Menyaksikan Tradisi Karo di Desa Ngadas, Malang

17/12/2013
13825113411378991172

Ilustrasi/Admin (KOMPAS.com)

Tulisan in menjadi headline di kompasiana

Pesona alam wilayah Bromo Tengger dan Semeru sudah dikenal di seluruh dunia. Pesona itu berbalut dengan kehidupan budaya penduduk asli Tengger. Momentum budaya Tengger yang populer adalah perayaan Kasodo (dilaksanakan pada bulan ke sepuluh pada kalender Saka). Upacara adat Kasodo memiliki makna penghormatan terhadap asal usul suku Tengger. Suku Tengger, menurut legenda, adalah merupakan keturunan Roro Anteng dan Joko Seger (disingkat Teng-ger). Read the rest of this entry »


Ramai-2 Mengembangkan Desa Wisata

26/05/2013

Akhir-akhir ini pesona desa mulai terlirik.  Kata ‘terlirik’ bermakna ketidak sengajaan, suatu persepsi yang agak bias ke para wisatawan, backpacker, traveller, atau petualang.  Ini hal alamiah.  Kemajuan atau perkembangan ekonomi secara tidak sengaja menyentuh alam pedesaan.  Aliran barang, jasa dan orang masuk menjangkau ke wilayah pedesaan dengan berbagai tingkatan.   Ada desa-desa yang terakses minim, sehingga lingkungannya masih khas alam desa.  Namun ada juga, desa yang benar-benar sudah terbuka sehingga lingkungannya hampir tidak berbeda dengan kota.  Namun, dorongan permintaan para traveller nampaknya tidak berhenti.  Traveller ingin mengangkat/menikmati pesona desa bukan hanya dari perihal pertanian (atau sektor primernya), tetapi juga aspek lingkungan dan budayanya.    Permintaan traveller nampaknya mulai disambut positif oleh penduduk desa.  Ada yang sudah berhasil, namun ada juga yang masih tertatih-tatih.  Tulisan ini mencoba mendiskripsikan pengalaman penulis perihal fenomena berkembangnya desa wisata. Read the rest of this entry »


Wakatobi (6): Keliling (Survei) Wangi-wangi

29/07/2012

Selesai diskusi, peserta diminta ikut survei lokasi rumah apung.   Dinas Perikanan dan Kelautan sudah menyusun rencana survei lokasi terbaik, disesuaikan dengan keterbatasan waktu.  Survei lokasi memilih dua tujuan alternatif, yakni lokasi 1 di sekitar barat daya Pulau Wangi-wangi dan lokasi 2 di sekitar matahora (lihat peta).  Menuju lokasi 1, peserta menggunakan perahu boat.  Setelah itu pulang kembali ke Wanci, dan dilanjutkan naik mobil menuju lokasi 2. Read the rest of this entry »


Wakatobi (5): Diskusi ekowisata yang sejuk

24/07/2012

Sebagaimana rencana awal, sharing dengan stakeholder ekowisata di Wakatobi akan dilaksanakan pada tanggal 16 juli 2012.  Penulis pada prinsipnya mengalir mengikuti acara dari pihak tuan rumah.  Siapa tuan rumahnya atau sebagai host? Penulis belum ada informasi lengkap, namun kepastiannya akan diberitahu setelah pak Rido Batubara (Kasubdit Sarana Prasarana KP3K) sudah hadir di Wanci sekitar jam 12.00.  Oleh karena itu, sejak pagi itu penulis memanfaatkannya dengan jalan kaki dan berputar-putar di sekitar pasar pagi dan pasar Mola, menikmati kehidupan sosial ekonomi masyarakat.   Hasil laporannya disajikan dalam tulisan terpisah.  Setelah berputar-putar di sekitar Wanci, kami kembali ke hotel. Read the rest of this entry »


Wakatobi (4): Makan ikan

24/07/2012

Ke Wakatobi,.. memang harus makan ikan.  Para pengunjung atau wisatawan sejak awal harus mempersiapkan diri untuk makan ikan sepanjang hari.  Dan ini sangat baik.. dan sangat sehat.  Lingkungan perairan Wakatobi yang merupakan wilayah konservasi terumbu karang adalah sumber kehidupan dan habitat pembiakan bagi ikan dan biota lainnya.  Itu sebabnya produksi perikanan di wilayah ini sangat tinggi.  Para nelayan dari suku Bajo punya karakter kuat dalam kehidupan di laut.  Kehidupannya tidak dapat terpisah dari laut, karena mereka memang tinggal dan bermukim di laut.  Sangat sulit memindahkan kehidupan mereka menuju darat.  Merekalah yang terutama yang mensuplai ikan di pasar Wanci, atau bahkan di wilayah Sulawesi umumnya. Read the rest of this entry »


Wakatobi (3): Sensasi pantai Waha

23/07/2012

Pergi ke Wakatobi hanya dua hari memang tidak cukup.  Pernyataan itu beberapa kali disampaikan oleh setiap orang yang kami temui.  Terakhir hal itu disampaikan oleh ibunya pak Hardin saat kami mau kembali ke Malang.  “Datang lagi ke Wakatobi”, katanya tegas.  “Kalian harus pergi ke Kaledupa, pergi ke pulau Hoga.  Disana pemandangannya sangat bagus.  Kami punya rumah dan banyak famili disana, kalian bisa menginap disana”, lanjutnya.  Pernyataan beliau itu memiliki makna mendalam buat penulis.  Pertama, harus diakui Wakatobi memang sangat indah dan berkesan.  Wilayah ini selain memiliki keindahan ekologi juga budaya yang mendukung. Masyarakatnya sangat terbuka dan terbiasa dengan pendatang. Nampaknya memang perlu kembali lagi kesana.  Kedua, penulis menemukan kehidupan dengan ikatan persaudaraan yang tinggi.  Interaksi dengan beberapa orang memang tidak intensif, namun keberadaan putri penulis nampaknya mengakrabkan dengan ibu-ibu disana.  Bahkan putri penulis terharu dan matanya berkaca-kaca saat pamit kembali ke Malang. Read the rest of this entry »


Wakatobi (2): sedang tumbuh dan berkembang

23/07/2012

Sejak awal kedatangan ke Wakatobi, pikiran selalu optimis wilayah ini akan cepat maju.  Otonomi daerah pasti berdampak positif bagi pembangunan dan kesejahteraan dengan berbagai dinamikanya.  Tanda-tanda itu mulai nampak ketika menyaksikan jalanan, lingkungan pemukiman, atau bangunan fisik layanan pemerintahan lainnya. Hal yang tidak bisa dibohongi, Wakatobi sudah terlanjur dikenal di seluruh dunia.  Keunggulan ekologi perairannya, telah mendatangkan arus orang (termasuk warga asing), barang dan jasa (penunjang) lainnya  memperkuat ekonomi wilayah ini.  Semuanya berinteraksi dan bersinergi bagi tumbuhnya aktivitas ekonomi wilayah kepulauan ini.    Read the rest of this entry »