Nasehat pak Haji

Musim haji tahun 1433H berlangsung dengan baik.  Jamaah haji Indonesia sudah kembali ke tanah air.  Senang mendengar kawan dan kolega telah pulang, berkumpul dengan keluarga, dan kembali ke habitat profesi masing-masing.  Mereka para haji dan hajjah, telah mengalami pengalaman ibadah haji, amalan lainnya, dan ziarah ke berbagai tempat dimana nabi Ibrahim, Rasulullah dan para sahabat yang berjuang menegakkan agama dan mewariskan keislaman dan keimanan kepada seluruh muslimin seluruh dunia.  Semoga mereka menjadi mabrur, dan memelihara kemabrurannya bagi kemanfaatan diri, keluarga dan lingkungannya.  Amiiin.

Penulis juga bersilaturahim dengan para haji tersebut untuk mendapatkan cerita dan pengalamannya, membangkitkan memori haji, sekaligus memelihara kerinduan ke tanah suci.  Memang benar, tanah suci selalu merindukan.  Masjid Haram atau Masjid Nabi selalu mengesankan, sehingga setiap haji ingin kembali mengunjunginya, sebagaimana QS Ibrahim 37: “…ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”.

Dari silaturahim itu, tentu saja ada pengalaman dan kesan yang bermanfaat, untuk meningkatkan mutu ketaqwaan dan akhlak sebagaimana tanda-tanda haji mabrur, yakni berkata-kata santun, memiliki hati yang lebih lembut dan bersih, taat beribadah, dan berilmu dan amal  yang benar, secara istiqamah sehingga memancarkan kehidupan sosial yang baik (kesalehan sosial).  Berikut ini cuplikan kesan dan pengalaman mereka yang baru pulang haji.

  1. Syukur.  Mereka menunjukkan rasa syukur luar biasa.  Bagaimana tidak, yang diimpikan, ditunggu, akhirnya tergapai.  Apa yang mereka persiapkan, curahkan dan korbankan, terbayar lunas. Apa yang dikuatirkan, ditakutkan dan dicemaskan, terurai menjadi ketakjuban, haru dan bahagia.  Itu semua karena kehendak Allah.  Allah mengundang mereka menjadi tamuNya dan beribadah di rumahNya.  Mereka yakin, Allah yang berkuasa atas segalanya sehingga ibadah haji menjadi lancar dan selamat, hingga kembali ke rumah.
  2. Wukuf dan Jumrah.  Mereka merasakan hari-hari yang luar biasa, khususnya di Arofah dan Mina, dengan khusyuk mengumandangkan Talbiyah, dzikir dan istigfar, memohon doa dan memuliakan Allah.  Mereka berupaya menjaga larangan ihram, memelihara akhlak haji, antara lain tidak boleh emosi, berbantahan, menghardik, atau mengedepankan ego.  “Barangsiapa yang telah menetapkan niatnya akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fusuq dan jidal…” (QS. Al-Baqarah: 197)[1].  Pengalaman yang menyadarkan dan menempatkan derajad ketaqwaan paripurna yang menjadi dambaan setiap muslim.  Bukan pengalaman seperti halnya perjalanan atau rekreasi.  Hal ini tidak terjadi pada umroh, atau ibadah lainnya. Saat di Arofah dan Mina, berkumpul jutaan manusia dari seluruh dunia.  Saat itu perlu dibangun komunikasi, silaturahim, atau manfaat sosial lainnya.  Jangan heran, disana banyak kita jumpai pemandangan saling tukar hadiah, saling tersenyum, memberi perhatian, membantu yang kekurangan.  Sungguh pengalaman yang luar biasa.  Dahulu, masa tinggal jamaah haji mencapai hingga enam bulan, memaksa terjalinnya komunikasi dengan jamaah dari negara-negara Arab, Mesir, India, atau Pakistan.
  3. Urusan dunia bukan yang utama.  Harus diakui, konsentrasi ibadah haji umumnya telah membangkitkan kesadaran atau perilaku kedekatan dengan Allah.  Manusia menjadi khusyuk beribadah, berdzikir atau saat menjalankan amalan lainnya.  Segenap waktu dan perhatian lebih tertuju untuk beribadah, dan sekaligus melupakan hal-hal duniawi.  Itulah sebabnya, saat di tanah suci jamaah haji tidak lagi perhatian kepada keluarga, urusan pekerjaan, jabatan, hobi atau kesenangan duniawi.  Hal ini, perlu menjadi pelajaran bagi kita semua.  Urusan dunia hendaknya tidak sampai mengganggu kedekatan dengan Allah.  Tidak disadari, manusia sering mementingkan dunia.  Manusia menghabiskan waktu untuk urusan materi, mengejar jabatan, memikirkan diri sendiri, seolah-olah waktu miliknya sendiri.  Kawan yang baru pulang haji mengatakan: “Saya rasanya ingin terus beribadah, menjauhkan hal-hal keduniaan.  Saya meminta anak untuk segera mendaftar haji, biar tahu makna kehidupan sesungguhnya, ternyata bukanlah sekedar materi”. Sungguh pesan yang bermakna, para pembaca juga setuju.
  4. Haji di usia muda.  Saat ini antrian haji (di Jawa timur) sudah mencapai 11 tahun.  Angka ini belum seberapa dibanding antrian haji Malaysia, yakni 30 tahun.  Karenanya, sudah banyak keluarga yang mendaftarkan haji untuk anak-anaknya. Mengapa demikian, karena (khususnya saat wukuf) para orang tua telah mendoakan anak dan keturunannya untuk pergi ke tanah suci.  Haji di usia muda dilakukan dalam rangka meningkatkan ketaqwaan, mendekatkan diri kepada Allah, bukan untuk niatan lain.  Hal ini diikuti kawan yang baru pulang haji. Katanya:”Saya bersyukur bisa ibadah haji dalam usia limapuluhan, meski kondisinya sangat berat.  Janganlah seperti kami, kalau bisa berangkatlah haji pada usia muda”.

Kesan dan pengalaman tersebut bermakna bagi siapa saja, kita semua.  Secara ringkas, kawan haji memberi nasehat kepada kita semua untuk terus bersyukur, beristighfar, memelihara akhlak dan hubungan sosial, dan tidak mengutamakan materi atau perihal keduniaan.  Pesan terakhir, kita semua hendaknya memahami makna waktu.  “Allah sesungguhnya adalah Pemilik dan Pengatur waktu” (HR Bukhori dan Muslim). Jangan menunggu masa tua, bersegeralah mendaftar haji.

 


[1]Rafats adalah semua bentuk kekejian dan perkara yang tidak berguna. Termasuk di dalamnya bersenggama, bercumbu atau membicarakannya, meskipun dengan pasangan sendiri selama ihram.Fusuq adalah keluar dari ketaatan kepada Allah, apapun bentuknya. Dengan kata lain, segala bentuk maksiat adalah fusuq yang dimaksudkan dalam hadits di atas.Jidal adalah berbantah-bantahan secara berlebihan.

Lembah Panderman, 26 Nopember 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: