TN MERU BETIRI: (2) Indahnya Teluk Hijau dan Poncomoyo

Rencana hari kedua telah disusun (9/6/2012).  Pagi hari adalah trekking menuju teluk Hijau, dan sore harinya berangkat ke Sukamade. Nama teluk Hijau sangat populer, sehingga pikiran senantiasa membanyangkannya.  Hari ini kami akan membuktikan hal tersebut.  Begitu selesai dari pantai Rajegwesi, kami kembali ke homestay.  Di meja makan sudah terhidang menu sayur gori (lodheh tewel) dan lauk tempe, tahu, pepes tongkol dan telur ceplok.  Kami sarapan sambil mengobrol tentang jasa ekowisata di Rajegwesi.  Di saat yang sama Abdullah dan Tosin sudah bersiap dengan membawa pelampung untuk tujuh orang.  Lihat galeri selengkapnya

Tiba saatnya kami mematangkan rencana.  Abdullah menyampaikan kami berjalan kaki menuju teluk Hijau, kemudian kembali melalui laut dengan perahu.  Penulis sempat kuatir karena ada yang tidak bisa berenang.  Perasaan itu penulis simpan sambil mengamati tanggapan yang lain.  Kira-kira jam 7.30 kami mulai berjalan kaki.  Kami menembus jalan desa, kemudian jalan hutan.   Di beberapa tempat kami berhenti beristirahat sambil berfoto.  Salah satunya di suatu SDN Sarongan, yang kondisi bangunan sekolah masih baik.  Murid-murid sekolah tersebut harusnya mulai mengenal potensi ekowisata di desanya.  Mereka harus mulai memahami manfaat ekowisata untuk kesejahteraan desanya.  Saat di suatu ketinggian tertentu, kami berhenti untuk berfoto dengan latar belakang laut lepas.  Ini yang disebut teluk Damai, kata pak Pur.  Pemandangannya begitu indah, tenang, dan memang damai.

Rute berikutnya adalah bukan lagi jalan, tetapi lebih tepat sebagai setapak; karena hanya cukup untuk satu orang.  Rutenya pun naik hingga 90 derajad.  Rute ini mengikuti garis pantai yang terlihat sepanjang sisi kiri.  Luarrr biasa.. kami sedang mengamati laut lepas Samudra Hindia.  Ini sudah biasa penulis amati dan bayangkan dari google earth.  Pemandangan pantai yang kaya vegetasi, sunyi, indah, dan tenang ini adalah tipikal pantai-pantai di perbatasan wilayah Nusantara sekaligus menunjukkan kekayaan negeri ini.  Wajar saja negara lain mengagumi wilayah nusantara.  Jalanan kemudian menurun kembali hingga tampak pantai yang landai yang dipenuhi batuan padas.  Hasrat berfoto tidak dapat dibendung, kami pun mampir menuju arah ombak.  Tidak mudah berjalan kaki di atas padas ini. Kami sempat berfoto sejenak sebelum melanjutkan lagi dengan rute yang relatif mendatar.

Berikutnya kami berhenti di suatu tempat yang disebut pantai Batu.  Mengapa demikian? Karena pantai ini penuh dengan batu, bukan pasir atau tanah.  Batu berdiameter sekitar 10 cm banyak ditemukan, dengan bentuk (pasti) bulat karena proses gesekan terus-menerus antar batu oleh hempasan ombak.  Bila bunyian ombak yang lazim adalah suara air, maka disini bunyiannya adalah seperti suara batu yang jatuh bersamaan (kemrothok, bahasa jawanya) membentu harmoni suara berbadu dengan desiran angin dan gesekan dedaunan.  Allahu Akbar, inilah kebesaranNya dengan aneka makhluk yang diciptakanNya.  Penulis menduga proses geologi demikian berasal dari aktivitas vulkanik masa lalu di sekitar wilayah ini, khususnya di dasar laut.  Gelombang laut kemudian membawa batu-batu beku tersebut ke pantai.  Penulis mengingatkan rombongan untuk tidak mengambil batuan tersebut karena kita tidak memiliki hak untuk itu.  Sama seperti pesan saat pergi haji.  Kami melanjutkan perjalanan dengan melewati aliran air seperti sungai kecil.  Pak Pur sempat mencicipinya, rasanya tawar, katanya.  Ini tentu dapat menjadi bekal bagi pengunjung yang ingin menginap atau camping di tempat ini.

Rute perjalanan berikutnya relatif landai menuju teluk Hijau.  Penulis sempat tertinggal rombongan sehingga salah jalan.  Beruntung pak Pur menjemput penulis dan kembali ke jalan yang benar… he..he.  Setelah berjalan sekitar 300 m, kami tiba di tempat yang eksotik ini sekitar jam 10.00.  Tempat ini begitu populer di dunia wisata, dan menjadi ikon utama TN MB selain Sukamade.  Pasir pantainya bersih, berwarna putih, terdiri material pasir kwarsa; biasa digunakan untuk mendinginkan alat-alat pembakaran di laboratorium kimia.  Tidak ada pengunjung lain ditempat ini, kecuali seorang mahasiswa S2 yang sedang penelitian burung, yang berangkat bersamaan dengan kami sejak dari Rajegwesi.  Tidak dapat dibayangkan bila teluk ini dikunjungi oleh banyak orang tanpa pengelolaan yang ketat dan tepat.  Seandainya ada lima puluh orang pengunjung di tempat ini, pasti sudah sangat padat.

Teluk Hijau termasuk kategori teluk kecil.  Sebelah kiri dari pandangan ke laut lepas, ada batuan besar (lebih tepat sebagai bukit kecil dengan tinggi 5 m) yang ditumbuhi rumput dan pohon.  Di sebelah kanan merupakan dataran berbukit dengan vegetasi hutan.  Permukaan airnya memang menunjukkan spektrum warna hijau.  Lebih tepatnya hijau muda atau hijau tosca, bukan hijau daun tua.  Warna seolah-olah bergerak mengikuti arus gelombang laut.  Warna hijau ini semakin nyata indahnya di dekat di dataran bukit sebelah kanan.  Memang ada pemandangan yang tidak biasa atau aneh.  Pertemuan bukit dan permukaan air laut membentuk horison warna pucat.  Di tempat lain, horison itu biasanya berwarna gelap karena lumut, rumput atau vegetasi lainnya.  Penulis menduga, proses geologi menghasilkan mineral atau batuan bawah tanah kaya sulfur yang teroksidasi.  Hal ini bukan saja menghasilkan spektrum warna hijau, tetapi juga kondisi yang tidak disukai oleh lumut.  Hal ini memerlukan kajian ekologi lebih mendalam melalui riset.  Namun secara umum, warna hijau air dan putihnya pasir membentuk paduan warna pantai yang kontras tetapi lembut, mantab dan elegan.  Sekali lagi… Allahu Akbar.

Cukup lama kami menunggu tibanya perahu penjemput.  Jepretan foto sudah tidak terhitung mengabadikan tempat dan momen ini; dan tentu saja aneka pose.  Kembali perasaan kuatir muncul karena gelombang laut tidak dapat diprediksi.  Penulis berdoa semoga diberi perlindungan dan kemudahan.  Akhirnya perahu pun datang.  Dengan kaki dan sepatu berbasah-basah kami naik perahu.  Dari depan, kami duduk berurutan, pak Polo, penulis, pak Pur, Bu Tri, bu Wiwin serta Abdullah, Tosin dan operator perahu yang ramah dan penuh senyum (maaf penulis belum tahu namanya).  Perahu ini berukuran panjang sekitar 6 m dan lebar maksimal 1.5 m, dilengkapi jukung.

Perjalanan laut pun dimulai.  Kami semua hanyut dengan gerak perahu dan gelombang laut.  Ada rasa senang, bersyukur dan luar biasa menghadapi momen ini.  Bu Wiwin nampak senang meski tidak dapat berenang.  Perahu menjauh dari pantai meninggalkan pemandangan yang luar biasa.  Teluk Hijau ini semakin indah, dan nampak lebih hijau gelap dipandang dari laut lepas.  Kembali kami hanya tersenyum gembira sambil mengabadikan momen ini dengan kamera.  Penulis sempat berpindah tempat, mundur ke belakang untuk diambil foto bersama pak Pur.

Perjalanan perahu ini menyusuri pantai yang telah kami lewati sebelumnya untuk kembali ke pantai Rajegwesi.  Rute berjarak sekitar 100 m dari bibir pantai.  Sungguh luar biasa pemandangan ini.  Sungguh kaya negeri nusantara ini.  Perahu sedikit mendekat pantai berbukit sehingga keteduhannya menutup sinar matahari.  Terkadang permukaan air nampak nampak lebih tinggi dibanding perahu saat gelombang datang, membuat hati berdegup.  Kami saksikan kembali pantai batu dengan horison warna cerah diterpa gelombang.  Demikian pula dengan teluk damai yang hening dan mendamaikan hati dibawah bukit yang menjulang.

Saat perahu menuju arah rute ke pantai Rajegwesi, Abdullah memberi tanda menuju arah ke laut lepas.  Kami tertegun dengan usulan atau rencana ini.  Kami benar-benar menuju laut lepas.  Bapak nelayan meyakinkan dengan senyum bahwa perjalanan akan aman.  Tidak ada pilihan lain kecuali menerima pilihan plan B ini (di luar rencana).  Nampaknya perahu menuju suatu perairan di ujung sebelah timur Rajegwesi dengan ombak yang lebih besar.  Sesudah itu perahu berbalik (memutar ke kiri) kembali untuk menyusuri batuan karang pantai.  Suasana benar-benar sunyi seiring gelombang laut yang makin tenang.  Pikiran kami lega karena arahnya menuju pantai Rajegwesi.  Ternyata kami terkejut yang kedua kali.  Kami baru sadar ternyata kecepatan perahu berkurang dan menunjukkan tanda-tanda berhenti.  Bapak nelayan menawarkan kami untuk turun laut dan berenang sambil menunjukkan snorkling.  Pemandangan bawah lautnya bagus, kata Tosin.  Kami tertegun dengan tawaran ini.  Ini adalah kesempatan langka, harus dimanfaatkan, kata pak Pur.

Tiba-tiba saja, penulis spontan menjawab, baiklah.  Penulis segera melepas topi dan sepatu, serta mengeluarkan dompet dan sapu tangan.  Penulis ditawarkan sepatu renang, namun menolak.  Segera penulis memakai masker dan snorkling.  Karena tidak terbiasa, mulut sangat terganggu dengan alat tersebut.  Penulis segera turun ke laut, awalnya agak grogi sambil adaptasi berenang.  Bapak nelayan membantu penulis untuk melihat terumbu karang bawah laut sedalam kira-kira tiga meter.  Terumbu karang tersebut memperlihatkan pola mozaik tertentu layaknya permadani berwarna keabu-abuan.  Hampir tidak ada ragam warna yang menyolok.  Benar saja, gangguan snorkling membuat air justru masuk mulut saat mengambil napas.  Air laut terasa sangat.. sangat asin.  Penulis dapat melihat terumbu karang meski terganggu alat napas itu.  Setelah itu penulis putuskan hanya berenang alami saja, tanpa masker dan snorkling.  Sementara yang lainnya hanya tersenyum di perahu.

Penulis tidak mau menikmati momen ini sendiri.  Penulis mengajak pak Pur, pak Polo, bu Tri dan bu Wiwin untuk berenang.  Benar juga, bu Tri mau turun.  Bersamaan itu, Abdullah dan pak Polo juga berenang.  Bu Tri yang sempat mencoba berenang dan melihat terumbu karang dengan masker juga tidak nyaman saat mengambil napas.  Alat itupun di lepas.  Sekali lagi, ada yang lebih mengejutkan.  Bu Wiwin juga terjun ke laut, meski tidak bisa berenang.  Kita semua merasa gembira sekaligus kuatir dengan momen ini.  Uji nyali berenang ini dilakukan oleh kepala P2K Widyagama, yang juga harus membuktikan bahwa entrepreneur harus berani.  Kami menikmati air laut kurang lebih selama tiga puluh menit.  Alhamdulillah semuanya berjalan lancar atas bantuan bapak Nelayan, Abdullah dan pak Polo.  Bu Wiwin bisa menikmati air laut dan naik ke atas perahu kembali.  Sungguh luar biasa …momen ini, dapat berenang di laut lepas, merupakan pengalaman pertama bagi penulis.

Perahu kembali berjalan menuju Rajegwesi.  Ada perasaan gembira dan berkesan dari pengalaman ini.  Cuaca saat itu yang agak panas dan mendung tidak membuat kami kedinginan meski baju berbasah ria.  Di perjalanan kami sempat mengerjai Pak Pur yang tidak mau berenang.  Kami juga baru tahu, ternyata Tosin juga tidak bisa berenang.  Abdullah mengatakan posisi berenang tadi adalah perairan Poncomoyo.  Kabarnya dahulu terumbu karangnya sangat indah dengan ragam flora dan fauna.  Kualitasnya menurun karena penggunaan bahan kimia untuk menangkap lobster dan ikan tertentu.

Saat perahu mendarat di pantai, kami disambut oleh Wahyu.  Ia mengingatkan bahwa kami telah dijadwalkan untuk pergi ke rumah pak Jali, warga yang memiliki biogas.  Kami berjalan kaki dari pantai sejauh tiga ratus meter menuju rumah pak Jali.  Setelah membersihkan badan dan berbincang sejenak, kami disuguhi minuman yang sangat khusus, yakni campuran kelapa muda (degan) dan nira kelapa (legen).  Kami diminta mempraktekkan resep tersebut.  Caranya, air kelapa di keluarkan atau diminum dulu,  kemudian kelapa dibelah menjadi dua, dan dagingnya diserut dengan sendok sambil dicampur legen.  Begitu kami coba ke mulut,  rasanya manis dan enak, ….. mak nyuss dan wuuaaah.   Rasanya letih dan dahaga siang itu lenyap dan tergantikan menjadi suue…ger.  Praktek resep minuman seperti ini adalah sajian ekowisata yang luar biasa.

Malang, 13 Juni 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: