Eyang, Bunda Melati, Putri Suci,…Entah Siapa lagi

web.inilah.com

Beberapa waktu lalu terjadi heboh dengan berita Eyang Jujur.    Eyang, .  .  katanya bisa mengorbitkan atau membuat seorang artis menjadi terkenal.  Si artis akan dapat bertahan lama sebagai artis top di negeri ini.  Kini muncul fenomena baru,  munculnya bunda .  .   sebut saja bunda Melati.  Si Bunda ini … katanya bisa membantu seseorang memperoleh akses,  informasi,  proyek dan kekuasaan tertentu.    Seseorang akan dihubungkan dengan pengambilan keputusan untuk memastikan keinginan menjadi terwujud.    Belum lama berselang,  ketika mencuat operasi tangkap tangan (OTT) AM oleh KPK,  sebenarnya ada peran orang tertentu,  sebut saja namanya Suci.    Suci,  yang katanya adalah pengacara dan orang dekat AM,  akan membantu memenangkan kasus yang masuk ke MK.  Siapa sesungguhnya mereka itu,  mengapa mereka ada dan berada?

Sesungguhnya Eyang Jujur,  Bunda Melati,  Putri Suci, … dan nama-nama lainnya,  hanyalah manusia biasa.  Mereka seperti kita semuanya,  manusia yang lemah,  butuh makan,  tidak berpengetahuan,  tidak berilmu.    Kelemahan mereka sama dengan kelemahan kita.  Bahkan sebenarnya kepandaian kita sangat mungkin melebihi mereka.

Namun ada yang membedakan,  mereka lebih percaya diri,  mereka sedang mengerti kebutuhan kita,  mereka mampu meyakinkan kita.  Ini sekaligus menjadi kelemahan kita,  kelemahan para politisi,  kelemahan pejabat,  kelemahan mereka yang oportunis.  Mereka mampu meyakinkan dan menjamin bahwa kebutuhan dan keinginan kita dapat dipenuhi,  disertai keuntungan tertentu yang tentu luar biasa.    Mereka benar-benar mempengaruhi dan membius.  Ini yang mengakibatkan seorang artis tidak berkutik,  seorang presiden partai tidak berdaya,  profesor lengah,  agamawan lupa diri,  atau seseorang menjadi lupa dengan amanah tugas dan fungsinya.

Siapa sebenarnya mereka itu?  Ternyata mereka bisa berwujud sebagai kawan sendiri,  atasan kita sendiri,  atau bawahan kita sendiri,  keluarga sendiri,  kolega atau sahabat kita sendiri.    Kalaupun mereka orang yang baru dikenal,  itupun karena melalui orang-orang dekat kita sendiri.   Intinya mereka tahu kebutuhan atau keinginan kita,  sekaligus mengetahui kelemahan kita.

Jadi sebenarnya,  yang kita kenal sebagai Eyang Jujur,  Bunda Melati,  Putri Suci,  atau nama lain adalah orang yang kita ciptakan sendiri,  kita persepsikan sendiri ,  kita khayalkan mereka dapat membantu dan memberi pertolongan kita.

Para pembaca yang budiman,  saya mengajak kita semua menghentikan khayalan tentang sosok mereka.    Kita harus bersama-sama saling mengingatkan,  untuk tidak mempedulikan mereka.    Mereka tidak lebih sebagai calo,  yang mempermainkan kehidupan kita,  merusak tata aturan organisasi,  hukum dan kelembagaan negara.    Betapa banyak waktu,  tenaga dan pikiran terbuang berpolemik dengan fenomena tersebut,  termasuk dalam forum ini.

Bagi kalangan pendidik,  dosen,  tenaga kependidikan,  atau guru,  kita sudah dibekali ilmu dan karakter sebagai pembelajar.    Mari kita syukuri bekal itu dengan mendalami dan mengkaji keilmuan.   Dengan bekerja sesuai fungsi masing-masing.    Jangan menyentuh kehidupan calo,  jangan menjadi kroni para calo.    Para calo itu dapat bersembunyi di kehidupan abu-abu proyek pemerintah,   jual beli nilai,  pembuatan skripsi,  ijasah palsu,  dan klas remang-remang.    Amanah sebagai pendidik dan pembelajar kepada anak didik masih memiliki ruang yang luas untuk dikembangkan.    Kita wariskan karakter ilmu kepada anak didik.    Kita jauhkan mereka dari karakter calo.

Kita dapat hidup dengan semangat dan perjuangan kita sendiri,  tidak perlu menggantungkan kepada mereka,  calo,  broker,  penghubung atau orang-orang kepercayaan.    Mereka tidak lebih baik dibanding kita sendiri.

Kita memohon dan meminta ampun kepada Allah.    Dengan mempercayai mereka sesungguhnya kita sedang mempersekutukanNya,  menyalahi aturan dunia dan syariatNya.   Sebaiknya kita meningkatkan kepercayaan diri sesuai syariatNya.    Kita tingkatkan kompetensi kepemimpinan,  memperkuat ilmu norma dan etika,  menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi,  senantiasa membaca,  membaca dan membaca.

Lembah Panderman,  13 Oktober 2013

Tulisan ini telah terbit di kompasiana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: