Puasa, 17 Agustus dan Perubahan

Tulisan ini telah terbit di blog kompasiana.

Pada tahun ini, 17 Agustus 2011 akan bertepatan dengan hari Rabu 17 Ramadhan 1432 H.  Momentum yang sama akan terjadi lagi 65 tahun akan datang, yakni pada 17 Agustus 2076 yang sama dengan hari Senin 17 Ramadhan 1499 H.  Mengenang puasa dan peringatan 17 Agustus memiliki makna dalam banyak hal.  Makna tersebut adalah perjuangan bangsa ini dalam mengupayakan dan menuntaskan permasalahannya.

Saat proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 juga dalam bulan puasa, tepatnya pada hari Jumat, 9 Ramadhan 1364 H.  Saat itu bangsa ini berhasil melakukan pembebasan dirinya dari belenggu penjajahan.  Inilah momentum mengatur tumah tangga sendiri, di atas wilayah tanah air sendiri, oleh kehendak bangsa Indonesia (sendiri).  Atas berkat rahmat Allah, bangsa Indonesia berkesempatan membentuk negara dengan tujuan untuk melindungi segenab bangsa, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan, dan ikut menciptakan perdamaian dunia.  Sekalipun tertatih-tatih untuk mempertahankan kemerdekaan, pembebasan ini berdampak luas terhadap kemerdekaan negara-negara di benua Asia dan Afrika.  Benar, Indonesia menjadi model bagi negara-negara itu memasuki pembebasan dari kolonialisme, antara lain Maroko, Mesir, Pakistan, India, Birma hingga Filipina.

Detik-detik menjelang proklamasi 17 Agustus 1945 sangatlah dramatis.  Sehari sebelumnya, 16 Agustus 1945 pukul 04.30 WIB, terjadi peristiwa penculikan yang dilakukan sejumlah pemuda, antara lain Soekarni (Wikana) dan Chaerul Saleh terhadap Soekarno dan Hatta dari rumah di Menteng 31.  Soekarno dan Hatta dibawa ke Rengasdengklok, Karawang, untuk didesak agar mempercepat proklamasi kemerdekaan RI. Para pemuda mengancam akan melakukan gerakan pengambilalihan kekuasaan dari pihak Jepang apabila proklamasi tidak dilakukan pada 16 Agustus 1945.  Menghadapi desakan tersebut, Soekarno dan Hatta tetap tidak berubah pendirian. Rencana penyerangan terhadap Jepang di Jakarta pun gagal terwujud karena tidak didukung seluruh anggota PETA.  Itu semua menjadi proses bagi pembebasan bangsa ini dan kelahiran NKRI.

Kini, negara ini sudah berusia 66 tahun.  Usia yang tidak muda lagi.  Bangsa ini telah melewati dinamika kehidupannya dalam mengantisipasi ancaman, gangguan, tantangan dan hambatan.  Tantangan dari aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan keamanan.  Itu semua memberikan pengalaman berharga untuk menatap ke depan untuk mencapai tujuan negara.

Bangsa ini sungguh bersyukur memiliki Pancasila sebagai ideologi, falsafah hidup dan sumber hukum.  Pancasila yang berasal (digali) dari nilai-nilai luhur budaya bangsa terbukti berhasil merecovery dari kondisi negatif yang menyelimuti bangsa ini.  Berkali-kali kejadian atau fenomena membuktikan hal tersebut.  Fenomena 1948, bangsa ini lolos dari pemberontakan PKI.  Tahun 1950an berhasil menggagalkan gerakan DI/TII.  Tahun 1965, berhasil terhindar dari makar PKI dan demokrasi terpimpin.  Tahun 1998, berhasil mengoreksi doktrinasi implementasi Pancasila.

Bangsa ini juga telah mengamandemen Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia (UUD NRI) tahun 1945 dalam rangka melaksanakan sistem ketatanegaraan (good governance) ke dalam sistem manajemen pemerintahan sekaligus memperbaiki pola hubungan antara negara, warga negara dan pemerintah, serta mengantisipasi perkembangan lingkungan strategis. Good governance adalah tata kelola pemerintahan yang memuat nilai-nilai positif dalam penyelenggaran pemerintahan dan kenegaraan.  Menurut Effendi (2005), ada tiga pilar pokok untuk melaksanakan good governance, yakni: pemerintah (state), civil society (masyarakat adab/madani), dan masyarakat pengusaha.  Tata kelola pemerintahan yang baik akan tercapai bila otoritas politik, ekonomi dan administrasi ketiga unsur berinteraksi secara sinerjik dilandasi kepercayaan (trust).

Dinamika perkembangan dunia saat ini sudah sangat maju.  Indonesia telah menjadi bagian dari kehidupan ekonomi (termasuk politik dan teknologi) dan globalisasi.  Pembangunan dalam satu dasawarsa terakhir menunjukkan tanda-tanda membaik. Strategi pembangunan pro growth, pro jobs dan pro poor mampu menghasilkan laju pertumbuhan ekonomi disertai dengan perbaikan distribusi pendapatan (growth with equity).  Pendapatan per kapita masyarakat mencapai USD 2271 pada akhir 2008, naik hampir dua kali lipat dibandingkan tahun 2004, yaitu sebesar USD 1186.  Dengan kenaikan ini, Indonesia diundang (bersama Cina, India, Brazil, dan Afrika Selatan) dalam forum G-20, yaitu dua puluh negara yang menguasai 85 persen Produk Domestik Bruto (PDB) dunia.

Di tengah kemajuan pembangunan dan prestasi global di atas, bangsa ini terus berjuang mencapai tujuannya.  Pertanyaannya, apakah tahun ini bisa menjadi momentum untuk menjadikan bangsa ini lebih baik?  Dapatkah momentum puasa Ramadhan dan 17 Agustus 2011 akan menjadi sejarah bangsa ini untuk melaksanakan pembangunan nasional menuju terwujudnya masyarakat yang maju, mandiri, sejahtera, adil dan makmur, atau Baldatun toyyibatun warabbun ghafur artinya Negara yang aman, makmur dan mendapatkan keampunan Allah (Saba`:15).   Jawabanya adalah mutlak harus.  Mengapa? Karena kualitas SDM bangsa ini belum sesuai harapan.  Pencapaian kemajuan ekonomi sudah merupakan tanda-tanda yang baik, yang diperankan oleh pelaku ekonomi.  Namun kualitas SDM suprastruktur (eksekutif dan legislatif) masih menampilkan inefisiensi, korupsi, dan problem keteladanan di pusat maupun di daerah.

Kualitas SDM adalah atribut yang melekat kepada manusia sebagai sumberdaya insani pembangunan.  SDM yang berkualitas dapat mewujudkan dan menghayati nilai-nilai esensial meliputi kebenaran, kejujuran, keadilan, kepercayaan dan kewibawaan dilandasi moralitas yang luhur (Akbar, 2010).   Kualitas SDM yang diharapkan adalah terbentuknya karakter pembelajar.  Mereka ini lebih menyukai proses belajar, rendah hati, mengembangkan keilmuan dan kompetensi, fokus, menghargai orang lain dan berorientasi untuk manfaat dan kemaslahatan umat.  Mereka ini adalah orang-orang yang produktif dan kompetitif terhadap bangsa-bangsa lain.

Momentum puasa tahun ini harus menghasilkan perubahan yang nyata, dengan fokus langsung memperbaiki komitmen manusia kepada Tuhan.  Bulan puasa ini dapat menjadi wadah pembinaan dan pelatihan agar setiap muslim berupaya sebanyak-banyaknya melaksanakan ibadah dan beramal dalam rangka meningkatkan derajad ketaqwaan kepada Allah sekaligus menunjukkan kasih sayang kepada sesamanya.  Inna akramakum `indallahi atqakum artinya Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah kamu yang paling bertaqwa  (Al Hujurat: 13).  Hal ini harus dilakukan dengan kesadaran penuh atau kepasrahan total kepada Allah.  Kepasrahan total itulah yang menjadi landasan motivasi SDM dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Mulai tahun ini tidak ada toleransi bagi pelanggar hukum (penyalahgunaan wewenang, korupsi), inefisiensi (boros, tidak produktif), ekslusivitas (hidup menyendiri dan bermewah-mewahan), dan kebodohan (tidak kompeten, tidak mau belajar).

Sekali merdeka tetap merdeka!

Bacaan tambahan:
http://www.islamicfinder.org/dateConversion.php?mode=ger-hij&day=17&month=8&year=1945&date_result=1
 http://koranbaru.com/17-agustus-1945-juga-bertepatan-dengan-puasa/

Vila Bukit Sengkaling, 15 Agustus 2011

3 Responses to Puasa, 17 Agustus dan Perubahan

  1. Jika kita evaluasi, kemerdekaan fisik yang kita dapatkan di tahun 1945, hingga kini masih saja belum beranjak ke kemerdekaan yang sebenarnya. Kita belum benar-benar mandiri. Kita masih didominasi oleh orang lain. Di sisi kemerdekaan dalam konteks “manusia,” kita masih didominasi oleh nafsu. Maka, siapapakah yang sebenarnya merdeka? Untuk itu, saya urun rembug pada http://nguditjahjono.wordpress.com/2011/08/07/siapakah-yang-sebenarnya-merdeka/#more-225

    • Iwan Nugroho says:

      Pak Ngudi, belenggu dunia yang membuat belum merdeka. Maka beruntunglah orang-orang yang berada di jalan ilmu, yang ikhlas&tunduk, terlepas belenggu dunia, itulah hakekat merdeka. Jangan takut bebaskan belenggu dunia

  2. Ambar Kristiyanto says:

    Terimakasih Pak Iwan Tausiyahnya semoga Saba :15 dan Al Hujurat :13 bisa terjadi di Indonesia dan Bapak sekeluarga selalu mendapat petunjuk dan lindungan dari Allah swt. ( Ambar Kristiyanto PSLP Unbraw )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: