TN MERU BETIRI: (1) Rajegwesi yang menantang

Sebelumnya, rencana sudah kami susun.  Berbekal data dan informasi dari internet, dan sumber lainnya, serta info google earth; kami mengenal awal wilayah Taman Nasional Meru Betiri (TN MB).  Setelah itu, penulis perkuat dan klarifikasi dengan anggota tim lainnya, khususnya pak Purnawan (Walhi Jawa Timur).  Bersyukur pak Purnawan telah menyusun rencana detil kepergian, meliputi jadwal dan pembiayaan.  Hingga saatnya, pergi ke TN MB akhirnya terealisasi.

Kami berombongan lima orang (pak Polo driver, penulis, pak Pur, Bu Tri, bu Wiwin) berkendaraan mobil berangkat dari Malang pada tanggal 8 Juni 2012, atau tepatnya keluar dari kota Malang pada jam 1.00 dini hari dengan tujuan Banyuwangi.  Perjalanan sangat lancar, jam 6.00 tiba di kota Jember danbertemu dengan seorang kawan staf TN MB di alun-alun kota Jember.  Setelah silaturahim kurang lebih 20 menit, kami melanjutkan perjalanan menuju arah Banyuwangi.

Perjalanan pagi hari terasa menyejukkan.  Jalanan di tengah perbukitan gunung Gumitir terasa sejuk seiring jalanan yang berbelok dan naik turun.  Lalulintas masih sepi, jarang bersalipan dengan mobil.  Bahkan kami jarang menemui bis antar kota. Kami berhenti di suatu belokan jalan untuk sarapan pagi sambil menikmati indahnya pemandangan pengunungan.  Sarapan pagi yang paling nikmat mungkin nasi pecel atau rawon, tapi apa daya, yang ada di warung tersebut hanya lalapan ayam, lele dan ikan.  Ternyata, menu lalapan tersebut sangat nikmat dengan sambel mentahan dengan aroma terasi dan daun jeruk.

Perjalanan kami lanjutkan dengan jalanan makin menurun menuju kecamatan Kalibaru, Glenmore, kemudian kecamatan Genteng menuju arah Banyuwangi.  Di Genteng, kami harus berbelok ke kanan (arah selatan) menuju Gambiran, Jajag, kemudian wilayah kecamatan Pesanggaran.  Wilayah kecamatan tersebut menunjukkan ekonomi yang maju.  Lalulintas makin ramai saat masuk kota kecamatan.  Kondisi lahannya terdiri tanah sawah dengan pertanaman padi intensif.  Daerah ini sejak lama dikenal makmur, pendidikannya maju, pemudanya melanjutkan kuliah di kota-kota besar.

Jalanan menuju Pesanggaran tepatnya melalui desa Baru Rejo makin menyempit dengan kondisi beraspal bergelombang, terkelupas dan berlobang.  Di sekitar wilayah ini kami beberapa kali turun dari mobil untuk bertanya-tanya kepada penduduk sekitar menanyakan arah desa Sarongan.  Di persimpangan tertentu ada beberapa petunjuk jalan tetapi ada juga yang buta sama sekali.  Jalanan cenderung naik sebagaimana umumnya kondisi fisiografi pegunungan di pantai selatan Jawa.

Jalanan menuju Sarongan kondisinya sangat buruk atau tidak nyaman.  Kami harus melalui wilayah perkebunan Sungailembu milik PTPN XII.  Jalanan sangat sepi dandi kanan kiri dipenuhi tanaman karet, kakao, dan kelapa.  Kami sempat berhenti di suatu tempat pembuatan gula kelapa.  Tempat ini dikelilingi oleh perumahan (di sebut juga magersaren) pekerja yang merupakan milik perkebunan.  Kami sempat bertanya-tanya tentang proses pembuatan gula aren dan kehidupan mereka.  Mereka dengan sangat ramah menerima dan menjawab pertanyaan kami.  Kehidupan perkebunan seperti ini secara pribadi pernah penulis alami di kebun tebu di Jengkol, Kediri.  Setelah mengambil foto kami lanjutkan perjalanan. Berikutnya kami memasuki wilayah perkebunan Sumber Jambe yang juga masih dalam pengelolaan PTPN XII, dengan pertanaman yang sama seperti Sungailembu.  Batas wilayah perkebunan ini berakhir saat kami masuk Desa Sarongan.

Di desa Sarongan, kami berhenti di kantor seksi pengelolaan TN BM.  Saat itu sudah jam 11.00 siang, atau sejauh lima jam perjalanan dari kota Jember.  Kami menemui pak Zulkadri (pak Zul panggilannya) sebagai kepala seksi untuk koordinasi perjalanan berikutnya.  Selanjutnya, kami melaksanakan sholat Jumat di masjid di dekat pasar desa.  Di desa ini, meski letaknya terpencil, kondisi ekonominya relatif baik.  Jalanannya beraspal meski tidak rata, berlobang dan kasar.  Bangunan rumah dan masjid sangat memadai.  Barang-barang yang dijual di pasar pun cukup lengkap, mulai bahan pokok hingga minuman ringan (merk terkenal). Pasar ini dapat menjadi alternatif untuk kebutuhan para backpacker.  Penulis sempat membeli sandal jepit dan kacang garing dengan harga yang sangat terjangkau.  Kemudian, kami makan siang di warung desa di depan kantor TN BM.  Kondisi warung sangat bersih, dengan menu makanan yang lengkap dan nikmat.  Ada sayur segar, gulai ikan pedas, ayam pedas, sambal goreng, dan bakso.  Mak nyus.. nyamleng.  Warung ini pun dapat menjadi pilihan pengisi perut sebelum masuk Rajegwesi, atau lebih jauh ke Sukamade.  Saat makan siang itu, kami bertemu kolega dari UB Malang, Dr. Lukman Hakim, mengajar matakuliah ekowisata.  Luar biasa.. kolega ini, ia benar-benar berpetualang untuk mengembangkan kompetensinya.  Ia sedang mempersiapkan mahasiswanya untuk KKN di desa Rajegwesi.

Berikutnya, perjalanan dilanjutkan menuju ke Rajegwesi, yang merupakan salah satu dusun di Sarongan.  Rajegwesi termasuk dalam wilayah TN MB.  Kami sempat berhenti di pintu masuk TN untuk menyelesaikan administrasi, membayar tiket, serta berdiskusi dengan personil TN, dan penduduk setempat yang tergabung dalam MER (Masyarakat Ekowisata Rajegwesi).  MER baru dibentuk bulan November 2011 untuk mengimplementasikan jasa-jasa usaha ekowisata di wilayah ini.  Kami memperoleh penjelasan tentang MER ini dari saudara Wahyu dan Afian (petugas TN), serta Abdullah dan Tosin (MER).  Di pintu masuk ini ada tiga bangunan, yakni kantor MER, pos jaga dan kantor seksi TN BM.  Ini juga merupakan satu-satunya pintu masuk ke wilayah TN BM dari jalur Banyuwangi.  Pintu yang lain melalui jalur Jember menuju Bande Alit.  Lihat galeri selengkapnya

Kami diantar oleh Wahyu menuju homestay Dahlia di Rajegwesi.  Di sinilah perjalanan hari itu berakhir.  Homestay Dahlia milik ibu Solichah lebih luas dan lebih mentereng dibanding rumah penduduk yang lain.  Homestay berukuran kurang lebih 10 x 15 m persegi.  Kami menempati dua kamar masing-masing berukuran 5 x 5 m, berlantai keramik, terdiri dua kamar tidur.  Sesudah melepas kepenatan selama perjalanan, kami bergantian mandi.  Homestay bu Solichah memiliki dua kamar mandi/WC yang bersih, berlantai keramik, dengan kran siap mengucur air.  Air bersih berasal dari sumur yang dilengkapi pompa listrik.

Kami berbincang dengan ibu Solichah di ruang tengah sambil menikmati teh hangat dan jajanan serta video kesenian Banyuwangian.  Cara bu Solichah menyambut kami sangat alami dan ramah, dan memang demikian seharusnya.  Ia memiliki balita, Fais namanya; yang sedang menikmati video.  Sayup-sayup terdengar gelombang laut selatan yang memecah dataran pantai.  Jarak homestay ke pantai hanya sekitar 200 meter.  Dari sekitar 200 KK penduduk Rajegwesi, delapan puluh persen menggantungkan hidupnya dari laut sebagai nelayan, buruh nelayan atau pedagang ikan.

Menurut Wahyu, ada enam homestay di Rajegwesi. Pemilik homestay telah dilatih bagaimana mempersiapkan rumah dan menyambut tamu, termasuk berlatih berbahasa Inggris.  TN BM juga memberikan bantuan renovasi rumah untuk plafon dan lantai keramik dalam koordinasi MER.  MER telah melatih sebanyak 15 pemandu, namun hanya 8 pemandu yang aktif membantu pengunjung menikmati jasa usaha ekowisata di sekitar Rajegwesi.  Memang agak sulit mengajak masyarakat terlibat dalam jasa ekowisata, kata Wahyu.  Masyarakat umumnya melihat jasa ekowisata belum memberikan jaminan kesejahteraan.  Memang hal ini masih proses, kuncinya masyarakat harus merubah cara pandang dan berpengetahuan untuk mampu “melayani” pengunjung.

Sore itu sekitar jam 16.00, Wahyu mengajak kami mengunjungi rumah warga, pak Jali namanya.  Disana kami menyaksikan dan berdiskusi perihal biogas dan pembuatan gula kelapa.  Biogas menggunakan bahan baku kotoran sapi (tlethong) itu mampu menggantikan elpiji untuk keperluan masak di dapur.  Disainnya sangat sederhana, terdiri tank tlethong, tank gas, dan kompor gas.  Dalam kondisi sudah operasional, hanya membutuhkan sekitar dua kilogram tlethong per hari.  Adapun, proses pembuatan gula terdiri pemasakan dan pencetakan.  Di Rajegwesi ditemukan empat warga pembuat gula kelapa dan satu biogas.  Hal ini dapat disajikan sebagai pelengkap jasa ekowisata dengan mengajak psikomotorik pengunjung terlibat dalam proses produksi.

Saat maghrib, kami kembali lagi ke homestay.  Usai sholat, kami diminta bu Solichah ke meja makan.  Disana sudah tersedia menu makan malam sayur tumis kubis dan wortel, lauk pepes, tahu dan tempe.  Luar biasa,.. sangat sehat dan nikmat.  Tapi kami diingatkan oleh pak Pur, masih ada lagi menu khusus malam ini.  Abdullah dan Tosin sedang menyiapkan ikan panggang khas Rajegwesi.  Malam itu, kami pun menikmati ikan tongkol panggang di belakang rumah. Abdullah dan Tosin sedang membakar ikan sambil bercengkerama di bawah kegelapan malam dimana bulan tidak menampakkan sinarnya.  Hentakan kipas menyebarkan bau tongkol panggang yang khas dengan bumbu kecap.  Dalam jepit pemanggang ada lima ekor tongkol berselimut kecap. Dalam keremangan lampu emergency, kami menikmati tongkol hangat dengan tektur yang empuk.  Sekali lagi mak Nyus… nyamleng.  Suatu pengalaman yang berkesan, tak terlupakan.  Menutup malam, Abdullah minta kita bersiap esok untuk bangun pagi sekitar jam 4.30.  Ada pemandangan menarik pagi buta di Rajegwesi, yakni nelayan berangkat melaut.

Bangun pagi hari kedua di Rajegwesi berjalan lancar.  Cuaca tidak lebih dingin dibanding Malang.  Usai sholat Shubuh, penulis berangkat ke pantai menyusul bu Wiwin dan pak Polo yang pergi duluan.  Penulis berjalan kaki di kegelapan Shubuh dengan menebak arah dari suara gelombang laut.  Saat kaki menginjak pasir pantai, kegelapan makin menjadi.. mungkin karena kabut pantai.   Yang terlihat hanya bayang-bayang perahu dan nelayan yang bergantian masuk ke laut.  Inilah perahu jukung, dengan panjang berkisar 4 hingga 8 meter; diperkuat dengan dua lengan kayu kiri dan kanan di badan perahu.  Saat turun ke laut, bagian belakang perahu ditumpangkan di atas gerobak beroda dua, didorong seorang nelayan, dan dibantu dua orang lainnya di bagian depan.  Begitu perahu sudah terapung di air, maka mesin tempel dinyalakan.  Gerobak kemudian dikembalikan ke darat. Sedikit lagi dengan dorongan, maka perahu sudah melaju ke laut.  Rata-rata setiap perahu dinaiki tiga awak.  Perahu-perahu itu juga menyalakan lampu untuk memberi tanda keberadaannya di tengah laut.  Daratan pantai segera bersih dari perahu-perahu ketika matahari mulai menunjukkan pantulan sinarnya.  Disinilah kami kemudian memainkan kamera mengambil gambar.

Malang, 13 Juni 2012

3 Responses to TN MERU BETIRI: (1) Rajegwesi yang menantang

  1. Jadi pengen adventure ke Rajek Wesi says:

    Jadi pengen adventure ke Rajek Wesi

  2. Terima kasih banyak buat ulasannya tentang Rajegwesi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: