Kampung Madinah yang Syahdu

Bagi penulis, setiap perjalanan selalu memberikan kesan yang unik dan menarik.  Perjalanan, baik itu jauh atau dekat, sendirian atau berombongan, dengan moda transportasi apapun, dimanapun lokasinya, atau apapun tujuannya, sudah selayaknya dinikmati.  Hal ini juga membuat hati lebih nyaman, tenang dan terang.  Dengan menikmatinya, banyak hal, pengalaman, dan manfaat diperoleh.  Penulis sering berpikir lama memahaminya dibalik apa yang nampak.  Penulis biasa melepas pikiran untuk menyerap informasi dan pengalaman.  Penulis selalu penasaran untuk menelaah lebih dalam fenomena sesungguhnya.  Perjalanan kali ini, sambil menikmati liburan 1 Muharam 1434H, yakni ke Kampung Madinah, benar-benar sangat luar biasa, sungguh sangat berkesan. 

Kampung Madinah terletak di desa Temboro, kecamatan Karas, kabupaten Magetan, pada posisi geografi  7°35’14.41″ Lintang Selatan; 111°23’24.09″ Bujur Timur.  Menuju desa Temboro ini, dapat dicapai melalui jalan raya dari Madiun menuju Ngawi.  Sesudah terminal Maospati (dekat komplek Angkatan Udara Iswahyudi), sekitar 200 m ke arah Ngawi, kemudian belok ke kiri (barat)  memasuki jalan desa sejauh kurang lebih 1.5 km.  Kampung Madinah ini berdekatan dengan pondok pesantren (PP Al Fatah), dan kehidupan sehari-hari banyak dipengaruhi oleh pondok yang memiliki santri sekitar delapan ribuan.

Perjalanan ini benar-benar tidak terencana.  Persiapan sama dengan halnya perjalanan umumnya, kecuali membawa baju dan perlengkapan muslim. Awalnya, penulis ingin menginap hanya semalam karena ada keperluan Reuni pada hari berikutnya di Yogyakarta; sudah terskedul sebelumnya dan telah dikoordinasikan dengan pimpinan rombongan, pak Mukhsim.  Namun, semuanya telah menjadi kehendak Allah, sehingga penulis dapat menyelesaikan tiga hari di kampung Madinah tersebut, sejak hari Kamis, 15 hingga Ahad 18 Nopember 2012. Perjalanan dengan mobil dari Malang menuju Kampung Madinah memerlukan waktu lima jam.  Kami sebanyak sembilan orang (penulis, Mukhsim, Aji, Yani, Agung, Abudar, Sis, Suheri, dan Maksum) berangkat jam 7.30 dan tiba desa Temboro jam 12.30.  Kami langsung menuju masjid di PP Al Fatah dimana kami akan menginab semalam.

Kata yang tepat adalah Masya Allah (itu semua atas kehendak Allah), .. luar biasa… ketika masuk masjid.  Bangunan masjid merupakan komplek menyatu yang terdiri masjid, ruang-ruang pembelajaran, taman, dan pondokan santri (lihat galeri foto).  Di bagian belakang juga ada kantin dan toko koperasi.  Komplek pondok secara keseluruhan mencapai lebih dari 50 ha, termasuk perkantoran, toko serba ada, pondok putri, dan pondok lama.  Suasana dalam komplek masjid sangat tertata, teratur, bersih, segar.  Air bersih melimpah, padahal dulunya sangat terbatas saat belum dibangun pondok. Penulis sempat berjalan-jalan menikmati keadaan komplek masjid, mengamati para santri yang sedang beraktivitas.  Ada santri yang sedang mencuci baju, ngobrol, dan tentu sedang membaca.  Mereka umumnya sedang bersantai menikmati liburan setiap hari kamis.  Penulis sempat masuk toko koperasi, yang menjual aneka kebutuhan hidup santri misalnya pakaian, peralatan mandi, parfum, dan buku-buku agama.

Rombongan kami beristirahat di rumah tamu, yang terletak bersebelahan bagian barat masjid.  Rumah tamu berukuran sekitar 15 x 15 m, merupakan ruang terbuka dengan sekat kelambu berwarna orange (bisa buka tutup).  Lantai dipenuhi karpet dan bantal untuk tidur (bisa memuat hingga 25 orang), dilengkapi kamar mandi dan tempat wudlu.  Di sebelah ruang tamu, ada ruang belajar (10x6m) dan dapur.  Di ruang tamu ini kami tidak sendiri, tetapi juga ada rombongan tamu lain dari Bangil dan Surabaya.  Para tamu ini diundang oleh pimpinan/pengasuh pondok untuk silaturahim, mengikuti pengajian dan melihat keadaan PP Al Fatah. Kunjungan tamu terutama adalah untuk mengikuti pengajian rutin setiap kamis malam yang disampaikan langsung oleh pimpinan pondok.  Jumlah tamu secara keseluruhan sekitar 20 orang.  Kami makan siang, malam dan sarapan pagi (esoknya) di ruang ini bersama-sama dengan cara makan kembul (satu nampan untuk empat orang) sebagaimana cara makan para sahabat Rasul.

Setelah istirahat dan bersih-bersih, sekitar jam 15.00, kami kembali ke masjid untuk mengikuti pengajian (bayan).  Disini, kumandang adzan Ashar jam 16.00 dan iqomat jam 16.30.  Selesai sholat Ashar; pengajian kembali digelar oleh ustadz lain (belakangan kami kenal sebagai ustadz Sugeng).  Kami lalui amalan berikutnya dengan sholat Maghrib, pengajian, Sholat Isha dan pengajian.

Kiranya pengajian ba’da Isha (Kamis malam Jum’at) menjadi puncak kegiatan malam itu.  Pengajian rutin mingguan ini disampaikan oleh pimpinan pondok KH Uzairan Thayfur Abdillah.  Jumlah peserta mencapai enam ribu orang, terdiri dari santri pondok, penduduk desa Temboro dan sekitarnya, penduduk Magetan, Madiun, Ngawi, Solo, hingga Wonogiri.  Materi pengajian menegaskan kembali keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, serta memelihara kalimat toyibah LA ILAHA ILLALLAH MUHAMMADUR RASULULLAH untuk senantiasa hadir dalam kalbu umat.  Jamaah diingatkan untuk meneladani perjuangan dan sifat-sifat para sahabat[1] dalam menegakkan agama.  Keistimewaan berjuang dideskripsikan dengan pengalaman lapangan yang senantiasa menghasilkan peningkatan keimanan dan ketaqwaan.

Selesai pengajian, penulis mendapat kesempatan bersilaturahim dengan pak kiyai Uzairan.  Penulis hadir dalam ruangan di belakang mimbar masjid.  Disana para tamu sudah duduk melingkar menghadap kiyai. Beliau rupanya ingat dengan penulis, karena sudah bertemu dalam pengajian sebelumnya di PP Al Munawwariyyah, Bululawang, Malang (3 Nopember 2012).  “Panjenengan kok namung sedinten kemawon dateng Temboro, .. taksih kirang.., monggo ba’da Isha kemawon tindak dateng Yogya”, kata beliau kepada penulis.  Rupanya beliau sudah menerima informasi perihal jadwal penulis. Penulis terdiam, sedikit tersenyum untuk menekan rasa malu.  Bagaimana tidak, karena suasana ini juga disaksikan oleh tamu-tamu lain (sekitar sepuluh orang) setingkat ulama dan kiyai. Ringkas cerita, silaturahim saat itu begitu berkesan bagi penulis. Dalam waktu kurang dua minggu, penulis bertemu dan silaturahim dengan sekelompok kiyai dan ulama dalam dua momentum yang berbeda.  Sungguh pengalaman yang mengharukan.

Kegiatan esok hari (Jumat) dimulai dengan sholat Shubuh berjamaah.  Adzan Subuh dilantunkan dua kali, yakni jam 03.00 dan 03.45.  Iqomat diserukan jam 4.15.  Jamaah shubuh sangat ramai, mengisi amalan dengan sholat sunah, tahajud, dzikir dan baca Quran di sela waktu-waktu itu.  Selesai sholat kemudian dilanjut lagi dengan pengajian.  Pagi itu kami sudah memiliki program untuk pindah posisi ke masjid lain di desa Temboro, yakni masjid Al Huda.  Namun sebelumnya, kami diberi arahan-arahan oleh ustadz Salim untuk menguatkan niat, arah, dan rambu-rambu program. Tidak lupa kami juga berdoa bersama memohon kekuatan, perlindungan dan  pertolongan kepada Allah. Program ini lebih tepatnya adalah belajar mengimplementasikan kehidupan para sahabat.  Selesai sarapan pagi, kami segera beranjak menuju ke masjid Al Huda, yang berjarak sekitar satu kilometer dari masjid pondok.

Kegiatan di masjid Al Huda ini adalah inti tujuan perjalanan kami.  Atas kehendak Allah, rencana reuni yogya batal sehingga penulis dapat menyelesaikan program hingga hari Minggu. Masjid yang terletak di tengah pemukiman warga desa ini memuat sekitar 50 jamaah.  Masjid sedang direhab, dan diperluas ke arah pelataran belakang, dengan bangunan bertingkat. Istimewanya, masjid ini menyediakan ruang atau kamar (5×5 m) untuk menerima kehadiran tamu, bisa memuat sekitar 15 orang dengan tidur berlantai karpet.  Di ruang inilah kami menginap dan beraktivitas. Dari sinilah kesan dan pengalaman Kampung Madinah lahir.  Apa saja kesan itu?

  1. Muhajirin dan Ansor.  Kedatangan kami dianggap sebagai tamu oleh warga setempat, dan semua kegiatan sudah dikoordinasikan dengan baik.  Kami berombongan sebanyak 12 orang (tambahan 3 orang dari Surabaya) dianggap sebagai kaum Muhajirin.  Warga desa sebagai kaum Ansor dengan bersemangat menerima kehadiran kami sebagai saudara.  Kami sangat terharu dengan sambutan tersebut.  Sungguh luar biasa.  Kebutuhan menu makan (tiga kali sehari) dijamin, ditambah dengan minum, buah dan snak khas lokal.  Penulis yang biasa makan nasi hanya dua kali sehari merasa kewalahan keadaan tersebut, maaf .. takut menjadi gendut.  Penulis kagum dengan pak Mukhsim, yang bersemangat menyambut setiap menu.   Kami sangat antusias dengan hidangan tempe goreng tepung pada sore hari.  Tempe lokal Magetan bertekstur kenyal sehingga ada sensasi saat mengunyahnya,.. mak nyus.  Rupanya, warga sudah terbiasa menerima tamu dan memiliki jadwal menyediakan menu (berkhidmad). Kesan kegembiraan tersebut bukan hanya dari makanan.  Warga Temboro dapat berkomunikasi dengan ramah, ikhlas, sabar dan ngemong.  Kami diberi nasehat, pencerahan atau informasi perihal kehidupan para sahabat, cara bersuci (istinjak), sejarah Temboro, dan peran pondok.
  2. Masjid yang makmur.  Jumlah jamaah yang sholat wajib, khususnya Maghrib, Isha dan Shubuh, memenuhi ruangan masjid Al Huda.  Di tiga waktu itu, warga juga meramaikan dengan amalan sholat sunah, baca Quran dan dzikir.  Saat adzan pertama Shubuh jam 03.00, warga sudah berdatangan untuk sholat Tahajud dan sunah lainnya.  Masjid juga punya program ceramah ba’da sholat.  Ba’da Shubuh juga ada musyawarah untuk mendiskusikan kemakmuran masjid dan menguatkan fungsi dakwah. Setiap hari Jum’at ba’da Ashar ada program dakwah untuk mengundang warga mendatangi masjid.  Program dakwah ini adalah keunggulan masjid ini, dan menjadi tempat praktek para tamu dalam upaya memakmurkan masjid.  Proses membangun kemakmuran masjid ini memang butuh proses yang panjang, perlu takmir yang handal dan ustadz yang sabar dan rendah hati.  Jamaah masjid ini memiliki 20 Tahfidz (menghafal) Quran, puluhan orang yang sudah bepergian dakwah ke seluruh dunia.  Jadi, para jamaah umumnya sudah memiliki pengetahuan ilmu keagamaan yang mumpuni.  Namun mereka ikhlas duduk berlama-lama mendengarkan ceramah agama atau taklim dari ustadz kawannya sendiri.  Duduk dan menyimak berlama-lama adalah bagian dari ketawadhukan dan amal yang mulia sebagaimana para sahabat mendengar nasehat Rasulullah.  Pendeknya masjid telah menjadi pusat kegiatan bagi banyak kepentingan umat.
  3. Kehidupan sosial. Di tahun tujuh puluhan sudah terdengar kata kota santri.  Itu merujuk kepada kota Gresik, atau lebih spesifik kepada kecamatan Bungah.  Profil kota santri Gresik antara lain (i) ada pendidikan umum dan diniyah, (ii) ada pondok pesantren, (iii) penduduknya berbaju muslim (bersarung dan berpeci hitam), (iv) banyak pendatang dan (v) kehidupan ekonomi perdagangan menonjol.  Profil Kampung Madinah hampir sama dengan Gresik namun lebih bernuansa Madinah (atau Arab).  Keadaan ini berkembang sejak tahun 1998, seiring dengan berkembangnya program dakwah oleh pondok.  Di Kampung Madinah Temboro, warga banyak menggunakan gamis dan berjilbab atau cadar (wanita), jubah (termasuk jubah pakistan) dan bertopi putih (pria).  Kehidupan sosial di Temboro juga sangat tenang, layaknya kota Madinah yang penulis rasakan saat berhaji.  Penulis mengamati kehidupan pasar desa cukup ramai tetapi lembut.  Tukang kayu bekerja tenang, tidak ngoyo. Tukang-tukang bangunan bekerja sama dengan lembut tanpa banyak bicara.  Anak-anak sekolah bertingkah lembut tidak berisik.  Suasana desa terasa sejuk, tenang, kalem, sederhana dan syahdu. Suasana ini sungguh.. sangat merindukan. Suasana ini patut dicontoh bagi lingkungan perumahan, kantor, atau organisasi lainnya.  Kehidupan sosial di desa ini memang sungguh ramah dan hangat. Setiap selesai shalat, sedikitnya ada dua warga yang bertahan menemani, berbincang, dan membantu kami. Mereka berinisiatif memberi pencerahan ilmu keagamaan, ngobrol ringan, bahkan untuk konsultasi pribadi.  Kami biasa ditawari pijatan relaksasi, untuk mengurangi keletihan akibat tidur di lantai.  Bahkan mereka memberi tip pijatan khusus untuk kesehatan reproduksi.  Dari sini benih persahabatan muncul.  Rombongan kami, yakni Pak Mukhsim, pak Bajuri dan pak Suhaemi, yang punya pengalaman program dakwah, sangat gayeng bercengkerama dengan warga (lihat galeri foto).
  4. Banyak Pendatang.  Kelebihan lainnya di Temboro adalah jumlah pendatang yang mencapai 40 persen dari jumlah penduduk.  Sangat masuk akal, memang kehidupan disini mirip kampung Madinah.  Beberapa jamaah (khususnya para ustadz di pondok) kebanyakan pendatang. Ada yang dari Palembang, Padang atau Jawa.  Bahkan ada jamaah yang pensiun dini (usia muda) dan berpindah di Temboro untuk menggapai kehidupan religius. Disini, para pendatang dapat melaksanakan sholat berjamaah lima waktu, atau beraktifitas amaliyah di masjid.  Mereka ingin mengimplementasikan kehidupan para sahabat nabi, seperti di Madinah.  Memang ini menjadi impian setiap muslim.  “Siapa yang meninggal dunia di Madinah hendaknya dia menerimanya (dengan bahagia) karena tidak ada orang yang meninggal dunia di Madinah kecuali kelak aku akan memberi syafaat kepadanya.” (HR Ibnu Majah dan Al Turmudzi)

Lembah Panderman, 21 Nopember 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: