Kepemimpinan .. kecewa

Beberapa hari ini, berita nasional dikejutkan oleh ditangkapnya tokoh (pemimpin) partai oleh KPK.  Berita ini mengejutkan banyak pihak.  Partai tersebut tergolong mewakili partai bersih, memiliki kader-kader yang militan dan agamis.  Si presiden partai itu pun akhirnya mengundurkan diri dari jabatannya seiring penahanan dirinya oleh KPK.  Berbagai alasan/keberatan/kritikan muncul disampaikan pengurus dan pimpinan partai tersebut (1, 2, 3, 4).  Orang-orang partai itu merasa pemimpinnya didzalimi, diperlakukan tidak adil. Mereka pun tidak berdaya, dan bersedia menerima proses hukum yang dijalankan oleh KPK.  Kejadian ini pun dengan berat hati diterima. 

Kisah-kisah sejenis tersebut dapat disaksikan dalam sejarah, atau kehidupan nyata.  Hubungan pertemanan, kepemimpinan, patron-klien, kesejawatan, atau bahkan persaudaraan; dapat (sementara atau permanen) berubah statusnya karena salah satu menciderai hubungan baik yang telah dijalin.  Ada perasaan terkejut, kecewa, terluka, marah, ditinggal hingga membenci.

Kisah sahabat Rasulullah yang heroik dan berakhir dengan kekecewaan adalah antara Umar bin Khattab (OK) dan Khalid bin Walid (KW).  Siapapun tahu peran KW dalam peperangan menegakkan perjuangan Islam di jaman Rasulullah dan Abu Bakar.   KW memimpin perang untuk menjatuhkan kekuasaan Persia di Irak dan imperium Romawi di Damaskus.  Nama KW sebagai panglima militer sangat ditakuti lawan, tak terkalahkan, tegas dan berani (5).  Ia pun disanjung oleh para pejuang muslimin, karena memiliki keberanian, strategi perang, sekaligus memotivasi tentara muslim dalam berbagai pertempuran.  Ketika menjabat khalifah, UK melihat perilaku kepemimpinan KW tidak sesuai kehendaknya (lihat disini). Sosok KW telah dikultuskan oleh banyak orang. UK memberhentikan KW di tengah pertempuran dan pengepungan kota Damaskus yang dikuasai Romawi.  UK mengangkat Abu Ubaidah sebagai komandan baru pasukan muslimin. Umar menjelaskan alasannya memecat Khalid mengatakan: “Saya tidak memecat Khalid bin Walid karena benci atau pengkhianatan tetapi karena semua orang sudah terpesona, saya khawatir orang hanya percaya kepadanya dan hanya akan berkorban untuknya. Maka saya ingin mereka tahu bahwa Allah Maha Pencipta dan supaya mereka tidak menjadi sasaran fitnah.”

Kisah heboh sejagat lainnya adalah perselingkuhan kepala CIA Jenderal David Petraeus dengan Paula Broadwell.  Skandal tersebut telah menghasilkan berbagai spekulasi dan opini tentang bahaya keamanan nasional Amerika.  Broadwell dicurigai bagian dari spionase global.  Akibat skandal tersebut, Petraeus mengundurkan diri dari jabatannya.  Padahal ia dianggap sebagai jendral yang paling cemerlang dalam militer AS. Skandal ini mengecewakan gedung Putih khususnya presiden Obama.  Paula Broadwell punya akses masuk CIA ketika memulai disertasi doktoralnya tentang keterampilan kepemimpinan inovatif Jenderal David Petraeus.  Ia pun kepincut dengan pribadi Petraeus dengan mempublikasikan tulisan-tulisannya di media masa.  Broadwell benar-benar kagum dan mengkultuskan Petraeus sebagai pribadi yang ulet, suka melayani, punya kemauan untuk menang, dan ingin membuat perbedaan (6).

Banyak pula kisah-kisah sejenis yang dekat dengan kehidupan pembaca.  Semuanya berakhir dengan kekecewaan.  Sering kita dengar cerita, misalnya si Fulan.  Dulunya ia adalah seorang karyawan yang bersahaja, dengan keluarga harmonis.  Namun ketika mendapat amanah jabatan di kantor dinas kota.  Ia menunjukkan perubahan perilaku berkehidupan mewah dan berpoligami.  Kini ia meringkuk di penjara karena tuduhan kasus penggelapan uang kantor.  Cerita lainnya, si Ujang, dosen muda yang tergoda kemewahan teman seangkatan kuliah yang bekerja di pemerintahan.  Dosen muda itupun terlibat dalam proyek-proyek pemerintah.  Ia tersandung proyek fiktif, dan berurusan dengan pengadilan.   Ia juga dikejar-kejar bank karena kredit bermasalah.  Ia pun menjadi dosen bermasalah di kampusnya..

Kekecewaan atas hubungan atau kepemimpinan harus diselesaikan melalui keputusan tertentu.  Keputusan itu dapat melalui keorganisasian, tatakelola atau mekanisme lainnya.  Sebagai misal, dalam kasus di atas, pemimpin partai mundur dan diangkat penggantinya.  Keputusan tersebut bertujuan untuk menegakkan kebenaran, dan melanjutkan kehidupan atau perjuangan keorganisasian.

Kisah-kisah tersebut di atas dapat memberikan wacana bagi konsep atau praktek kepemimpinan.  Hal ini kiranya sangat relevan karena masih banyak ditemukan organisasi yang dijalankan oleh peran kepemimpinan lebih dari aspek manajerial.  Kepemimpinan memang penting terlebih untuk pengembangan substansi.  Namun seorang leader pun harus dibatasi dengan nilai-nilai moral dan etika; serta kondisi/arah manajemen organisasi.  Batasan itu memagari karakter individu, ego, nafsu dan keinginan si pemimpin agar tidak melewati kepentingan organisasi.  Karena ego si leader tersebut maka biasanya menghasilkan kekecewaan secara langsung atau tidak langsung.  Dengan kata lain, seorang leader pun perlu didampingi oleh manajer yang mengawal manajemen organisasi.

Berkaca dari pengalaman atau kisah-kisah tersebut di atas, seorang pemimpin atau siapa saja kiranya perlu merenungkan beberapa hal berikut.

  1. Membangun hubungan berdasar kebenaran illahi.  Teladan Rasulullah adalah terbaik yang mendasari kehidupan manusia.  Rasul menunjukkan pedoman hidup (Quran dan hadist), sikap hidup (akhlak) dan jalan hidup (syariat) agar supaya manusia menempati derajad yang tinggi, dan senantiasa memberi manfaat bagi sesamanya.  Hubungan antar manusia senantiasa terpelihara sebagai bagian untuk mendapatkan ridho Allah SWT.  Tidak ada lagi hubungan saling mematikan, merugikan atau mengeksploitasi satu sama lain.  Sebaliknya tercipta suasana mementingkan/mendahulukan umat (iitsar).  Kita dapat meneladani kehidupan para sahabat yang penuh kasih dan sayang, serta bersemangat tinggi ketika berjuang dan berdakwah.  Dalam hubungan kemasyarakatan, lingkungan kerja, atau komunikasi sosial, semua orang perlu menciptakan rasa nyaman, saling membutuhkan, dan berpikir positif untuk saling memahami.  Hubungan ini biasanya ditandai oleh adanya inisiatif untuk memberi, mengkontribusi, dan melayani.
  2. Menghindari hubungan ekslusif atau kultus.  Siapa saja atau pemimpin hendaknya tidak membatasi hubungan pertemanan kepada hanya beberapa orang (eksklusif).  Bergaulah seluas mungkin, dengan bawahan, atasan, laki-laki atau perempuan, sejawat atau lintas sektoral.  Jangan pula mengkultuskan seseorang.  Di organisasi budaya/tradisionil, kultus individu terjadi seiring tumbuhnya budaya feodal.  Di organisasi pemerintah, kampus atau corporate seyogyanya tidak ada kultus individu.  Khususnya kampus, adalah tempat berkembangnya kebebasan budaya akademik dan pemikiran keilmuan.  Mengkultuskan rektor, guru besar atau dosen adalah wujud penyimpangan, atau suatu pengkerdilan pemikiran.  Kultus berlawanan dengan kodrat berpikir. Menghindari hubungan eksklusif atau kultus bertujuan untuk menggali nilai-nilai kebenaran dan idealisme, serta untuk menempatkan harkat kemanusiaan semata-mata sebagai makhluk Allah.
  3. Menghindari hubungan transaksional.  Lahirnya gagasan pemikiran yang jernih atau idealisme berasal dari kompetensi atau modal keilmuan/ketrampilan.  Hubungan atas dasar keilmuan ini menghasilkan produktivitas tinggi dan kemajuan organisasi.  Pemimpin atau siapa saja dalam organisasi saling melengkapi dan membantu demi terbangunnya kemajuan.  Ada rasa keikhlasan, kepuasan dan kepercayaan menyumbangkan kompetensi untuk organisasi.  Mereka ini bukan sekumpulan orang-orang yang menunggu dibayar untuk bekerja.  Orang-orang yang transaksional ini senantiasa mengecewakan dan membebani organisasi.  Kasus-kasus korupsi adalah diakibatkan oleh orang-orang transaksional.  Pemimpin partai di atas diduga terlibat transaksi impor daging.  Pembaca pasti sependapat, tidak nyaman bekerja dengan orang-orang yang transaksional.  Betapa bahayanya bila anda memiliki atasan, bos, atau pemimpin transaksional.
  4. Terus belajar menguasai ilmu pengetahuan.  Dunia modern saat ini sedang membutuhkan konsep dan praktek kepemimpinan kontemporer.  Kepemimpinan ini dicirikan oleh penguasaan ilmu pengetahuan, komunikasi IT, hubungan sosial dan kolegial, atau situasional.  Bahkan, saat ini yang dibutuhkan adalah kepemimpinan super, kepemimpinan serba bisa (serba tahu), pemimpin entrepreneur, atau komunikatif; yang mampu mentransformasikan info dan sumberdaya menjadi benefit untuk organisasi (lihat disini, atau kenali Marissa Meyer).  Organisasi modern saat ini butuh pemimpin yang tahu, mengerti teknis, bisa berkomunikasi, dan mengeksekusi.  Penulis bersyukur generasi muda saat ini semakin melek pengetahuan, IT, dan mengerti etika/moral keagamaan.  Mereka dengan mudah mengindentifikasi seorang pemimpin itu gaptek, berakhlak, dikultuskan atau transaksional.

Perjalanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara hingga saat ini masih terus berkembang.  Kehidupan dalam pembangunan ekonomi telah membawa kemajuan signifikan.  Manajemen dan kepemimpinan di level organisasi bisnis (corporate) sudah maju dan modern mengikuti level global.  Para CEO diisi orang-orang yang ahli.  Sayangnya ini belum sepenuhnya berimbas ke organisasi pemerintahan, sosial atau politik.  Warna transaksional dan pengkultusan masih banyak ditemukan khususnya dalam (regenerasi dan rekrutmen) kepemimpinan parpol, pemerintahan lokal, atau organisasi massa.   Rekrutmen kepemimpinan tidak didasarkan atas keahlian, profesi atau kompetensi.  Lihat saja, pedagang masuk parpol, guru jadi Camat, preman jadi anggota dewan, para ustadz berlomba jadi politisi.  Bagaimanapun juga mereka perlu (profesional) bekerja dengan menguasai tata kelola (administrasi) pemerintahan (7), tidak cukup bermodal niat baik atau dengan membayar orang.  Karena itu, ke depan ini masih akan banyak kekecewaan kepemimpinan.  Tetap ditemukan penyalahgunaan wewenang, korupsi dan kasus-kasus transaksional lain.

Menutup tulisan ini, penulis mengajak pembaca merenung.  Anda harus siap-siap kecewa dengan orang-orang yang transaksional atau mengkultuskan seseorang.  Bagi yang menjadi pemimpin, atau calon pemimpin; anda perlu belajar dan bersiap dengan bekal pengetahuan, IT dan manajemen; untuk menekan ego, efisiensi manajemen dan menghargai lingkungan sosial.

Lembah Panderman, 2 Februari 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: