Abah Hafidz, Hidup untuk Memelihara

Sebuah tanaman yang terlihat subur, cantik dan  indah, adalah hasil kerja keras dan kecintaaan dari yang memelihara.  Tanaman tersebut punya nilai tertentu karena sentuhan pemeliharaan.  Memelihara tanaman tidak sekedar menanam, tetapi totalitas memahami kehidupan tanaman, mengendalikan, membuat subur dan indah, dan melindungi tanaman dari hal-hal yang mengganggu..  Bila diselami lebih jauh maka hanya orang memiliki ilmu dan pengalaman tanaman yang akan dapat memelihara tanaman. 

Kehidupan manusia sudah seharusnya memiliki ilmu memelihara.  Memelihara kehidupan, memelihara keselarasan dan memelihara manfaat dan kebaikan.  Implementasi kehidupan agama menekankan kepada bagaimana ilmu memelihara.  Seseorang yang memiliki kemampuan memelihara kehidupan sudah barang tentu memiliki ilmu memelihara tersebut.

Keluarga besar Universitas Widyagama Malang kehilangan seorang karyawan, HM Hafidz.  Beliau meninggal pada hari Rabu, 16 Oktober 2013 karena menderita sakit dalam kurun waktu empat bulan terakhir.  Beliau dimakamkan di desa Asrikaton, Kecamatan Pakis, Malang pada hari Kamis 17 Oktober 2013. Seluruh keluarga YPPI Widyagama Malang, Universitras, STIKES, SMA dan SMK Widyagama Malang sangat berduka dan melepas kepergian beliau.

Beliau adalah sosok pemelihara sesuai dengan arti nama beliau.  Beliau bukan saja sekedar bertugas memelihara (sebagai sekretaris) takmir Masjid Al Farabi, tetapi beliau adalah seseorang yang memelihara umat.  Sosok beliau selalu ada dimana-mana, dengan mudah bergabung dengan siapa saja.  Beliau mendengar keluhan, meresapi ratapan, dan menyentuh perasaan kita semua.  Tutur kata dan ucapan beliau lembut, membuat senang dan tenang.  Kehadiran beliau memelihara hati kita semua.

Karakter memelihara dari abah Hafidz, dan yang patut diteladani adalah birrul walidain, yang artinya berbakti kepada orang tua.  Beliau sangat mencintai ibu.  Beliau memahami berbakti kepada ibu dengan pendekatan dan cara luar biasa.  Beliau sebenarnya sudah berdomisili di Jakarta.  Namun beliau hijrah ke Malang agar supaya bisa dekat dan berbakti kepada ibu. Hal ini terjadi sejak ayahanda beliau, HM Ridwan Hasyim meninggal dunia pada sekitar tahun 2007. Beliau ingin memelihara ibu secara total dalam seluruh kehidupannya.  Beliau ingin menemani, melindungi, dan membuat bahagia ibu.

Karakter seorang pemelihara tentu saja adalah orang yang berilmu dan kaya.  Ilmu laku dan spiritual beliau sangat dalam.  Beliau memiliki kekayaan hati yang luar biasa. Beliau juga mengajarkan untuk  menjadi orang kaya.  Beliau tidak pernah mengeluh meskipun kondisinya kekurangan atau terbatas. “Allah Maha Kaya, kepadaNya kita meminta” kata-kata itu sering beliau ucapkan.   Orang kaya sesunggguhnya telah memiliki segalanya, memiliki Allah.  Sebaliknya hanya orang miskin yang selalu mengeluh, merasa kurang, merajuk dan meminta.

Semoga Allah menerima amal almarhum, dan mengampuni dosa-dosanya.  Keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran.  Kita yang hidup dapat mengambil keteladanan beliau.  Selamat jalan abah Hafidz.

Sudimoro, 17 Oktober 2013

Tulisan ini telah terbit di website Univ Widyagama Malang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: