Wakatobi (2): sedang tumbuh dan berkembang

Sejak awal kedatangan ke Wakatobi, pikiran selalu optimis wilayah ini akan cepat maju.  Otonomi daerah pasti berdampak positif bagi pembangunan dan kesejahteraan dengan berbagai dinamikanya.  Tanda-tanda itu mulai nampak ketika menyaksikan jalanan, lingkungan pemukiman, atau bangunan fisik layanan pemerintahan lainnya. Hal yang tidak bisa dibohongi, Wakatobi sudah terlanjur dikenal di seluruh dunia.  Keunggulan ekologi perairannya, telah mendatangkan arus orang (termasuk warga asing), barang dan jasa (penunjang) lainnya  memperkuat ekonomi wilayah ini.  Semuanya berinteraksi dan bersinergi bagi tumbuhnya aktivitas ekonomi wilayah kepulauan ini.   

Wakatobi adalah singkatan dari nama-nama pulau Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko. Kepulauan Wakatobi sejak tahun 2003 telah menjadi Kabupaten sebagai pemekaran dari Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara. Wakatobi juga merupakan nama kawasan taman nasional yang ditetapkan pada tahun 1996, dengan luas keseluruhan 1.39 juta hektare, mencakup keanekaragaman hayati laut, skala dan kondisi karang yang menempati salah satu posisi prioritas tertinggi dari konservasi laut di Indonesia (Wikipedia).

Bandara Matohara, sekalipun kondisinya masih sederhana namun sudah berfungsi baik sejak setahun yang lalu.  Sedikitnya dua kali sehari pesawat pergi pulang ke Kendari dan Makassar.  Bandara yang selesai dibangun setahun yang lalu itu mempercepat akses ke dan dari luar. Perkembangan penumpang pesawat lumayan tinggi terutama dari penumpang domestik (melalui Makassar atau Kendari). Sebelumnya aksesnya sangat terbatas, hanya melalui laut yang sangat dipengaruhi iklim.  Aksesibilitas sangat terbatas pada saat musim timur (Juni – Agustus), dan musim barat (Desember-Februari) karena gelombang sangat besar.  Musim yang paling tenang dan nyaman untuk perjalanan laut di Wakatobi adalah pada bulan September sampai dengan bulan November dan pada bulan Maret sampai dengan bulan Mei.

Infrastruktur jalan khususnya di Wanci sangat memadai.  Jalan dibangun sepanjang pantai mengitari pulau sepanjang 40 km.  Di tepi jalan, berdiri rumah penduduk yang umumnya tembok permanen. Ada juga rumah panggung kayu dengan kualitas dan konstruksi sangat baik. Ada juga bangunan lab rekayasa milik kementerian perikanan dan kelautan yang sangat megah.  Penulis menemukan bank dan ATM BNI di dekat pasar.  Sarana transportasi sudah ada angkot menuju atau dari pasar Wanci.  Operator seluler yang aktif adalah Telkomsel.  Prasarana listrik berasal dari pembangkit disel.

Penulis sempat masuk ke pasar.  Pasar tersebut dikenal dengan pasar pagi dan pasar malam karena memfasilitasi datangnya nelayan dari laut di dua waktu tersebut.  Hal ini menunjukkan tingginya konsumsi ikan di wilayah ini.  Posisi pasar tepat di dermaga dimana perahu nelayan langsung masuk pasar.  Memang, produk ikan yang dijual pedagang tersebut sangat beragam, lebih bervariasi dibanding ikan-ikan di pasar Malang.  Mereka sering menyebut ikan laut dalam, mengacu kepada kelompok ikan tertentu.  Ikan dijual dalam bentuk masih utuh, sudah dipotong/dibelah, sudah dimasak, atau dikeringkan (ikan asin).  Aneka sayur, bumbu, makanan (sembako), dan kue serta alat-alat dapur yang dijajakan pedagang relatif sama dengan kondisi di pasar-pasar kecamatan di Jawa.   Penulis juga mendatangi pasar Mola, yang merupakan pasar sentra di kecamatan Wanci.  Pasar Mola berjarak hanya sekitar satu kilometer dari pasar pagi.  Pasar ini berukuran lebih besar, juga memiliki dermaga perahu.  Bedanya, dipasar ini ada los (stan) buku dan alat tulis, mainan anak, serta pakaian bekas impor.   Pakaian bekas yang relatif baru ini diimpor dari Singapura atau Jepang melalui jalur laut.  Lihat galeri.

Sebagai wilayah tujuan wisata, di pulau Wangi-wangi sudah berdiri hotel, homestay dan penginapan, serta restoran dalam jumlah dan kualitas yang cukup layak.  Homestay telah dikembangkan di Waha dengan bimbingan proyek Coremap (Coral Reef Rehabilitation and Management Program, http://www.coremap.or.id) yang dibiayai pemerintah (LIPI dan KKP) sejak tahun 1998.  Fasilitas ini tentu saja tidak sama dengan milik resor yang berkualitas lebih baik dan tarif lebih mahal.  Untuk wisatawan berkantong biasa dapat menginap di Wanci, sementara untuk turis manca negara atau berkantong tebal bisa menikmati layanan resor.  Resor bersifat eksklusif berposisi jauh dari pemukiman, di temukan di Wangi-wangi (misalnya Patuno Resor) atau pulau lainnya.  Resor dikelola secara profesional dan berjejaring dengan travel agent internasional termasuk dengan Bali[1].  Penulis sempat menikmati keduanya, baik hotel maupun resor.  Hotel berada di lingkungan pemukiman, dengan fasilitas air hangat, AC, TV; dengan tarif 150 ribu per malam.  Nikmatnya hotel atau homestay ini, adalah kemudahan akses ke pasar atau pusat keramaian. Pengunjung bisa menikmati kuliner khas Wakatobi dan perniknya. Hal-hal yang menyangkut kehidupan sosial ekonomi dan kemasyarakatan dapat dengan mudah direkam.  Sebaliknya, tinggal di resor lebih mementingkan ketenangan dan kesunyian, sebagaimana dicari oleh wisatawan mancanegara.  Wisatawan tinggal di rumah panggung kayu dengan standar layanan hotel berbintang empat, dengan tarif di atas 750 ribu rupiah.

Kinerja ekonomi wilayah Wakatobi lebih diperankan oleh sektor perikanan dan kelautan, serta pariwisata.  Masyarakat mulai menyadari besarnya potensi wilayahnya sebagai tujuan wisata.  Juga, faktor pendukung pada umumnya relatif memadai.  Kondisi infrastruktur jalan misalnya, relatif memadai dibanding jalan menuju Rajegwesi TN Meru Betiri).  Kemampuan masyarakat dalam berusaha wisata secara umum juga lebih baik dibanding Ngadas, Rajegwesi, atau Candirejo.


[1] Sebuah resor di di Kecamatan Tomia, yang dikelola PT Wakatobi Diving Resort milik Lorent, warga Swiss telah mendunia, menerima paket wisata dari Bali secara langsung.   Resor tersebut mengelola Pantai One Mobaa di Pulau Tolandona, Tomia. Pantai disewa untuk jangka waktu 20 hingga 30 tahun.  Pemilik tanah, Baharuddin, menyewakan lokasi itu kepada Loren Mader sejak 1996

2 Responses to Wakatobi (2): sedang tumbuh dan berkembang

  1. ryantravel says:

    artikel yang menarik. sayang nya Baharuddin memalsukan dokumen2 waris, menggunakan hak orang lain, serta memperalat masyarakat setempat demi kepentingan nya sendiri. Onemobaa sesungguh nya bukan lah milik nya …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: