Menulis (= berwirausaha) di Universitas

Habiburrahman El ShirazyTidak perlu diragukan lagi, menulis adalah berwirausaha.  Ini sangat jelas sekali.  Banyak penulis yang menggunakan segala ilmu, ketrampilan dan kemampuan lainnya sehingga memberi manfaat kepada banyak orang dan ia menikmati sebagai sumber kehidupannya.  Lihatlah mereka ini, Ahmad Fuadi, Andrea Hirata, Asma Nadia, Dewi “Dee” Lestari, dan Habiburrahman El Shirazy.  Ya, mereka hidup dari menulis.  Menulis untuk hidup, hidup untuk menulis.  Hidup yang penuh dengan nilai tambah.  Mereka juga entrepreneur.  Para wartawan adalah entrepreneur.  Tampilan Menteri BUMN pak Dahlan Iskan adalah entrepreneur sejati.  Mereka disebut penulis profesional. Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Namun sesungguhnya menulis juga tidak mudah.  Sama susahnya dengan entrepreneur di bidang lainnya.

Menulis adalah suatu proses.  Proses yang bisa cepat, lama, lenyap, berkembang, atau tiba-tiba mood.  Proses ini adalah dinamika yang berkembang di dalam diri penulis.  Proses yang terkadang memaksa, dipaksa, atau terpaksa.  Seorang siswa atau mahasiswa sering terpaksa mengerjakan tugas paper.  Ada kalanya mahasiswa mengerjakan tugas seadanya, ada pula yang serius, bahkan mengembangkannya.  Mahasiswa yang terlatih mengerjakan tulisan dan mengembangkannya, maka ia telah berinvestasi untuk masa depannya.  Siswa atau mahasiswa inilah yang sesungguhnya sedang dibutuhkan oleh sekolahnya atau universitasnya untuk menunjukkan prestasi.  Prestasi bukan hanya untuk individu siswa atau mahasiswa, tetapi juga untuk sekolah dan Perguruan Tinggi (PT).  Lomba karya ilmiah, program kreativitas mahasiswa, forum bulan bahasa, atau lomba menulis lainnya.

Proses pendidikan formal akademik harusnya menekankan ketrampilan dan mengembangkan menulis.  Universitas, Fakultas, Jurusan harus berkomitmen tinggi terhadap tumbuhnya budaya akademik menulis.  Proses itu harusnya dimulai dari lahirnya publikasi mahasiswa, khususnya skripsi atau tugas akhir mahasiswa.  Apa yang menjadi polemik tentang publikasi skripsi dirjen Dikti (Surat No 152/E/T/2012) sesungguhnya tidak perlu dipermasalahkan.  Secara konsepsional kebijakan itu sangat-sangat benar, dengan tujuan untuk meningkatkan jumlah publikasi; bahkan dapat mencegah bahaya moral plagiarism.  Kebijakan itu harus disambut hangat.  Kekuatiran terbatasnya jurnal dapat disiasati dengan publikasi online.  Ini menjadi tanggungjawab Universitas untuk mengembangkan websitenya, melalui digital library atau page khusus untuk itu.

Menulis dan mempublikasikan adalah satu kata yang tidak boleh terpisah.  Pada saat ini, dengan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi, hal itu dapat dilakukan dengan mudah oleh dosen atau mahasiswa.  Saat ini, tidak tepat lagi karya ilmiah atau produk akademik disembunyikan.  Karya akademik harus dapat ditelusur oleh oleh siapa saja melalui internet.  Ini telah menjadi kebijakan Dikti (Surat No 2050/E/T/2011) dalam persyaratan kenaikan jabatan akademik dosen.  Dari sana, ia dibaca dan dinilai oleh masyarakat akademik atau umum.  Karenanya,  dosen atau mahasiswa juga perlu menguasasi teknologi (IT) pembelajaran, antara lain e-journal, digital library, punya blog, atau memanfaatkan website Universitas.

Lahirnya kebiasaan menulis dan publikasi di universitas, akan membangun kompetensi dan integritas akademik sivitas akademiknya.  Karya akademik dapat mencerminkan kemampuan bersaing Universitas dalam kehidupan kemasyarakatan dan pembangunan.  Hal ini juga mencerminkan kemampuan entrepreneurial suatu Universitas. Suatu entrepreneurial university pastilah universitas yang maju dan memiliki karya akademik bermutu tinggi, antara lain jurnal akademik, tingkat citasi, produk teknologi, paten, HAKI, dan kerjasama institusional. Para dosen bekerja keras dan sungguh-sungguh (dosen entrepreneur) menghasilkan income bagi perguruan tinggi dan melambungkan nama Universitas. Universitas di Indonesia belum memiliki banyak dosen entrepreneur.  Di National University of Singapore,hingga tahun 2004, telah menghasilkan 239 lisensi yang terdistribusi 45 persen produk paten, 30 persen non paten, dan 25 persen produk dimanfaatkan untuk pemerintah (Wong, 2006).

Anda semua para penulis, wartawan, dosen dan guru besar adalah entrepreneur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: