Menyaksikan Tradisi Karo di Desa Ngadas, Malang

13825113411378991172

Ilustrasi/Admin (KOMPAS.com)

Tulisan in menjadi headline di kompasiana

Pesona alam wilayah Bromo Tengger dan Semeru sudah dikenal di seluruh dunia. Pesona itu berbalut dengan kehidupan budaya penduduk asli Tengger. Momentum budaya Tengger yang populer adalah perayaan Kasodo (dilaksanakan pada bulan ke sepuluh pada kalender Saka). Upacara adat Kasodo memiliki makna penghormatan terhadap asal usul suku Tengger. Suku Tengger, menurut legenda, adalah merupakan keturunan Roro Anteng dan Joko Seger (disingkat Teng-ger).Kehidupan suku Tengger sangat kaya dengan tradisi. Salah satu momentum tradisi yang besar, selain Kasodo, adalah upacara Adat Karo atau Hari Raya Karo. Hari Raya Karo dilaksanakan mulai tanggal 7 hingga 22 bulan Karo (Karo dimaknai sebagai bulan kedua dalam kalender Saka), dengan beragam prosesi adat. Hari Raya Karo bagi suku Tengger merupakan perwujudan syukur atas berkah yang diberikan Tuhan serta penghormatan kepada leluhur mereka. Dalam tadisi Karo, berbagai ritual dilakukan antara lain Doa Petren, Kauman, Tayuban, Tumpeng Gede, Sesanti, Sedekah panggonan (tamping), dan berakhir dengan ritual Sadranan serta Ojung (sumber Suryaonline). Tradisi Karo selama kurang lebih dua minggu itu dijalankan penduduk Tengger di empat wilayah kabupaten, yakni Ngadisari-Probolinggo, Wonokitri-Pasuruan, Ngadas-Malang, dan Ranupane-Lumajang).

pengalaman mengundang penduduk Tengger di kampus, koleksi pribadi

pengalaman mengundang penduduk Tengger di kampus, koleksi pribadi

Pada tanggal 21 Oktober 2013, penulis berkesempatan mengunjungi desa Ngadas, kecamatan Poncokusumo, kabupaten Malang; untuk menyaksikan sebagian prosesi ritual tradisi Karo.Ini adalah kunjungan kesekian kalinya mengunjungi desa Ngadas, sekaligus untuk update bagi kepentingan riset penulis.Baru kali ini penulis menyaksikan dari dekat tradisi Tengger yang memang dikenal unik.

peta desa Ngadas, koleksi pribadi

peta desa Ngadas, koleksi pribadi

Penulis berangkat dari Malang jam 6.00 pagi bersama dengan Purnawan atau Pupung (Walhi Jatim, juga dosen Universitas Widyagama Malang) dan Hari (wartawan majalah Greeners).Kami sudah dikondisikan oleh pak Mulyadi (tokoh desa Desa Ngadas), agar datang awal untuk menyaksikan tumpeng gede (tumpeng besar).Persahabatan dengan keluarga pak Mul sudah lama terjalin.

13824811161795925080

gapura desa Ngadas, koleksi pribadi

Perjalanan sejauh kira-kira 48 kmini menempuh sekitar dua jam lebih.Rute sepanjang 30 km pertama merupakan jalan raya beraspal(hingga desa Gubukklakah).Namun setelah itu merupakan jalanan gunung, lebih tepatnya makadam beton, dengan sekali-kali bergelombang dan berlobang.Hanya mobil jip atau truk yang aman lewat jalan ini, dengan kecepatan tidak lebih 25 km per jam.Penulis berkali-kali lewat jalanan gunung ini, tidak pernah sedikitpun jenuh atau bosan.Pemandangan hutan gunung (pegunungan Tengger) ini senantiasa menampilkan keindahannya.Wilayah ini merupakan kawasan konservasi dalam otoritas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).Tantangan TNBTS ini sangat berat karena berhadapan dengan ancaman konservasi khususnya pada lahan-lahan penduduk.Di beberapa tempat, lahan pertanaman dibudidayakan searah kontur sehingga berpotensi erosi.Kurang lebih jam 8.15 penulis sudah memasuki pemukiman desa Ngadas.

138248091657121774

spanduk tradisi Karo, dengan foto dukun Ngantrulin, koleksi pribadi

Sesudah bersilaturahim sejenak dengan pak Mulyadi dan keluarga, penulis langsung menuju tempat tumpeng besar. Penulis diantar ke suatu pertigaan jalan desa dimana ada terop (tenda besar) dengan bunyi keramaian musik. Tenda berukuran 6 x 6 berwarna merah itu, diramaikan dengan dua spanduk perayaan Karo. Sebuah spanduk nampaknya disumbang oleh caleg DPR Pusat dapil Malang. Hal yang ironi dan mengganggu suasana tradisionil.

13824814971855539965

Ritual Karo, koleksi pribadi

Di bawah tenda terdapat panggung musik gamelan, sederet buah, makanan dan jajanan, serta dua orang tokoh (berbaju hitam berselendang kuning) yang sedang menjalani ritual tertentu.Suasana saat itu belum terlalu ramai.Nampak pula para fotografer sedang membidik dua tokoh yang sedang mendoakan seorang ibu.Sementara ibu-ibu lain mengantri di belakangnya.Mungkinkah ini ritual Kauman.Penulis sempat mendekat tenda, sambil mencari-cari tumpeng gede.Mungkin tumpeng masih disimpan.Karena kerumunan orang bertambah, penulis akhirnya mundur sambil mengamati perkembangan yang terjadi.

1382483528691053097

Penulis dan dukun Aman, koleksi pribadi

Dua tokoh nampaknya sudah menyelesaikan tugasnya.Penulis sempat berkenalan dengan dua tokoh tersebut, yaknipak Sutik dan Sutrawi.Merekaadalah dukunyang berasal dari desa Sambi Kerep.Mereka didatangkan karena dukun desa Ngadas, yakni Ngantrulin, saat ini sedang dirawat di rumah sakit. Penulis juga bertemu dengan dukun Aman (putra dukun Ngantrulin). Penulis juga berkenalan dengan pak Mujianto (kepala desa Ngadas yang baru dilantik bulan mei 2013), yang rumahnya tepat di depan tenda.

13824817081123120663

Hiburan tari Remo, tradisi karo, Koleksi pribadi

Kehadiran penduduk desa semakin ramai sehingga memenuhi jalan dan sekitar tenda.Saat itu sedang dimainkan tarian remo yang nampaknya menjadi hiburan.Tarian dimainkan oleh dua orang, yang bukan penduduk asli Ngadas; sehingga kesan hiburan semakin nyata.Bahkan nada remo pun dirubah ke dangdut.Ini kiranya yang disebut tayuban.

13824819611485334132

berebut tumpeng gede, tradisi karo, koleksi pribadi

Sekitar jam 10.00, hiburan remo atau tayuban berakhir.Penulis sedikit lengah mengamati perkembangan di bawah tenda.Kini yang nampak adalah ramainya penduduk mengambil makanan atau jajanan.Ada kesan berebut tetapi tertib.Nampak dua remaja sedang memasukkan buah dan panganan ke dalam plastik kresek.Ternyata itu bukan untuk dirinya, tetapi diberikan ke penduduk yang lain.Jumlah yang diambil pun sebenarnya relatif sedikit, mungkin hanya untuk ukuran dua orang.Pemandangan ini menarik bagi penulis.Berebut makanan itu ternyata hanya merupakan atraksi saja, semangat untuk berbagi.Kenyataannya acara hingga selesai, masih banyak jajanan tersisa di atas panggung.Dimanakah tumpeng gede? Penulis baru sadar, tumpeng gede itu adalah deretan makanan di atas panggung yang diperebutkan banyak orang tadi.Bukan nasiberbentuk gunungan seperti umumnya tumpeng.

13824822952108432262

berbincang dengan kades Ngadas, Mujianto (tengah), koleksi pribadi

Oleh kepala Desa penulis tidak diperkenankan meninggalkan tempat.Penulis dan para wartawan diminta makan.Ini saat-saat waspada karena harus mengendalikan diri terhadap makanan.Mengapa?Karena tawaran bersilaturahim (anjangsana) identik dengan makan.Kami menuju meja makan di ruang tengah dengan menu ‘daging sapi’ krengsengan dan empal. Selesai makan kami pun disediakan kopi, dengan aroma khas kopi kental.Pak Mujianto dengan ramah menjelaskan bahwa Tradisi Karo juga punya makna mengenang leluhur Tengger bernama Setya dan Setuhu.Dua orang itu bersikukuh dan terlibat pertengkaran karena memegang amanah untuk membawa keris Ajisaka (lihat ceritanya). Prosesi ritual tumpeng gede juga penuh dengan makna.Tumpeng gede merupakan sumbangan dari seluruh penduduk desa, berupa buah, jajanan dan makanan.Tumpeng gede itu sudah diberi doa-doa kebaikan dan keberkahan oleh dukun.Setelah itu, tumpeng gede diperebutkan dan dibagi kepada penduduk yang lain, terutama yang kekurangan.“Ini punya makna sejenis dengan sedekah makanan”, kata pak Mujianto.

1382480535931473713

Kami kemudian kembali ke rumah pak Mulyadi. Penulis berpikir kini saatnya persiapan untuk kembali ke Malang. Ternyata meleset. Kami diminta untuk menyaksikan ritual lainnya, yang dilakukan di (setiap) rumah penduduk Tengger. Kali ini adalah ritual Sesanti, yang dilakukan di rumah pak Sutrisno. Sesanti di rumah pak Mulyadi sudah selesai sebelumnya. Dalam ritual ini, seorang dukun (dibantu asisten dukun) mendatangi rumah penduduk untuk memberikan doa ampunan, rasa syukur, kesehatan, tolak balak dan rejeki. Di ruang tamu pak Sutrisno, dukun menghadap ke meja sesajen unik yang ditata khusus (termasuk hiasan bunga edelweis) dengan hiasan kain berwarna merah, dan tentu alat bakar menyan (dupa). Doa dilakukan tidak lebih sepuluh menit dengan mendatangi pawon (dapur). Sesajen ritual sesanti terdiri nasi, lauk dan ketan arang abang. Selesai ritual, pemilik rumah menyampaikan ucapan terimakasih dengan memberikan makanan dan angpau.

13824831981614956119

makan siang di pawon rumah pak Mulyadi, koleksi pribadi

Kami kemudian kembali ke rumah pak Mulyadi.Kami ngobrol seputaran tradisi Karo, sambil menunggu seorang dukun untuk ritual kroyan.Penulis bertanya, “Berapa rata-rata pengeluaran setiap keluarga untuk seluruh ritual Karo”. “ Tergantung, kira-kira paling sedikit tiga juta rupiah.Ada juga yang mencapai 10 juta rupiah bila ia mengundang tamu yang cukup banyak”, jawab pak Mul..Sambil menunggu kedatangan dukun ‘ngroyan’, kami diminta untuk pergi ke dapur untuk makan siang.Kali ini kami melahap menu gule ayam bumbu desa, gule tanpa santan yang sedap.Pawon atau dapur punya tempat penuh makna dalam kehidupan warga Tengger.Pawon bukan saja tempat untuk menghangatkan badan, tetapi juga untuk komunikasi, rembugan dan harmonisasi keluarga.

1382483035140481622

dukun memberi doa ritual kroyan, tradisi karo, koleksi pribadi

Yang ditunggu pun tiba.Seorang pria berbaju hitam tanpa selendang sudah di ruang tamu.Dukun kroyan itu sudah siap menyampaikan doa dihadapan meja penuh dengan makanan.Ia mengkroscek list sesajen yang ada. Makanan sudah ditata dalam wadah daun pisang yang unik, seukuran satu porsi makan.Hadir pula beberapa tetangga untuk bersilaturahim.Doa kroyan memiliki makna keselamatan, perlindungan bagi tempat-tempat seperti rumah, sungai, jalan, hutan,

1382484182156389137

Pupung, dukun kroyan dan penulis (koleksi pribadi)

dan ladang.Doa disampaikan dengan suara keras dan di’nggih’kan (maksudnya diaminkan) oleh yang hadir, selama kurang lebih lima belas menit.Selesai doa kroyan, kembali kami dan tamu mencicipi hidangan..Kenyang deh..

Ritual berikutnya adalah sedekah panggonan, atau disebut tamping.Tamping ini adalah mengirim makanan (wadah daun pisang yang sudah diberi doa dukun kroyan) ke beberapa tempat tertentu.Pak Mulyadi mengajak kami untuk pergi ke tiga tempat menuju ke arah Jemplang.Tamping itu diletakkan di

13825115301303353190

Jemplang, TN BTS (koleksi pribadi)

sekitar Jemplang, yang merupakan tempat strategis yang menghubungkan Ngadas, lautan pasir, Nongkojajar dan Ranupani.Posisi Jemplang sejauh dua kilometer dari desa Ngadas.Di Jemplang, penulis mengamati ramainya mobil parkir dan para pendaki yang mau turun ke Malang.Banyak sekali perubahan fisik di Jemplang dalam dua tahun terakhir. Jalan sudah diaspal halus.Selain bangunan warung dan area parkir, juga sedang dibangun kantor tiket TNBTS.Semoga upaya perbaikan fisik diikuti dengan lahirnya entrepreneur ekowisata sehingga memberi kesejahteraan bagi masyarakat.

Usai sudah kegiatan hari itu untuk menyaksikan acara tradisi Karo.Kami pun pamit kepada pak mul dan keluarga untuk kembali Malang.Banyak sekali pengalaman budaya Tengger didapat.Tradisi Karo ini masih belum berakhir.Pada hari Minggu 27 Oktober 2013, akan dilakukan ritual Sadranan yang dilaksanakan di makam desa. Prosesi Sadranan jauh lebih ramai dibanding ritual sebelumnya, dengan undangan yang lebih banyak. Penduduk dengan pakaian baru mengunjungi (nyekar) makam keluarga, kerabat, atau orang-orang yang dihormati.

Lembah Panderman, 23 Oktober 2013.

One Response to Menyaksikan Tradisi Karo di Desa Ngadas, Malang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: