Wakatobi (6): Keliling (Survei) Wangi-wangi

Selesai diskusi, peserta diminta ikut survei lokasi rumah apung.   Dinas Perikanan dan Kelautan sudah menyusun rencana survei lokasi terbaik, disesuaikan dengan keterbatasan waktu.  Survei lokasi memilih dua tujuan alternatif, yakni lokasi 1 di sekitar barat daya Pulau Wangi-wangi dan lokasi 2 di sekitar matahora (lihat peta).  Menuju lokasi 1, peserta menggunakan perahu boat.  Setelah itu pulang kembali ke Wanci, dan dilanjutkan naik mobil menuju lokasi 2.

Perahu boat telah disiapkan di bawah restoran sehingga memudahkan kami turun melangkah.  Tidak semua peserta diskusi turun ke boat karena berbagai alasan.  Namun penulis menghitung ada sekitar tiga belas orang itu survei lokasi.  Perahu ini merupakan kendaraan dinas perikanan dan kelautan untuk berbagai keperluan, termasuk untuk bantuan bencana atau alasan sosial lainnya.  Perahu sumbangan dari KKP ini berwarna putih, bertenaga 2 x 250 Pk dan dapat memuat hingga lima belas orang.

Perjalanan boat dari Wanci menuju lokasi 1 tidak terlalu jauh, hanya sekitar tiga kilometer.  Namun perjalanan tidak dapat dilakukan secara cepat karena muka air laut sedang surut, sehingga di beberapa tempat hanya setinggi 60 cm.  Hal ini menyebabkan crew harus mengangkat mesin agar baling-baking tidak menyentuh dasar laut.  Namun justru itu kami menikmati pemandangan dengan nyaman dan puas. Perairan laut begitu tenang, jernih relatif tanpa ombak.  Terkadang nampak juga pergerakan ikan.  Luar biasa indahnya melihat pulau Wangi-wangi dan Kapota dari laut.  Rumah-rumah suku Bajo tampak berjajar, ada yang rapi atapnya, ada pula yang masih sederhana.  Di beberapa tempat, nampak barisan botol air mineral terapung dengan menyolok di permukaan laut.  Itu merupakan tempat budidaya rumput laut tradisionil.  Posisinya pun tidak beraturan, sehingga relatif mengganggu alur pelayaran.  Wilayah ini merupakan jalur pelayaran menuju Kaledupa, Tomia dan Binongko.

Di bawah laut juga dengan jelas terlihat rumput-rumputan (seperti rumput gajah), atau disebut dengan lamun. Perairan disini merupakan padang lamun yang indah. Saat masuk perairan dangkal, mesin tidak aktif, sehingga boat seolah-olah diam terbawa arus.  Bila demikian, seluruh penumpang diminta maju ke depan agar buritan punya kedalaman cukup.  Pak Salim sangat menguasai wilayah ini dan memandu arah perahu sekaligus menunjukkan alternatif lokasi rumah apung.  Pada saat yang sama, pak Hardin mengamati alat GPS untuk memastikan posisi. Pak Salim dan Hardin juga beberapa kali menunjukkan lokasi diving yang bagus.

Selama perjalanan kami mendiskusikan tentang masyarakat Bajo.  Mengapa? Karena kami melihat beberapa perahu mereka sedang berhenti, seperti menunggu.  Nampaknya mereka sedang menggali pasir atau batu karang secara ilegal.  Kehadiran kami, membuat aktivitasnya berhenti.  Ini menjadi masalah besar, karena merusak ekosistem dan mencemari laut.  Pasir atau batu itu untuk dijual atau digunakan sendiri.  Memang, di Wakatobi tidak ada bahan tambang pasir.  Untuk proyek-proyek pembangunan pemerintah, pasir didatangkan dari luar pulau.  Sedang untuk pembangunan rumah penduduk umumnya dari pasir ilegal tadi. Batu karang diambil kebanyakan untuk pondasi bangunan, termasuk untuk rumah Bajo, menggantikan bahan kayu yang rapuh dan bahan bakunya terbatas.  Pemerintah mengalami kesulitan menangani hal ini, termasuk mengajak mereka untuk hidup di darat.

Setelah dirasa cukup, kami kembali ke lokasi restoran Wisata Beach, Wanci.  Saat itu sekitar jam 14.00 dalam suasana mendung dengan gerimis ringan.  Memang sejak pagi cuaca relatif mendung dengan sinar matahari cukup redup. Kami langsung naik mobil menuju lokasi 2, yakni di desa Matahora (satu lokasi dengan airport).  Jumlah peserta survei semakin berkurang, hanya tersisa tujuh orang dari tiga belas orang saat survei lokasi 1.  Perjalanan darat menggunakan Avanza dilakukan melalui jalur selatan pulau Wangi-wangi.   Jalur utara sudah pernah penulis lewati saat baru datang ke Wanci kemarin hari.

Pemandangan sepanjang perjalanan memang nampak lebih alami, sepi, dengan sedikit jalan bergelombang.  Kepadatan penduduk di jalur selatan ini memang lebih rendah dibanding utara. Mungkin karena bukan jalur utama, nampak jalanan tidak terawat, bahkan ditumbuhi oleh rumput dan semak belukar.  Beberapa tempat merupakan hutan, sementara di bagian yang lain tepat berada di pesisir dengan pemandangan laut yang indah.  Saat masuk desa Liya Mawi, kondisi jalan mulai berbukit.  Desa ini terletah di sisi selatan Pulau Wangi-wangi.  Driver pak Cie sengaja keluar jalur memilih jalan belok kiri dimana nampak mulai ada pemukiman.  “Kita masuk Benteng”, katanya.  Para penumpang pun senang-senang saja, bahkan mobil pun berhenti.  Saat itu hujan gerimis mulai lebat, sehingga kami berpayung korang untuk menutup kepala.  Kami pun akhirnya naik ke benteng setinggi sekitar dua meter dan berteduh diatasnya yang beratap seng.  Di benteng ini, dahulu dilengkapi dengan meriam, yang kini hanya tersisa bekas-bekasnya.  Pemandangan dari atas pun sedemikian bagus, dan memiliki posisi strategis untuk pertahanan.  Jauh di depan benteng merupakan lembah berhutan cukup lebat.  Benteng ini, menurut cerita lokal, merupakan wilayah dari kasultanan Buton.  Kami berenam sempat berdebat kemungkinan ini adalah benteng pertahanan terhadap serangan Belanda.

Perjalanan berlanjut menuju Matahora dengan suasana makin sepi.  Matahora terletak di posisi barat Pulau Wangi-wangi, berjarak sekitar 10 km dari lokasi benteng.  Hujan membuat perjalanan semakin hening.  Badan yang basah dan juga merasa letih membuat terdiam selama perjalanan. Lokasi 2 akhirnya ditemukan di suatu pesisir yang memiliki pulau bernama Sousu.  Kami turun dari mobil dan berteduh di suatu gazebo karena hujan kian lebat.  Pengamatan tertuju di perairan di belakang pulau Sousu, sebagai pilihan lokasi rumah apung.  Diskusi singkat memberi pertimbangan bahwa lokasi ini jauh dari pemukiman.  Pemukiman terdekat sekitar 3 km, namun masyarakatnya tidak mengenal jasa wisata sebagaimana Wanci.  Karena itu, kami memutuskan melihat pemukiman terdekat itu.  Benar, pemukiman itu terkesan sangat sepi, pantainya kotor kurang terpelihara.  Segala catatan dan pertimbangan akan diolah oleh Dinas Perikanan dan KKP Jakarta.  Kami pun memutuskan pulang kembali menuju Wanci karena sudah menjelang sore.

Saat masuk desa Patuno, kami berbelok masuk kawasan resor.  Disana kami sempat turun melihat berbagai informasi sambil kepentingan ke kamar kecil.  Resor ini dikelola secara profesional dengan investasi sangat tinggi.  Resor ekslusif ini banyak dihuni oleh wisatawan asing.  Kualitas layanannya berstandard internasional, seperti hotel berbintang empat ke atas.   Resor ini terletak di sepanjang pantai berbatasan dengan bukit dan laut lepas.  Di dalamnya berjajar rumah panggung berarsitektur tradisional menghadap ke pantai yang bersih dan bealaskan lamun dan terumbu karang.  Ringkas cerita, malam hari itu penulis memutuskan menginab di resor ini untuk memperoleh pengalaman.  Namun kami harus ke Wanci dahulu untuk mengambil barang yang masih tertinggal di hotel.  Hari ini benar-benar suatu perjalanan yang mengesankan.  Merasakan perairan Wakatobi dengan boat dan sensasi padang lamunnya, serta perjalanan mengelilingi pulau Wangi-wangi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: