kebetulan sifat kedua orang ini hampir sama, yakni rendah hati, tidak banyak bicara dan dikenal sebagai orang yang lurus.  Keduanya memiliki background pendidikan ustadz.

Sebagaimana biasanya, orang yang lebih muda mampu menyimpan memori lebih baik.  Pak Ahim sangat yakin masih mengenali seniornya.  Lima belas tahun yang lalu itu, pak Ahim masih menjadi guru muda.  Sementara pak Shihab sudah menjadi guru/dosen terbang yang akademiknya sangat mumpuni, dimana sebelum pensiun adalah sebagai pejabat negara.  Namun saat ini, kedua orang ini sudah dalam posisi senior, dengan kemampuan akademik yang setara.

Pertemuan/reuni kedua orang itu  bermula ketika pak Shihab menempati rumah baru di komplek perumahan dimana pak Ahim berdomisili.  Pak Ahim sebagai tokoh masyarakat juga mendengar dan mengetahui penduduk baru tersebut.  Di suatu kesempatan, mereka juga sempat berbicara ringan dan say hello. Kondisi pertemuan awal itu tidak cair.  Pak Ahim menyadari bahwa pak Shihab belum ingat sama sekali tentang pertemanan mereka lima belas tahun lalu.  Karenanya pak Ahim tidak memaksakan diri untuk memperkenalkan diri lebih jauh.

Seperti biasanya penduduk perumahan menjalankan sholat shubuh di masjid.  Seperti biasanya pula, pak Ahim menjadi imam dan mengisi kultum (kuliah tujuh menit).  Selesai sholat dan berdzikir, pak Ahim berdiri ke mimbar.  Jamaah terkejut, pak Ahim tidak berceramah, namun dengan suara yang mantab memperkenalkan penduduk baru seorang mantan pejabat negara, tidak lain pak Shihab yang duduk di shaf depan paling pojok.  Beliau mengundang pak Shihab ke mimbar untuk memperkenalkan diri.  Demikianlah seluruh jamaah akhirnya mengenal siapa pak Shihab.  Setelah itu, jamaah pulang ke rumah-masing dengan perasaan bahagia atas kedatangan ustadz baru.

Tiga hari berikutnya, kembali pak Ahim menjadi imam jamaah shubuh.  Adapun pak Shihab mengisi kultum setelah sebelumnya diminta kesediaannya oleh takmir. Ustadz Shihab mengisi materi tentang rasa syukur sebagai kunci kebahagiaan pribadi, keluarga, masyarakat dan negara.  Penyampaiannya sangat lugas sebagaimana ditunjukkan oleh kiyai dari pesantren.  Alhamdulillah.

Selesai kultum, para jamaah saling bersalaman sambil menyapa.  Saat pak Shihab menyalami pak Ahim, dengan suara mantab beliau berkata: “Saya punya kenalan namanya Ibrahim, apakah anda kenal?  Saya pernah menjadi guru bersama Ibrahim di madrasah Dinoyo.  Ibrahim itu orang Gresik”.  Tentu saja seluruh jamaah terkejut.  Ibrahim adalah nama lengkap pak Ahim, tidak ada Ibrahim yang lain. Pak Ahim diam dan tersenyum, dan menjawab: “Istri saya yang asli Gresik”.  Jamaah melihat hal lucu dari pertemuan ini.  Seorang di antaranya berucap:”Emang bapak belum kenal dengan pak Ibrahim? Nama lengkap pak Ahim adalah Ibrahim”.  “Masya Allah” kata pak Shihab.  “Panjenengan kok sudah tua” katanya lagi.  Pak Shihab kemudian memeluk erat pak Ahim, seakan-akan tidak mau melepaskannya.  Pak Ahim menyambut pelukan itu dan hanya tersenyum saja.  “Saya kemarin mampir ke kantor dan diberitahu seseorang bahwa panjenengan tinggal disini” kata pak Shihab.  Mereka berdua kembali bersalaman erat disaksikan jamaah lain.  Begitulah pak Ahim, beliau sangat rendah hati termasuk dalam hal mengenal orang.  Reuni itu akhirnya mencair diiringi perasaan gembira dari para jamaah.  Bulan Ramadhan kali ini serasa memberikan berkah dan rahmat.

Beberapa jamaah masih sempat ngobrol tentang kelucuan tersebut.  Mereka mengira pak Ahim dan pak Shihab sudah saling mengenal satu sama lain sejak tiga hari yang lalu.  Demikianlah suatu kebaikan akan menemukan jalannya, dan diberikan kepada orang-orang yang baik.  Sebagaimana QS Al Baqarah:215: “Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.

Vila Bukit Sengkaling, 11 Agustus 2011

2 Responses to Bertemunya dua guru

  1. yass says:

    Alhamdulillah……kisah yg memberi pencerahan……….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: