Malaikat kecil …

Banyak kejadian dimana akal atau rasio tidak berfungsi. Rasio manusia pandai merencanakan, biasa melakukan hitung-perhitungan, lalu “tahu” bagaimana prediksi dan hasilnya. Namun, hasilnya diluar perhitungan rasio sama sekali. Meleset dari prediksi, baik yang jauh di bawah prediksi (underestimate) atau yang justru melebih perkiraan (overestimate). Penulis mengalami dua hal tersebut pada hari yang sama, sekaligus menjadi cobaan di hari terakhir puasa. Semuanya itu menjadi bagian dari makna kesabaran.
Lebaran tahun ini (1433H), penulis merayakannya di Padang, untuk bersilaturahim dengan keluarga istri. Semua telah disiapkan sebagaimana melakukan perjalanan jauh. Penulis berangkat menggunakan penerbangan Surabaya-Jakarta, bukan transit, dan Jakarta-Padang. Sekali lagi semua sudah on scheduled. Pada tanggal 17 Agustus 2012, perjalanan Surabaya-Jakarta lancar, dimana penulis tiba sekitar jam 20 malam di Jakarta. Penulis kemudian bermalam di salah satu hotel dekat bandara. Selanjutnya, perjalanan Jakarta-Padang terjadwal jam 5.55 pagi. Penulis sudah siap pagi-pagi di bandara terminal 1B (18 Agustus 2012) sekitar jam 03.40 untuk check-in. Selanjutnya penulis langsung menuju ruang tunggu ke gate 3. Kiranya cukup waktu untuk menunggu panggilan masuk ke pesawat.
Penulis sempat membaca buku dan memainkan HP untuk menunggu. Semuanya nampak berlangsung aman dan biasa-biasa saja. Mendekati jam 5.30 masih belum ada tanda-tanda pemberitahuan petugas. Ada panggilan penumpang, tetapi ditujukan untuk tujuan Jambi. Hingga jam 6.00, pesawat ke Padang belum ada pengumuman. Setelah itu, ada lagi panggilan untuk pesawat ke Palembang. “Mana pesawat ke Padang?”, pikir penulis.   Penulis mulai gelisah, dan beranjak segera ikut antrian ke Palembang, sambil menanyakan tujuan Padang. Petugas diam saja. Tidak puas atas respon tersebut, penulis berjalan ke counter dekat pintu masuk gate 3. Petugas memberi jawaban yang mengejutkan. Ternyata, penulis salah gate, seharusnya ada di gate 4. Penulis berpikir… mengapa tidak ada sama sekali panggilan, atau pemberitahuan. Dan memang, ini kesalahan penulis yang teramat elementer… seperti orang baru naik pesawat, penulis agak geli/konyol .. dengan menyalahkan diri sendiri. Inilah betapa rasio berjalan tidak optimal, dimulai dari hal yang kurang cermat.
Penulis diminta kembali ke counter check-in, tepatnya no 27. Jawaban petugas sangat jelas, penulis harus menunggu sebagai waiting list pesawat berikutnya, yakni jam 8.00, 10.00, 13.00, 15.00 dan 18.00. Dengan kata lain sebagai cadangan bila ada penumpang yang gagal berangkat pada jadwal tersebut. Jawaban ini sangat normatif, benar, tetapi juga ada ketidak pastian. Dari sini dimulai pelajaran kesabaran itu.
Penulis tidak sendirian, ada enam orang (termasuk) dalam waiting list menuju Padang dengan alasan beragam, dengan respon yang tidak sama, dengan mimik yang berbeda-beda. Kami penumpang cadangan diminta menunggu duduk di belakang check in no 27. Ada dua keluarga (tiga orang) yang sudah berumur, ingin pergi ke Padang dengan alasan ada keluarga yang meninggal. Mereka belum punya tiket, mengandalkan seat cadangan. Mereka duduk diam saja sambil meratap sedih. Seorang lagi, terlambat dari jadwal, dengan nada marah-marah. Orang ini tidak bisa menerima alasan yang dijelaskan petugas, karena sistem sudah memanage skedul secara tepat waktu. Kesabaran petugas nampaknya bisa mendinginkan suasana emosional itu. Seorang lagi, perempuan muda berpenampilan menarik, nampak memendam perasaan kecewa, dengan sedikit nada geram. Belakangan ia ternyata pramugari airline yang sama karena sudah mengenal beberapa petugas. Makin jelas, bahwa sistem tidak dapat berkompromi dengan kondisi darurat sekalipun berhadapan dengan orang dalam.
Seorang lagi adalah taruna akademi militer (angkatan laut). Tampilannya sangat sejuk, penyabar dan tenang. Namanya Fadli, baru tahun ke tiga di akademi yang berlokasi di Bumimoro, Surabaya. Ia terlambat karena terlelap menjelang pagi. Fadli ini yang banyak berbincang dengan penulis, dan menceritakan (sharing) pengalamannya. Ia sedang mudik menuju Muara Labuh, sekitar tujuh jam perjalanan darat dari Padang.  Ia adalah satu-satunya taruna seangkatannya dari kota Solok, kota asal SMAnya.  Cara pandangnya terhadap masalah waiting list ini sangat baik. “Sebaiknya menunggu saja pak”, katanya. Dalam posisi sekarang ini, meski saya menggunakan uniform taruna, nampaknya tidak bisa berbuat banyak..Karena sistemnya sudah berjalan, dan memang pesawat tujuan Padang pada masa mudik senantiasa penuh. Kita berdoa saja mudah-mudahan ada mukjizat, sekaligus ini ujian kesabaran pada hari terakhir puasa. Kata-katanya sangat santun dan jelas, mengalir tanpa ekspresi.  Fadli berkali-kali berdiri dari tempat duduknya, sambil mengenakan topi taruna, menemui rekan atau kakak tingkat taruna lainnya yang mudik ke tujuan yang lain.  Mereka saling menghormat dan berbincang ‘ala taruna’.  Bahkan seorang senior yang sudah lulus dari kesatuan elit berupaya membantu mendekati airline untuk membantu Fadli.
Penulis melalui proses menunggu dengan membaca.  Penulis membaca berita-berita lebaran dari internet melalui HP.  Penulis juga berdoa agar tetap sabar menghadapi kejadian hari itu.  Penulis berusaha ikhlas menerima keadaan.  Penulis juga membaca Quran, yang  sebelumnya memang sudah mendekati halaman terakhir.  Dan siapa sangka, ayat terakhir bacaan Qur’an selesai di saat menunggu itu.  Niat itu sudah tersampaikan sejak sebelum bulan Ramadhan.  “Mungkin ini hikmah lain”, pikir penulis.  Wallahu a’lam.
Kami lalui “menunggu” itu tanpa kepastian. Pesawat jam 8, 10, dan 13 sudah berlalu dan penuh. Setiap menjelang jadwal pesawat, penulis dan Fadli merapat ke komputer untuk melihat perkembangan penumpang check in, sekaligus dijelaskan oleh petugas. Tidak ada cadangan sama sekali. Sebelumnya penulis sudah berupaya mencari alternatif lain, ke airline lainnya di ruang check in yang sama. Ternyata penuh. Menghubungi kawan yang punya otoritas di airline lain, ternyata tidak ada rute ke Sumatera. Petugas sempat menjanjikan untuk keberangkatan jam 18, namun segera pupus karena sudah lebih dahulu terbeli penumpang lain. Kami masih bisa menghibur diri dengan alasan puasa, harus sabar, bisa mengendalikan diri, serta memohon doa.
Kami menikmati masa menunggu itu, sambil berkomunikasi, bercanda dengan petugas atau dengan penumpang cadangan. Petugas sangat terbuka dan menerima kehadiran penumpang cadangan. Penulis dapat memahami bagaimana sistem check in beroperasi, dan bagaimana para petugas bekerja, sehingga penulis seperti ikut menjadi bagian petugas check in. Mereka rata-rata berusia muda sekitar 25 tahun. Mereka sangat trampil, lincah dan responsif menghandle penumpang. Saat itu, penumpang cadangan makin bertambah dengan rute yang lain. Ada seorang tuna netra tujuan Bengkulu yang juga terlambat. Fadli mengajaknya berbincang, dan menanyakan perihal kendala netra. Fadli juga mengajak bicara keluarga muda dan menghibur (menggendong) putranya yang balita. Tentu saja Fadli juga ‘mendekati’ si pramugari dan bertukar nomer HP. Penulis diam-diam menikmati keadaan itu, seolah-olah tidak sedang menunggu.
Perasaan putus asa hampir tiba karena makin kecil peluang adanya seat cadangan. Kami tinggal menunggu jadwal pesawat jam 15.00 dan 18.00. Saat itu sudah jam 13.45, penulis mencoba mengambil alternatif berangkat esok hari, sambil mendengar saran petugas. Penumpang cadangan tinggal tiga orang, yakni penulis, Fadli dan si pramugari. Tiga penumpang orang tua sudah menyerah dan pergi. Seorang yang pemarah sudah pergi duluan. Penumpang Bengkulu sudah dapat seat. Tiba-tiba saja Fadli dipanggil seorang petugas. Syukurlah.. demikian perasaan penulis, sambil berharap ada seat cadangan. Tidak lebih lima menit, petugas yang lain mendatangi penulis. Petugas itu sepertinya baru terlihat di bagian check in. Penampilannya sangat bersih, sopan dan usianya masih muda. Bicaranya jelas, “Bapak silakan ikuti saya untuk menyelesaikan tiket, ada dua seat yang tersedia, saya akan membantu bapak”. Proses di bagian ticketing tidak lama, tidak lebih sepuluh menit. .. penulis dan Fadli sudah dapat boarding pass baru. Penulis dipersilakan secepatnya menuju gate 1 dengan nomor seat 5B. Fadli di seat 7B.
Petugas itu bagaikan malaikat kecil penyelamat bagi penulis.  Datang tiba-tiba, tanpa tahu darimana arah datangnya.  Penulis tidak menduga sedikitpun.  Memang, … kesabaran selalu memberikan kebaikan.. sekaligus pertolongan, melebihi pikiran dan perkiraan manusia. Subhanallah. Akhirnya kami bisa berlebaran dengan keluarga di Padang. Selamat Idul Fitri 1433H. Mohon maaf lahir bathin.

Padang, 20 Agustus 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: