Prof Dwidjoseputro: Jangan Menunda

neverSuatu hari penulis bertemu dengan seorang pria, yang sedang mengantarkan anak asuhnya untuk mendaftar di Universitas Widyagama.  Pria ini berusia sekitar 50 tahunan, dengan rambut sebagian telah memutih.  Kami belum saling mengenal, sehingga pertemuan ini lebih diisi dengan mengenal diri masing-masing perihal pekerjaan, domisili dan tentang kondisi anak asuhnya itu.  Pria ini, sebut saja pak Fendi, bercerita punya beberapa anak asuh, dan ia ingin menyekolahkan hingga perguruan tinggi.  Wajar kiranya muncul rasa iri terhadap sikap dan perhatiannya untuk peduli dan membantu orang lain.  

Penulis punya kesan yang baik terhadap pak Fendi ini.  Penampilannya biasa saja, bahkan cenderung bersahaja, dengan pakaian yang simpel dan tidak formal.  Gaya dan isi ucapannya mengalir datar, sangat alami, tidak dibuat-buat.  Bahkan isi pembicaraan cenderung membatasi … ada kesan tidak ingin menggurui atau menonjolkan diri.

Penulis menggali terus informasi mengenai dirinya.  Ia bekerja sebagai pengusaha swasta kecil, dalam bidang pupuk organik dan jasa aneka perdagangan.  Penulis masih penasaran, karena orang ini cenderung membatasi pembicaraan, tepatnya menampilkan kerendahan hati.

Rasa penasaran penulis seketika berhenti saat ia memberi kartu nama.  Ukuran kartu pun aneh, kecil … tidak seperti ukuran umum.  Di halaman muka kartu hanya ada nama dan alamat tanpa simbol perusahaan.  Di balik kartu,…  ini yang membuat terkejut, tertulis kalimat NEVER PUT OFF UNTIL TOMORROW WHAT YOU CAN DO TODAYPenulis pandangi kalimat itu lama dan tertegun.  Kalimat itu pernah tertanam lama di pikiran penulis, bahkan pernah sengaja ditempel  di tembok atau menjadi hiasan dinding saat mahasiswa (tahun delapan puluhan) hingga awal berumah tangga.  Kalimat itu tidak asing bagi penulis, yang artinya JANGAN TUNDA SAMPAI BESOK APA YANG DAPAT KAMU KERJAKAN SEKARANG.

Pak Fendi nampak ikut tertegun saat penulis memandangi kartu nama itu.  ”Kenapa pak? Slogan itu saya dapatkan dari dosen saya, namanya pak Dwidjoseputro”, katanya.  Pak Fendi bercerita tentang nama itu, ia nampak begitu mengenal nama itu, dan nampak sangat mengaguminya.  Penulis diam dan ikut mengiyakan karena memang sudah mengenal nama itu.   Akhirnya penulis menyambut: ”Saya juga sempat mengikuti kuliah beliau, dan beliau juga menitipkan slogan itu ke kami”.  Penulis berbicara jujur kepada pak Fendi, bahwa kalimat itu pula yang menginspirasi kehidupan penulis.  Kami berdua tersenyum, sama-sama mengakui pengaruh dari pak Dwidjoseputro.  Penulis yakin banyak mahasiswa yang menerima pengaruh positif dari pembelajaran slogan tersebut.   

Pembicaraan pun akhirnya bergeser ke almamater masing-masing.  Ternyata Pak Fendi adalah kakak kelas lima tahun di atas penulis, dari fakultas yang berbeda.  Penulis di Fakultas Pertanian, sementara pak Fendi di Peternakan, di Universitas Brawijaya.  Ini berarti bahwa pak Dwidjoseputro mengajar mahasiswa dari berbagai Fakultas dan Universitas.  Mengapa demikian? Karena pak Dwidjoseputro itu  dosen tetap IKIP Malang (sekarang UM).  Di jamannya, beliau yang dianggap pakar di bidangnya, sehingga diminta mengajar di fakultas manapun.  Beliau meninggal dunia pada tahun 1990an, penulis kurang tahu pasti tepatnya.

Penerbit Djambatan

Para pembaca, pak Dwidjoseputro adalah seorang guru besar. Penulis mencari foto beliau di google namun masih belum menemukan.Beliau mengajar mikrobiologi, fisiologi tanaman dan biokimia.  Penulis menerima kuliah Mikrobiologi dari beliau tahun 1984.  Beliau benar-benar seorang guru, yang pantas untuk digugu dan ditiru. Guru yang sangat kebapakan, sejuk dan lembut ucapannya, bersih wajah dan keningnya, dalam dan bernas ilmunya, dan sederhana penampilannya.  Saat itu usia beliau sekitar enampuluhan, badannya tidak gemuk bahkan cenderung kurus sedang, serta ringan langkahnya.  Beliau senang menggunakan kemeja lengan pendek, berwarna cerah atau putih.  Pak Dwidjoseputro memberi slogan itu kepada mahasiswa, agar mahasiswanya dapat berhasil dalam kehidupan kelak.  Beliau yakin slogan sangat tepat ditanamkan kepada generasi muda, pada mahasiswa semester awal. Kami selalu menunggu-nunggu jadwal kuliah beliau.  Terkadang beliau terlambat, dan tanpa ragu menyampaikan kata maaf dengan lembut.  Itulah pak Dwidjoseputro, guru yang sikap dan perilaku yang penuh dengan laku.   

Melalui seorang pak Fendi, kita kenang seorang guru Dwidjoseputro.  Semoga Allah menerima amal dan kebaikan beliau.

Slogan guru Dwidjoseputro, JANGAN TUNDA SAMPAI BESOK APA YANG DAPAT KAMU KERJAKAN SEKARANG, kiranya pantas dikobarkan kepada khususnya para siswa, mahasiswa, bahkan siapa saja untuk menghasilkan produktivitas dan kemajuan bagi bangsa ini. 

Kampus II Universitas Widyagama Malang, 7 Juni 2013

4 Responses to Prof Dwidjoseputro: Jangan Menunda

  1. tari says:

    benar2 menginspirasi……..pak Dwi !!!!! tulisannya juga enak di baca…………..thanks

  2. latifah says:

    sangat menginspirasi,blog Bapak, tanpa sengaja saya buka ketika mencari materi ekowisata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: